Year 2014 : The Year of God Opening Doors for Miracles

Tuesday, July 6, 2010

Coffee House Page 4

Han Ji Won membaca dan mempelajari buku tentang UFO, hmm teleport (bisa berpindah), mungkin ini benar2. Tiba-tiba stafnya masuk memberikan paket. Ji Won heran siapa yang mengirimnya? Tapi tidak ada nama pengirim. Isi paketnya : dompet dan ponsel milik Ji Won.

Ji Won awalnya lega, tapi ia lantas curiga, apalagi uangnya masih utuh. Siapa yang mengirim, bagaimana orang itu tahu alamatku? Ini tidak benar, alien tidak akan mengirim ini dengan paket (hahaha alien...astaga). Ji Won kelihatan bingung, ada apa? stafnya heran.
Ji Won : Kunci mobil. Mengapa mereka tidak mengembalikan kunci mobilku?

Kuncinya ada di tangan Lee Jin Soo. Jin Soo tanya apa Seung Yeon bisa menyetir mobil. Seung Yeon mengiyakan, apa Bapak beli mobil? Tidak jawab Jin Soo.
Jin Soo : Pergilah ke parkir di basement, tekan saja tombolnya, kau akan tahu kunci ini milik mobil yang mana.
Seung Yeon : Apa?

Akhirnya Seung Yeon pergi juga dan membawa mobil itu ke lokasi tertentu. Jin soo : Keluarkan mobil itu dan parkir di sana. Seung Yeon tidak mengerti tapi ia menurut ketika diminta parkir di lokasi pembangunan.


Ji Won pergi ke apartemen Jin Soo dan berkata apa alien bisa seperti itu? Mereka bahkan mengirim paket, itu pasti perbuatan manusia.

Seung Yeon pulang dan berkata, Oh, esnya, aku..tapi Jin Soo memberi isyarat untuk diam.
Ji Won mengeluh, ah semua ini sudah menyiksaku. Jin Soo : Argh..orang itu, apa mungkin adalah penguntit yang menyukai Presiden Seo?

Ji Won tidak mengerti, penguntit? Jin soo berkata orang itu sudah menyukai Presiden secara diam2 dalam beberapa tahun dan melihatmu tiba2 muncul pasti membuatnya gila, jadi untuk memberimu peringatan, dia bahkan mengirim-mu ke tempat terasing itu.
Ji Won parahnya, percaya. Ya itu mungkin. Jin soo : Tentu saja..hati2 jika kau terlibat dengan orang seperti itu, itu berarti masalah.

Jin Soo : Aku pernah pergi ke RSJ untuk melakukan interview. Ada banyak orang yang jadi gila karena masalah cinta.
Ji won masih bingung tiba2 ponselnya bunyi. Jin Soo : Tunggu dulu. Itu bisa saja orang itu, mungkin ia ingin bicara denganmu, itulah mengapa ia mengirimkan ponselmu kembali. Jangan gugup. Angkat saja. (lama2 aku kena sindrom Jin soo, otak-ku bisa ikut kreatif ngerjain orang hahaha..ngga ding)

Ternyata dari pekerja bangunan, Apa kau pemilik mobil dengan nomor 6338? Ji Won membenarkan, kau siapa? Pekerja itu berkata, cepat datang dan pindahkan mobilmu, kau memarkir mobil di lokasi konstruksi dan langsung pergi begitu saja?

Ji Won bingung sekali, bagaimana mobilnya bisa disini? Pekerja itu berkata dalam lima menit, kau harus segera memindahkannya atau aku akan menghancurkannya.
Ji Won kesal, hei, apa kau tahu mobil ini mahal sekali? Aku akan segera memindahkannya...

Setelah Ji Won pergi. Jin soo ketawa geli. Seung Yeon tidak senang dan Jin soo justru tanya apa kau yakin kau parkir di pintu masuknya? Hei ada apa dengan ekspresimu? Baik aku tebak ya :
"Orang ini akhirnya gila dan melewati batas. Menyiksaku masih belum cukup dan sekarang dia memanfaatkan-ku untuk menyiksa orang lain. Mengapa aku memutuskan untuk menjadi sekretarisnya? Ketika ayah minta aku mengundurkan diri Seharusnya aku mendengarnya,"

Seung Yeon melongo dan berpikir bagaimana ia bisa tahu, Terus Jin soo berkata : "Tapi apa kau pernah berpikir? Untuk benar2 menyiksa seseorang, kau perlu waktu, uang, dan usaha. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Apa kau tidak pernah berpikir itu? Kepada orang yang kau benci, mudah untuk marah padanya. Seperti kali pertama aku melihatmu, dan kau marah pada pacarmu. Tapi kau menggunakan otakmu dan membuatnya mundur otomatis. Itu tidak mudah, aku mengajarkanmu itu".

Kasihan Ji Won, di lokasi konstruksi, dia harus menghadapi sekelompok pekerja yang kesal dan menyuruhnya cepat2 membawa mobilnya pergi, sayangnya Ji Won tidak punya kuncinya. Maaf aku kehilangan kunciku, untuk buat kunci baru butuh waktu.
Pekerja itu tambah marah, kau main2 ya denganku?

Ji Won berusaha menenangkan mereka dan minta Jin Soo datang membantunya. Kemudian ada kurir datang, apa anda Tuan Han Ji Won? Ini ada paket untuk anda. Ji Won heran, bagaimana orang itu tahu aku di sini?
Ternyata itu paket es balok plus kunci mobil Ji Won di dalamnya. Beku. (benar2 otak kreatif yang gila.)

Semua bingung, apa-apaan ini, para pekerja akhirnya membantu Ji Won, mereka memukul es balok itu, mencungkil2nya, bahkan membakarnya. Akhirnya Ji Won berhasil mengeluarkan kunci mobilnya, ah berhasil! Ini benar2 berhasil ahahaha. Pekerja itu minta Ji Won segera pergi.
Ji Won pergi dengan malu, maafkan saya.

Di dalam mobil, Ji Won menemukan surat peringatan, Jika kau terus mendekati Seo Eun Young. Aku akan membuatmu seperti kunci mobil itu.

Ji Won menelepon Jin Soo, ini benar2 membuatku ketakutan. Aku tidak tahu orang gila mana yang melakukannya.
Jin soo : Aku sarankan kau jangan mencarinya (Eun Young) dulu beberapa hari ini.

Ji won : Mengapa? Apa aku harus memanggil polisi?
Jin Soo : Tentu saja tidak, orang gila seperti itu jika kau membuat mereka marah, maka sesuatu yang besar mungkin akan terjadi.
Ji Won : Eun Young..aku harus memperingatkannya.
Jin Soo : Jangan, kau hanya membuatnya takut. Katakan kalau kau sudah yakin situasinya.
Ji Won : Benar, kalau begitu ini rahasia kita.
Jin Soo : Beberapa hari ini, kau jangan menelepon Presiden Seo, jangan datang ke coffee shop-nya juga, orang itu mungkin akan mencuri dengar atau bisa saja ia adalah pelanggan di cafe. Jadi lebih baik tidak membuatnya kesal.

Seung Yeon mengamati Jin soo dan berpikir, ya untuk mengerjai seseorang kau harus melakukannya seperti ini agar terlihat benar2.
Jin soo : hei! apa?
Seung Yeon berkata ia senang, karena pada akhirnya bukan hanya dia yang bodoh, ada orang lain yang juga bodoh. Dia (Ji Won) itu awalnya waras, tapi kau mengerjai-nya seperti ini yang cukup membuatnya seperti itu (jadi gila). Jadi kau tidak mengerjai aku karena aku bodoh, tapi karen kau sangat bagus dalam mengerjai orang. Jika kau ini penipu kau sudah menghianati negaramu paling tidak dua kali.

Jin soo : Apa kau memujiku?

Eun Young di kantornya, dan ia menyadari sesuatu, tunggu..dia tidak menelepon-ku sekalipun hari ini, dia tidak mengirim sms, atau juga datang ke cafe. Apa benar2 sudah beres?

Eun Young tersenyum senang, Pengarang Lee. Kau sudah patuh akhir2 ini, Eun Young menempelkan stiker bunga ke poster Jin soo, oh tampannya dan menepuk2 kepalanya.

Seung Yeon pulang dengan bis, dia melihat Manager Dong Wook duduk di depannya. Seung Yeon mendatanginya, maaf manager. Tapi Dong Wook menjawab. Seung Yeon minta maaf karena sudah mengiranya bisu, aku tidak tahu kalau kau itu memang pria pendiam. Aku minta maaf.

Dong Wook berkata tidak apa-apa. Seung Yeon lega. Tapi justru keduanya jadi kikuk. Seung Yeon tanya dimana asalmu? Daegu, kata Dong Wook. Ah aku belum pernah ke sana, apa bagus tempatnya?
Dong Wook : Iya. (haha..kebayang kan jawaban cowoknya pendek2 )
Seung Yeon : Ah kau benar2 tidak banyak omong, ya sudah dengar musik saja.

Tapi Dong Wook justru melepas earbud-nya. Tidak apa2 kata Seung Yeon, aku juga mau mendengar musik dan mau mengambil mp3-nya sendiri. Tapi Dong Wook justru mengambil earbud-nya lalu menempelkan ke telinga Seung Yeon. Wow romantis ..kelihatannya.

Dengar kata mereka dalam hati :
Seung Yeon : Apa ini? Aku tidak bilang mau mendengar musik sama-sama. Tapi jika aku bilang aku tidak mau mendengarnya sekarang, pasti akan sangat memalukan.
Dong Wook : Gadis2 sekarang sangat terus terang. Kita bahkan belum begitu kenal, tapi dia mau dengar musik bersama. Padahal aku mau mendengarnya sendirian.
Seung Yeon : Aneh sekali...benar2 aneh
Dong Wook : Sangat aneh...benar2 aneh

Paginya, Seung Yeon mampir ke cafe dan karyawan cafe mengatakan kalau Seung Yeon bisa mendapatkan kopi gratis, karena ia kerja di sini. Staf cafe juga heran, beberapa hari ini jarang melihat Seung Yeon. Seung Yeon berkata : Dia (Jin Soo) berkata tidak membutuhkanku dan aku bisa istirahat beberapa hari.
Karyawan di cafe kagum, wah andai aku juga bisa libur, enak ya jadi sekretaris penulis. Seung Yeon berkata kalau kau tahu apa yang harus kulakukan sebulan ini, kau tidak akan kagum lagi.

Seung Yeon mengunjungi Jin soo dan heran mengapa apartemen-nya gelap sekali? Pintunya tidak terkunci, dan Seung Yeon tidak sengaja menyenggol barisan kartu domino dan jatuh kemudian melihat Jin soo dalam ekspresi tidak karuan.

Seung Yeon : Mengapa kau?
Jin Soo : Itu belum selesai...pulang saja
Seung Yeon : Apa? Aku baru saja datang untuk kerja..
Jin soo : Aku sedang mengalami kebuntuan jadi tidak ada yang bisa kau lakukan. Pulang saja. Libur sehari lagi.

Paginya, Seung Yeon datang lagi. Jin Soo : Aku lupa menelepon, kau tidak perlu datang hari ini.
Seung Yeon : Apa? Tapi aku sudah datang.
Jin soo berkata kau pasti lelah juga, apa kau sudah melakukan sesuatu yang aku setujui? Seung Yeon mengaku belum ada. Jin soo : 10 pensil ditolak 5 kali sehari, itu berarti kau menghabiskan paling tidak 50 pensil per hari.
Kalau sebulan, berarti kau sudah meraut 1500 pensil! Kopi ditolak 10 kali sehari. Itu artinya kau sudah membuat 300 cangkir. jadi, kau seharusnya tahu sekarang, iya kan? apa kau bisa membantuku atau tidak? Jadi pulanglah.

Seung Yeon : Pak.
Jin soo : Aku belum tidur, otakku ingin mogok. Aku tidak bisa menulis jadi aku tidak bisa menyuruhmu melakukan apapun. Sekarang, yang bisa kau lakukan bagiku hanya meraut pinsil dan membuat kopi tapi kau tidak bisa melakukannya juga.

Seung Yeon : Aku sudah meraut pinsil dan membuat kopi.
Jin Soo: Jadi kau tidak perlu disini, pulanglah.

Seung Yeon : Pak aku bisa membantumu menghilangkan stressmu.
Jin Soo : Apa kau tidak ingat, untuk mengerjai seseorang kau perlu waktu, uang dan usaha, dan aku tidak punya itu sekarang.

Seo Eun Young berusaha menghubungi Jin soo. Eun Young kesal sekali, dia masih tidak mengangkat telpnya, pasti dilemparkan ke tong sampah lagi, apa kau tahu no. telp sekretarisnya?

Eun Young heran, kau dirumah? Kau diliburkan selama seminggu? Seung Yeon berkata dia bilang jangan masuk. EUn Young bingung, apa yang terjadi? Apa mungkin, ia main dengan domino-nya ?
Seung Yeon membenarkan, bagaimana kau bisa tahu? Eun Young mengeluh, ah dia mulai lagi, dia main domino, berarti skripnya akan molor. Aku harus menemuinya sekarang ah tapi aku ada di Busan.

Eun Young minta Seung Yeon pergi ke apartemen Jin soo, kalau ia tidak ada, masuk dan periksalah, pasti ada obat tidur. Seung Yeon kaget, obat tidur? Presiden sebenarnya apa yang terjadi?

Eun Young kesal, mengapa ini harus terjadi ketika ia di Busan. Tapi astaga, siapa itu..? Eun young melihat Ji Won, dan ia bergegas menghindar. Stafnya heran, presiden ada apa? Eun Young panik.

Ji Won melihatnya dan dia menahan lift Eun Young! Seo Eun Young! Eun Young : Direktur? mengapa kau disini? Ternyata Ji Won juga ada pertemuan di Busan. Ji Won senang sekali bertemu Eun Young karena dia dengan sengaja menghindari Eun Young karena takut dengan penguntit itu.

Ji won dengan menggelikan terus mengamati orang2 disekitar mereka yang mencurigakan. Dia mencurigai orang dengan tutup hidung karena flu :)

Ji Won mengetuk pintu kamar Eun Young, Eun Young ada yang harus kukatakan. Ini sangat penting yang bisa mempengaruhimu. Siapa lagi yang mencemaskanmu kalau bukan aku? Buka pintu!
Eun Young akhirnya mengundang Ji Won masuk dan menawarkan anggur. Eun Yong berkata tapi tidak ada makanan untuk mendampingi anggur ini. Ji Won : Lalu? Eun Young : Kau suka keju? Ayo pesan keju. Eun young baru akan menelepon room service ketika tiba2 ada ketukan di pintunya.

Siapa? Room Service. Eun Young heran (atau pura-pura), bagaimana bisa? aku baru saja berpikir untuk memanggil room service. Eun Young heran dan melihat yoghurt yang dikirim. Apa ini? kita tidak memesan ini.
Ji Won kaget, kau tidak pesan yoghurt? Eun Young : Tidak. Siapa yang memesan-nya?
Ji Won : Jangan memakan-nya!(Ji Won pikir dari si penguntit itu) Jangan menyentuh benda itu! Ji won keluar.

Eun Young : Hei kau mau kemana?
Ji Won : Tinggal di sini saja dan jangan bergerak! Jangan menyentuhnya, Itu sangat berbahaya. Aku yakin itu kiriman orang dengan tutup muka itu!

Ji won keluar dan mengejar bayangan seseorang. Eun Young mendesah, dia memang bodoh. Ji Won akhirnya menuju ruang room service dan mendengar pelayan hotel sedang bicara di telp. Ji Won langsung tanya, makanan itu sudah dipesan sebelumnya oleh pria yang kau telepon itu kan?
Pelayan itu menjawab : iya.
Ji Won : Kau harus jujur, seperti apa pria itu?
Sekarang pelayan itu bingung, dia bukan pria tapi seorang wanita. Wanita yang ada di kamar itu yang memesan yoghurt-nya.

Ji Won : Apa? itu tidak mungkin. Ji Won mulai bingung dan menyadari sesuatu.

Seung Yeon gelisah, dia berkata dalam hati, semuanya akan baik2 saja kalau aku tidur. Seung Yeon benar2 gelisah dan mencemaskan Jin Soo. Siapa lagi yang akan menjaga-nya? Lagipula aku ini sekretarisnya.
Seung Yeon bahkan membayangkan Jin soo over dosis obat tidur.

Seung Yeon tidak tahan dan pergi ke apartemen Jin Soo, tapi dia takut membangunkan Jin Soo. Justru saat itu, Jin Soo menelepon-nya, Jin Soo minta maaf dan minta Seung yeon datang. Jin Soo kaget saat Seung Yeon sudah langsung sampai (ha, orang sudah di depan), Kau cepat sekali. Apa kau naik taksi?

Maaf membuatmu datang malam-malam. Seung Yeon berkata tidak apa-apa, aku juga tidak bisa tidur. Jin Soo heran mengapa?
Seung Yeon tidak mengaku kalau ia cemas, ia hanya berkata hanya banyak pikiran. Pak, apa kau memanggilku karena kau tidak tahu bagaimana menulis cerita? Aku tidak bisa membantumu kalau itu. Tapi kalau kau mengatakan isi ceritanya sedikit saja maka aku bisa...

Jin Soo : Kesini dan berbaring di sini. Jin Soo menunjuk sebelah tempat tidurnya.
Seung Yeon ; Apa?
Jin Soo : Aku biasanya tidur sekitar jam segini, tapi aku tidak bisa tidur beberapa hari ini karena suara berisik. Aku harus tidur hari ini.

Seung Yeon : Jadi, mengapa kau memanggilku?
Jin Soo : Apa kau benar2 berpikir aku menginginkan inspirasimu?

Seung Yeon merasa kikuk dan ia langsung bangun.

Jin Soo : Berbaringlah di sini.
Seung Yeon : Tidak. Aku bisa mendengarnya meskipun aku duduk.
Jin Soo : Suara itu yang kumaksud hanya bisa didengar kalau kau berbaring dengan tenang.

Jadi mau tidak mau Seung Yeon tidur di samping Jin Soo kembali. Kau harus mendengarnya.
Seung Yeon berkata dia tidak mendengar apa-apa. Belum waktunya kata Jin Soo. Kau mendengar suara gitar? Seung Yeon mengaku tapi suaranya kecil sekali.

Jin Soo : Orang itu latihan gitar setiap dini hari dan akhir2 ini ia memainkan Romance. Kau dengar kan?

Jin Soo : Suara lainnya bisa kau dengar kalau kau menempelkan telingamu seperti ini di tempat tidur.

Seung yeon mengikutinya tapi justru kaget karena wajahnya dekat sekali dengan wajah Jin Soo. seung Yeon buru2 berbalik, untungnya Jin Soo menutup matanya. Suara kedua : Sepertinya seseorang sedang berlatih lompat tali.

Jin Soo : Ada satu suara lagi, suara yang sangat menjengkelkan. Seung Yeon tidak mendengar apapun. Jin Soo menyuruhnya konsentrasi.
Seung yeon tertawa geli, itu orang lagi nonton film porno. Jin Soo ngomel, si brengsek itu menonton film porno setiap hari selama 365 hari. Selalu di jam segini. Seung Yeon berkata ia bisa mendengarnya.

Jin Soo : Ok, jadi pergi dan temukan mereka.
Seung yeon : Apa?
Jin Soo : Pergi dan temukan orang2 itu dan selesaikan masalah untuk-ku.
Seung Yeon : Sekarang?
Jin Soo : Kapan lagi? Jika tidak sekarang, bagaimana aku akan tidur??
Seung yeon : sendirian?
Jin Soo : Aku ini lelaki, jadi aku tidak bisa pergi, apa kau ingin aku berkelahi dengan orang lain? Mengapa aku menggaji sekretaris kalau begitu?

So, Seung yeon langsung menjalankan tugasnya. Satu per satu ia mengetuk pintu apartemen tetangganya, maaf apa anda bisa...
Maaf, anak kami selalu terbangun, apa kau bisa mengecilkan volumenya? Dan Seung Yeon sukses. Jin Soo akhirnya tertidur dengan senyuman.

Seung yeon kembali ke apartemen, ia senang karena berhasil dan melihat Jin Soo sudah tidur. Seung Yeon tidak mau membangunkan Jin Soo dan tersenyum memandang bossnya yang tidur pulas. Seung Yeon membuka kacamata Jin Soo, mematikan lampu dan berjingkat keluar.

Ini memberi kesempatan Seung Yeon mencari obat tidur sesuai perintah Eun Young. Dan Seung yeon menemukan obat itu di laci.

Seung Yeon juga sempat membaca skrip Novel Jin Soo.

Ternyata novelnya dibuka dengan adegan seorang wanita yang sedang hula hop di malam hari. Ini menyadarkan Seung Yeon ternyata selama ini Jin Soo menyuruhnya aneh2 memang karena ada alasannya. Ternyata memang jerih payahnya tidak sia-sia.
Seung Yeon mengganti obat tidur Jin Soo dengan vitamin dan membuang isinya ke tong sampah. Seung Yeon juga mencabut kabel telp agar Jin Soo bisa istirahat dengan baik. Seung Yeon pergi diam2 dan puas dengan dirinya sendiri.

Lalu diluar dia terpeleset dan jatuh di tangga. Ibu cleaning service kaget, oh Tuhan, siapa itu? Apa kau tergelincir? hati2 kau mau kemana malam2 begini?
Seung yeon : Bibi, tolong tenang, semua sedang tidur sekarang.
Bibi : Oh lihat darahmu.
Seung yeon berusaha agar Jin Soo tidak terbangun dan ia pulang.

Tapi Bibi itu justru membangunkan Jin Soo. Ehm..ada gadis yang sering keluar masuk ke tempat ini. Dia sekretaris atau semacamnya. Gadis itu jatuh di tangga dan lukanya serius sekali.
Jin Soo kaget sekali : Apa?
Bibi : Apa aku harus mengejarnya? sangat menakutkan. Aku dengar ia bilang akan ke UGD tapi aku tidak tahu telp-nya.
Jin Soo : Kemana dia pergi?
Bibi : Dia bilang dia akan ke RS dan pergi dengan taksi.

Kemudian Jin Soo mencari ponselnya, ia benar2 terbangun dan sudah segar. Jin Soo tidak bisa menemukan ponselnya karena kali ini justru Seung Yeon yang menyembunyikannya. Lalu Jin Soo keluar dan cari telp umum.
Jin Soo mulai menelp setiap RS dan mencari Seung yeon. Halo? apa aku bisa tanya, ada seorang gadis bernama Kang seung yeon disitu? eh..usianya baru 20 th dan rambutnya pendek. Tidak ada? Apa ada UGD yang lain? dan terus seperti itu.

Jin Soo sangat gelisah dan ia tidak sadar sudah pagi. Eun Young menuju apartemen Jin Soo, benar, aku tidak bisa meninggalkannya biarpun hanya beberapa hari, pasti selalu ada yang terjadi kalau aku tidak ada. Eun Young tiba di apartemen Jin Soo dan heran, apa yang kau lakukan?
Jin Soo bingung mencari telp-nya. Aku tidak tahu dimana ponselku. aku tidak bisa menemukannya. Wow pertama kali dalam sejarah, Lee Jin Soo mencari ponselnya! Akhirnya Jin Soo menemukan ponselnya, ternyata disembunyikan di mesin cuci bwa hahaha..

Eun Young melihat Jin Soo yang gelisah dan menyalakan telpnya, tapi tidak menelepon, justru menunggu telp masuk. Jin Soo duduk dengan tegang, menunggu telp dari Seung Yeon wow...(Soalnya Jin Soo tidak punya telp Seung Yeon)

Ternyata telp Seung Yeon rusak ketika ia jatuh. Ia minta Kang seung Chul mengirimnya ke reparasi. Kemana kau kirim telp ku? Seung Chul berkata aku sudah mengambilnya kembali dan aku meletakkan disana.
Seung Yeon : Kapan?
Seung Yeon mengecek ponselnya ternyata ada banyak pesan, ia heran no siapa ini?
Pesan 1 : Ke RS mana kau pergi? Cepat telp kantor begitu kau dengar pesan ini!

Seung Yeon : Jam 5 pagi? oh tidak...ini sudah jam 5 sore!

Sementara itu Jin Soo dan Eun Young menunggu telp Seung Yeon. Eun Young tanya dia belum juga menelpon? Apa lukanya serius? Akhirnya keduanya naik mobil mencari Seung Yeon.
Seung Yeon yang melihat pesan Jin Soo bergegas ke apartemen Jin Soo dan berusaha mencari taksi.

Mereka bertiga bertemu di jalan. Seung yeon : Pak? Presiden?
Jin Soo : Bagaimana kau ini sebagai sekretaris, tidak menghiraukan pesanku?
Seung Yeon : Ponselku rusak, aku baru saja mendengar pesanmu.

Jin Soo : Hidungmu bagaimana? Apa serius?
Seung Yeon : Tidak apa-apa, hanya bengkak, mereka bilang bengkaknya akan hilang setelah beberapa hari.

Seung yeon berkata dia hanya tidak ingin membangunkan Jin Soo. Aku minta maaf. Jin soo tanya mengapa kau membuang ponselku ke mesin cuci?
Seung Yeon beralasan dia hanya ingin Jin Soo tidur tanpa gangguan.

Setelah Jin Soo tenang karena sekretarisnya baik2 saja, dia minta Eun Young menepi dan minta Seung Yeon turun agar bisa pulang. Seung Yeon berkata dia siap kerja, tapi Jin Soo berkata dia ingin tidur.
Jin Soo masuk mobil lagi dan kemudian keluar dan memberikan buku catatan : berikan no telpmu. Jika aku tidak bisa mengontak ponselmu, aku tidak akan bisa mengontakmu. Oya, seperti apa orang yang nonton film porno itu?

Seung Yeon : Aku kira usianya sekitar 45-an tahun, dan dia kelihatan baik dan juga merasa malu.
Jin Soo tersenyum ya aku pikir juga begitu.
Seung Yeon : Jadi mulai Senin aku bisa kerja lagi?
Jin Soo : Datanglah besok pagi.
Seung Yeon : Besok pagi?
Jin Soo : Jika tidak ada orang jadi ...sedikit tidak enak.

Jin Soo kembali ke dalam mobil. Eun Young heran, hidungnya terluka tapi ia kelihatan senang sekali, bukankah kau bilang ia itu bodoh? Eun Young mengusulkan apa Jin Soo mau ganti asisten saja?
Jin Soo : Untuk pertama kalinya dalam sebulan, aku akhirnya bisa sekali hari ini, untuk sekitar 30 menit....Aku belum bisa tidur selama ini.

Eun Young tahu maksudnya tapi dari cara Jin Soo mengatakannya, dan juga senyum aneh-nya membuat Eun Young merasa aneh.


Sementara itu, Han ji Won mulai berpikir...jadi ini bukan dilakukan oleh Eun Young sendiri, ini semua sudah direncanakan. Lalu siapa? Siapa yang membantu Eun Young? dan ..ah benar..
Ji Won berpikir : mengapa aku harus memikirkan penguntit? Masih ada orang yang tahu aku dengan baik. No telp-ku...Alamatku...Mobilku dan Eun Young..orang yang mengerti aku dengan baik..Ada orang seperti itu, iya kan? LEE JIN SOO!! si brengsek itu..!

Malam itu, Seung Yeon memutuskan untuk berlatih meraut pinsil, dan sangat bahagia dengan perkataan terakhir Jin Soo.
"Jika tidak ada orang jadi ...sedikit tidak enak."
Seung Yeon mengganti kata-katanya :
"Jika tidak ada orang, tidak enak"
Kemudian mengganti kata orang dengan namanya..
"Jika tidak ada Kang Seung Yeon, tidak enak."

Seung Yeon bersorak. Kang Seung Yeon harus disini!

Lalu dia mulai menyelidiki cara meraut pinsil itu dengan lebih seksama...

Di apartemen-nya, Jin Soo juga melakukan hal yang sama.......

Page 3
Page 2
Page 1

1 comment:

  1. waw... kalo dilihat-lihat...
    kayaknya ni serial lucu deh...
    kayak agak konyol gimana gitu...
    tapi aku gak tahu juga...
    masih mau baca dulu ah...
    thanks ya kak Tirza

    ReplyDelete