Year 2014 : The Year of God Opening Doors for Miracles

Thursday, July 31, 2014

Joseon Gunman episode 2


Yoon Kang bertemu Soo In yang menyamar menjadi pria, dia curiga dan menghadang Soo In. Yoon Kang ingin "pria" itu membuktikan kalau dia memang tidak ada hubungannya dengan si penembak itu.
Soo In mengarahkan pistolnya pada Yoon Kang, tangannya gemetaran. Soo In memperingatkan Yoon Kang untuk tidak gegabah, karena ia memegang pistol. Yoon Kang tidak bisa melawannya dengan pedang biasa.

Yoon Kang tersinggung dengan kata-kata Soo In. Ia menghunus pedangnya lalu menyerang. Soo In panik, ia menjerit lalu menekan pelatuk pistolnya.
Di saat bersamaan, Si penembak juga mengamati Guru Oh Kyung dan mulai membidik.
Untunglah Ins. Park datang tepat waktu dan berhasil mendorong Oh Kyung menghindari tembakan. Ins. Park menyuruh Oh Kyung pergi. Ia segera mengejar si penembak itu.


Soo In melepaskan tembakan dan Yoon Kang membeku di tempatnya. Wajahnya pucat pasi. Ia terbata-bata, pedang...pedangku..
Yoon Kang sadar, tembakan itu berhasil mematahkan pedangnya menjadi dua! Ia menoleh ke belakang dan melihat patahan pedangnya.


Soo In gemetaran, ia teriak dengan berurai air mata, Sudah kubilang jangan lakukan! Kau hampir saja mati! Aku hampir membunuhmu! Soo In menangis ketakutan.
Yoon Kang mengerti "pria" di depannya memang bukan si penembak itu. Ia tampak bersalah, kau..benar-benar bukan dia? Katakan. Ini yang terakhir kalinya.

Soo In benar-benar stres, kalau aku adalah orang yang membunuh para pelajar, kau sudah mati sejak dulu. Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mendekat? Apa kau pikir aku akan ragu-ragu?
Yoon Kang masih penasaran kenapa Soo In memiliki pistol. Tapi Soo In semakin tertekan dan menangis kesal karena pertanyaan Yoon Kang. Akhirnya Yoon Kang mengalah. Baiklah, aku mengerti. Berhentilah menangis. Menangis seperti wanita saja.

Soo In menghapus air matanya dan jalan pergi melewati Yoon Kang. Yoon Kang menghentikannya sebentar, aku minta maaf.
Soo In berhenti, lupakan saja. Hanya saja, jangan keras kepala. Kalaupun kau bertemu penembak itu, jangan melawannya dengan pedang. Kau sudah mengalaminya. Kau tidak bisa melawannya dengan pedang. Soo In jalan pergi.

Yoon Kang hanya menghela nafas. Ia jalan dan mengambil patahan pedangnya. Yoon Kang tampak merenung.


Ins. Park terus mengejar si penembak. Ia melompat ke atas atap dan lari mengejar si penembak yang mengendarai kuda.
Ins. Park melompat dari atas atap rumah dan menjatuhkan kuda si penembak. Ia melukai pria itu dan menangkapnya. Keren.

Soo In tiba di lokasi pertemuannya dengan Oh Kyung. Tapi Soo In tidak menemukan jejak Oh Kyung. Guru Oh Kyung...Guru..
Soo In menemukan selongsong peluru di tanah. Soo In sangat mencemaskan Oh Kyung.

Yoon Kang langsung menemui temannya, Han. Han Jung Hoon mengomeli Yoon Kang, sudah kubilang untuk menghindarinya. Kenapa kau sangat keras kepala? Langit menyelamatkanmu. Kalau tidak, kau pasti sudah mati!

Yoon Kang kesal sekali, aku mengerti. Berhentilah mengomel.

Jung Hoon ingin tahu bagaimana Yoon Kang bisa bertemu orang itu lagi. Dia datang darimana? Kemana dia pergi?

Yoon Kang menggeleng dan berkata kalau pria yang ia temui bukan mata-mata si penembak.
Jung Hoon : Apa maksudmu?
Yoon Kang : Sekarang aku tahu. Dia tidak cukup kuat untuk melakukan pekerjaan itu.

Jung Hoon : Bagaimana kau bisa tahu hanya dengan melihat saja? Kalau kau melihat orang yang tertangkap karena melakukan kejahatan. Mereka semua memiliki tampang polos. 
Yoon Kang yakin karena ia merasa bisa melihat "bagian dalam" orang itu. Jung Hoon menggodanya, melihat? Apa dia seorang gadis? Apa pita bajunya terlihat?

Yoon Kang melotot ke arah Jung Hoon. Rekannya berkata dia hanya bergurau untuk menghibur Yoon Kang yang terlalu serius.

Jung Hoon berdiri dan menepuk bahu Yoon Kang, sudahlah. Itu adalah senjata api. Senjata baru seperti itu, bagaimana kau bisa melawannya dengan pedang?

Yoon Kang jalan pulang ke kediaman Jung dan memikirkan pertemuannya dengan si "pelajar". Lalu ia mengingat ekspresi pelajar itu yang ketakutan karena hampir membunuhnya. Yoon Kang tiba-tiba sadar dan ingin membuktikan sesuatu.

Yoon Kang menemui Jan Yi, ia tanya apa ada pelajar disini. Jan Yi gugup, p..pelajar?
Yoon Kang membenarkan, wajahnya tampak polos. Ya, aku melihat seorang pelajar di depan rumah pagi ini. Tapi..dia sepertinya keluar dari rumah ini. Apakah..
Jan Yi : Apakah..?
Yoon Kang : Ada tamu di kediaman wanita semalam? (Rumah Joseon dibagi dua, sesuai ajaran Kong Hu Cu bagian lelaki dan wanita terpisah.)

Jan Yi nyengir, tidak ada. Satu-satunya tamu dalam rumah ini hanya Yeon Ha agashi dan anda, Tuan Muda.
Yoon Kang : Benarkah?
Jan Yi berusaha menyakinkannya dan berkata itu pasti hanya pelajar yang lewat di depan rumah ini, bukankah itu biasa? Tapi Yoon Kang tidak bisa diperdaya, tolong panggil Agashi untuk menemuiku.


Sekarang giliran Soo In yang mondar-mandir dalam kamar, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan?

Jan Yi juga stres berat, apa maksud Nona "Apa yang harus kulakukan"? Tentu saja anda harus berkata kalau anda tidak tahu apapun! Seorang Nona mengenakan busana pria dan meninggalkan rumah sambil membawa senjata api! Jika orang mendengar ini...semua akan berakhir.
Orang-orang akan menuduh Tuan dan juga Nona. Anda harus pura-pura tidak tahu apa-apa.

Jan Yi akhirnya mengantar Soo In menemui Yoon Kang. Kedua gadis itu sempat bertukar pandang sebelum Jan Yi meninggalkan mereka.
Soo In tanya kenapa Yoon Kang memanggilnya keluar.
Yoon Kang mendekat sambil membuka topinya, maaf, aku ingin minta tolong. Yoon Kang ingin Soo In mengenakan topinya, kau mau memakai ini untukku?

Soo In tentu saja menolaknya, apa yang kau lakukan...singkirkan itu.
Yoon Kang memakaikan topinya ke kepala Soo In, sebentar saja. Yoon Kang mengamati wajah Soo In dengan topi. Soo In marah dan membuang topi Yoon Kang ke tanah. Kau kurang ajar sekali!

Yoon Kang mengambil topinya dengan santai, aku minta maaf. Soo In marah besar, aku seharusnya tidak bicara denganmu.

Yoon Kang menepuk debu dari topinya sambil jalan mengelilingi Soo in, benar. Aku ini bukan orang bodoh. Aku bilang, aku ini bukan orang bodoh. Aku bertemu dengannya pagi dan malam, jadi butuh berapa lama sampai aku mengenalinya?

Yoon Kang mengamati wajah Soo In dari dekat sekali, mengenakan ghat sesekali dan mengenakan pita dilain waktu..tapi wajah keduanya sangatlah mirip. Mata, hidung ..dan bahkan alis, persis sama.

Soo In tetap menyangkalnya, aku tidak tahu siapa yang kau maksud, tapi itu sama sekali tidak ada hubunganya denganku.
Yoon Kang semakin yakin setelah mendengar suara Soo In, bahkan suaranya juga sama!

Soo In jalan pergi, terserah. Tapi langkahnya terhenti saat Yoon Kang berkata, aku pergi ke kantor polisi. Dia (polisi) tanya keberadaan orang itu. Aku akan mengatakan yang sebenarnya, tapi tidak melakukannya.
Soo In : Kalau begitu katakan saja padanya sekarang.

Yoon Kang : Kau serius? Nanti polisi akan menyerbu kesini. Karena ini adalah kejahatan yang serius...mereka juga akan memeriksa ke segala tempat, bahkan di kediaman wanita! Kalau mereka menemukan sesuatu yang berbahaya..
Soo In tetap bersikap cuek, lakukan semaumu. Tapi, jangan pernah menyuruhku datang dan pergi. Soo In tidak ingin melihat wajah Yoon Kang.

Tapi sebenarnya Soo In panik. Ia segera membungkus pistol itu dengan bojagi/kain pembungkus dan ingin menyembunyikannya di satu tempat. Soo In menyuruh Jan Yi berjaga, awasi saja kalau Yeon Ha kesini. Jan Yi mengerti dan pergi.
Soo In menyembunyikan pistol itu di bawah semak lalu berubah pikiran dan menyembunyikannya di bawah tumpukan genteng.

Tiba-tiba terdengar suara Yoon Kang, apa itu adalah tempat yang aman?
Soo In terkejut sekali melihat Yoon Kang sampai menjatuhkan genteng yang ia pegang.

Yoon Kang tanya, apa kau benar2 tidak tahan melihat wajahku? Ayo cepatlah dan sembunyikan itu di tempat lain. Seperti yang kau inginkan, aku akan segera ke kantor polisi.
Soo In akhirnya menahan Yoon Kang. tu..tunggu! Jangan pergi! Yoon Kang pura2 tidak bisa mengubah keputusannya, aku pergi.

Soo In : Aku minta jangan pergi.
Yoon Kang : Aku tidak bisa menolongmu. Aku pergi..
Soo In mulai memohon, kumohon! Kumohon jangan pergi. Yoon Kang akhirnya mengalah, baik, baik. Kalau itu yang kau inginkan. Sampai nanti. Yoon Kang jalan pergi sambil nyengir. Ha ha dasar.

Ins. Park mulai memeriksa penembak itu. Pria itu tetap tidak mau bicara, bunuh saja aku. Ins. Park berjalan mendekat, kalau aku ingin membunuhmu, aku tidak akan melukaimu seperti itu.
Pria itu tetap tidak akan bicara.

Ins. Park bersimpati pada penembak itu, tubuhmu dipenuhi luka. Cemeti itu digunakan untuk binatang. Ins. Park melempar cemeti ke atas meja. Ia tahu boss si penembak adalah orang kejam yang sering mencambuknya dan memperlakukannya seperti binatang.
Ins. Park membujuknya, pikirkan ini..apa kau harus mati hanya untuk melindungi orang seperti itu. Katakan semua yang kau ketahui, maka aku akan segera melepaskanmu. Kalau kau memiliki keluarga, cari dan hiduplah bersama mereka. Aku akan melindungi kalian semua.

Penembak itu tertegun, sepertinya ia mulai goyah. Ins. Park minta pria itu memutuskan sebelum malam ini berakhir. Ia minta petugas Moon memberikan makanan dan merawat luka pria itu.

Politisi partai Sugu berkumpul di kediaman Ketua Kim. Mereka marah karena Ins. Park Jin Han membuat rencana mereka gagal. Kita seharusnya menyingkirkan orang itu sejak awal. Mereka menunjuk Menteri Kim Byung Je, itu sebabnya kami menempatkanmu di posisimu!
Kim Byung Je tidak mau disalahkan, dia (Ins. Park) disayang oleh Yang Mulia Raja, jadi sangat berbahaya untuk membunuhnya..
   

Ketua Kim menghentikan perdebatan mereka, cukup. Kenapa kalian memusingkan masalah sepele? Hanya karena seorang penembak tertangkap.. bukan berarti semuanya akan terungkap. Meskipun itu terjadi, kita tidak akan tersentuh.
Anak buahnya tanya apa mereka benar tidak perlu merasa cemas. Ketua Kim membenarkan, semuanya sudah beres, aku sudah menyerahkan ini pada seseorang yang bisa dipercaya.


Ins. Park menerima Petugas Moon di kantornya. Ia tanya kondisi penembak itu. Petugas Moon lapor, dia baru saja selesai makan. Sepertinya dia sangat goyah dengan pembicaraan soal keluarganya.
Tiba-tiba seorang polisi lari ke ruangan mereka, Tuan! Ada yang salah dengan penembak itu!

Ins. Park, Moon Il Do dan petugas lain langsung lari ke penjara. Petugas lapor, saya rasa nyawanya dalam bahaya Tuan. Tabib sedang dipanggil.

Ins. Park langsung mendekati penembak itu, kondisinya sudah sangat kritis. Apa yang terjadi? Penembak itu berusaha bicara, pria itu..pria itu mungkin yang melakukan ini. Pria itu, pria itu yang melakukan ini padaku..
Ins. Park : Pria itu?
Penembak itu berusaha keras mengatakan sesuatu, penembak..penembak itu.. Ins. Park tanya apa orang yang muncul saat Hyeon Am dibunuh.
Penembak : Bukan. Seseorang yang lebih tinggi...kita berdua tidak bisa menandingi kemampuannya. Pria itu...pria itu..
Ins. Park berusaha tetap menyadarkan penembak itu, tapi terlambat. Penembak itu menghembuskan nafas terakhir sebelum sempat bicara siapa pria yang dimaksud.

Pria yang dimaksud adalah Choi Won Shin. Tuan Choi bertemu dengan mata-matanya dari kantor polisi. Polisi itu sudah memasukkan racun es dalam makanan penembak itu.
Racun ini lolos dari tes menggunakan sendok perak, saat esnya mencair, racunnya keluar tanpa meninggalkan jejak.

Ins. Park juga mendapat laporan kematian lainnya. Ia bergegas lari ke dapur kantor polisi. Seorang pelayan dapur ditemukan tidak bernyawa. Ins. Park yakin, pelayan ini dimanfaatkan (untuk memasukkan racun) lalu dibunuh.

Petugas Moon sadar ini perbuatan orang dalam. Ins. Park diam saja, tapi tampak marah.

Choi Won Shin menghadap Ketua Kim untuk memberikan laporannya. Ketua Kim memuji pekerjaan Choi. Ia tanya bagaimana dengan pekerjaan lainnya (maksudnya membunuh Oh Kyung).
Choi won Shin sendiri yang akan menyelesaikannya. Tuan Kim mengerti, singkirkan Oh Kyung secepatnya.

Ketua Kim juga ingin Choi Won Shin mengambil buku karya Hyeon Am, buku itu mungkin ada di tangan Oh Kyung. Bawakan itu untukku.
Choi Won Shin mengerti, ia ingin tahu kenapa buku itu begitu penting.

Ketua Kim : Buku itu berisi semua ide provokatifnya. Kalau buku itu masih ada, itu seperti Hyeon Am masih hidup. Kadang, sebuah buku bisa membalikkan dunia. Lihat saja ajaran Katholik yang menyebar bagaikan jamur beracun sekarang ini. Itu awalnya hanya dari sebuah buku dari Barat yang masuk ke sini (Alkitab). Buku Hyeon Am jauh lebih berbahaya dari itu.


Yoon Kang dan Han Jung Hoon berdiri mengamati papan pengumuman untuk mencari penembak para sarjana. Jung Hoon menjelaskan, Guru Oh Kyung adalah orang yang menjadi sasaran si penembak. Hyeon Am, Jeol Gang, Song Ha ..mereka semua sudah meninggal dan hanya tinggal Oh Kyung saja yang masih hidup. Pria itu mencoba membunuh guru Oh Kyung. Tapi ayahmu menangkapnya. Hanya dengan pedang. Tapi sayangnya penembak itu terbunuh setelah berkata ada penembak yang lainnya. Itu sebabnya posternya tetap dipasang.

Jung Hoon nyengir dan minta Yoon Kang tidak cemas.
Yoon Kang : Tentang apa?
Jung Hoon : Ayahmu baik-baik saja. Dia sama sekali tidak terluka, seujung jaripun tidak. Aku baru saja melihatnya di kantor Pengawal Istana.

Yoon Kang merengut, aku tidak tanya. Tapi Jung Hoon tahu Yoon Kang tidak punya keberanian untuk bertanya padanya.
Jung Hoon jalan pergi, aku pergi dulu ya!
Yoon Kang : Yang benar saja..kau mau kemana?

Jung Hoon ingin menyelidiki kasus penembakan karena ada hadiah untuk kasus itu. Jung Hoon akan mencari tahu dari mana mereka mendapatkan senjata api. Ia yakin akan menemukan petunjuk.
Yoon Kang menyuruh Jung Hoon santai saja, ayo kesini dan minum seperti biasanya. Jung Hoon tampak kesal, kalau kau bilang seperti itu sekali lagi, persahabatan kita selesai. Ingat, aku ini seorang polisi. Cie..
Yoon Kang : Baik, kita lihat berapa lama itu bisa bertahan.

Han Jung Hoon ternyata mengintai rumah Choi Won Shin. Ia tidak sadar kalau Choi Hye Won dan anak buahnya melihat Jung Hoon. Hye Won memerintah anak buahnya mengepung Jung Hoon, Siapa kau, berani mengintai rumahku?

Jung Hoon terkejut melihat Hye Won, ia memberi alasan kalau ia sedang jalan-jalan menikmati udara malam. Jung Hoon ingin pergi, tapi Hye Won tidak memberi jalan pada Jung Hoon.
Jung Hoon akhirnya berkata kalau ia dari Kantor Polisi Barat.
Hye Won : Tempat ini berada di bawah pengawasan Kantor Polisi Timur, kenapa kau mengamati daerah yang bukan wilayahmu?
Jung Hoon yakin wilayah ini ada di bawah kekuasaan Kantor Polisi Barat.

Hye Won memberi kode pada anak buahnya dan mereka semua menghunus pedang ke arah Jung Hoon.

Jung Hoon panik, apa yang kau lakukan? Aku petugas publik. Pedagang dari Gyeonggi berani menggunakan pedang di depan petugas publik?

Jung Hoon juga menghunus pedangnya, baiklah. Ayo maju. Tapi hanya kalau kau berani mati. Minggirlah kalau kalian adalah anak tunggal, anak sulung atau memiliki tunangan. Minggirlah kalau kalian memiliki istri, anak atau orang tua yang harus diurus.

Hye Won akhirnya minta anak buahnya menurunkan pedang, cukup. Kami akan pergi, kami tidak berdagang senjata api. Jangan selalu mencurigai kami setiap kali kalian menghadapi hal berbahaya. Hye Won pergi bersama rombongan.
Jung Hoon tidak percaya, dia sangat cantik tapi kenapa begitu menakutkan?


Yoon Kang pulang ke kediaman keluarga Jung. Jan Yi menunggunya, ia berkata kalau Nonanya ingin bertemu Yoon Kang. Waktu Yoon Kang bertemu Soo In malam ini, sikap Soo In lebih sopan kepadanya. Yoon Kang heran, astaga...ada apa? Ini sudah malam.
Soo In membungkuk, selamat datang.

Yoon Kang pura2 minta maaf karena harus menunjukkan wajah jeleknya di depan Soo In. Soo In cepat2 membantah, bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu..itu bukan wajah yang jelek.
Yoon Kang sengaja ingin mendengar pujian dari Soo In, jadi aku cuma berwajah tidak jelek.
Soo In : Bukan itu maksudku...kau lumayan tampan. (wkk)

Yoon Kang : Bagaimana wajah ini hanya..
Soo In terpaksa memuji Yoon Kang : Ya! Para gadis pasti akan mencuri lihat ke arahmu kalau kau jalan di pasar.
Yoon Kang : Apa kau juga merasa demikian? Apa kau juga tertarik? wehehe..
Soo In : Ya sedikit.
Yoon Kang : Cuma sedikit?
Soo In cepat-cepat menambahkan, tidak. Maksudku banyak sekali.


Yoon Kang ingin tahu apa artinya itu sampai membuat hati Soo In berdebar? Soo In jelas menahan kesal. Yoon Kang juga tidak mendesaknya lagi, ia berbalik sambil ketawa, aku tidak berharap sebanyak itu. Tapi, itu tetap membuatku merasa senang. Lumayan tampan..
Soo In selama ini benar2 menahan diri, ia ingin sekali memukul Yoon Kang ha ha..

Tapi saat Yoon Kang berbalik, Soo In menjadi manis dan sopan lagi wkk Yoon Kang tanya Soo In ingin bicara apa.

Soo In : Tentang yang terjadi tadi, aku tidak berpikir kau akan melakukannya, tapi tolong jangan mengatakan apapun pada siapapun. Aku tidak apa-apa...tapi saat aku berpikir tentang penghinaan yang akan dialami orang tuaku..
Yoon Kang menenangkan Soo In, jangan khawatir. Apa gunanya mengatakan pada semua orang soal itu. Lagipula, aku sudah berhutang budi karena bisa tinggal disini.
Soo In kelihatan lega, kau bersungguh-sungguh?


Yoon Kang : Ya, jangan khawatir. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Aku bersumpah. Tapi aku punya satu syarat.
Soo In : Apa itu?

Yoon Kang ingin tahu apa alasan Soo In menyamar menjadi pria. Lalu bagaimana dengan senjata api itu? Apa sulit menceritakannya?
Soo In ingin mengatakan alasannya, tapi Yoon Kang menahannya, kita bicarakan itu lain waktu saja.
Soo In : Apa?
Yoon Kang : Sekarang sudah terlalu malam. Kau harus masuk ke dalam. Kita bicara besok pagi saja.
Soo In : Ini hanya butuh beberapa menit.

Yoon Kang sengaja menghindar dan ingin membahas masalah itu besok saja. Oh dan...kalau kau tidak keberatan, tolong bawakan teh ke kamarku besok pagi. Setelah itu kita bicarakan masalah ini. Selamat malam.
Hehe..dia ingin ketemu Soo In lagi.

Soo In kesal sekali, ia mondar-mandir di kamarnya. Park Yoon Kang...jelas dia ingin mengerjaiku. Hanya karena dia tahu satu kelemahanku, dia benar-benar..

Jan Yi komen, dia benar-benar menguasai Nona. Kalau dia berkata "berguling", nona harus "berguling". Kalau dia berkata "lompat", anda harus melompat seperti kelinci. Soo In murka dan menyuruh Jan Yi tidur saja.
Jan Yi : Itu sebabnya saya minta Nona menyembunyikan senjata itu di langit-langit rumah!

Soo In membentak Jan Yi, tidur sana!

Sementara itu Yoon Kang senyum-senyum sendiri di tempat tidurnya, jangan terlalu marah, ini hanya bagian dari pendekatan. Hehe..

Paginya, Soo In jalan ke kamar Yoon Kang sambil membawa baki teh. Ia memanggil Yoon Kang.
Yoon Kang membuka pintu kamarnya dan pura-pura terkejut, astaga, apa yang membawamu kesini?
Soo In : Aku membawakan teh.

Yoon Kang : Kau baik sekali. Terima kasih untuk tehnya.

Soo In sudah membuatkan satu teko penuh dan minta Yoon Kang meminumnya. Tapi waktu Soo In berbalik untuk pergi, Yoon Kang menahannya. tunggu dulu! Teh apa itu?
Soo In : Ini adalah teh buah lima rasa.
Yoon Kang : Aku tidak terlalu menyukainya. Apa aku boleh minta teh yang lain?
Soo In jengkel sekali, tapi demi rahasianya ia mengambil baki teh dan pergi. Yoon Kang nyengir, terima kasih.

Soo In menyiapkan teh lain, ia jalan ke arah kamar Yoon Kang sambil ngomel. Sudah cukup kalau dia minum apapun yang kuberikan. Bagaimana ia bisa menolaknya? Apa dia pikir aku ini pelayan?
Soo In justru melihat Yoon Kang jalan meninggalkan rumah. Soo In menghentikan Yoon Kang, kau mau kemana? Aku membawakan teh yang baru.

Yoon Kang : Ah kau harus membawanya kembali. Aku minta maaf. Aku lupa dengan rencanaku. Apa aku bisa memintanya besok saja?
Soo In hampir kehilangan kesabaran, apa kau sengaja mempermainkanku..
Yoon Kang : Apa tidak bisa?
Soo In menghela nafas : Bisa.
Yoon Kang nyengir, terima kasih. Hatimu benar-benar baik. Kalau begitu kita bertemu lagi besok.

Saat Yoon Kang tiba di pintu keluar, seorang anak kecil mendekatinya. Apa ini kediaman penerjemah Jung? Yoon Kang membenarkan. Anak itu tanya apa Yoon Kang tinggal disini.
Yoon Kang : Ya.
Anak itu memberikan surat, tolong ambil ini. Ini untuk anda, Agashi. Yoon Kang terkejut, Agashi? Apa aku mirip seorang gadis? Anak itu kelihatan bingung, saya tidak tahu. Dia berkata untuk memberikan surat ini pada anda, meskipun anda berdandan seperti pria.
Yoon Kang mengambil surat itu, ia tanya siapa yang menyuruh anak itu. Tapi anak itu tidak tahu, ia hanya disuruh memberikan surat.

Yoon Kang membukanya, pengirimnya dari Oh Kyung. Soo In muncul dan mengambil surat itu, ini milikku. Berikan padaku.

Soo In membaca surat itu ditemani Yoon Kang. Guru Oh Kyung harus meninggalkan Joseon, ia akan naik kapal jam 4 sore ini dari pelabuhan Mapo. Oh Kyung ingin Soo In datang dengan membawa buku Guru Hyeon Am.

Yoon Kang : Guru Hyeon Am? Orang yang dibunuh si penembak itu..?

Soo In membenarkan, beliau memang guruku. Dia tinggal di rumah kami selama tiga tahun, kamarnya di depan kamarmu. Sebelum dia meninggal, dia meninggalkan bukunya di tanganku. Dia menghabiskan hidupnya untuk menulis buku itu. Dia memintaku memberikan buku itu pada Guru Oh Kyung setelah aku selesai membaca buku ini.

Yoon Kang baru mengerti, jadi selama ini Soo In menyamar sebagai pelajar dan membawa senjata api, itu untuk mencari Guru Oh Kyung. Soo In membenarkan.

Yoon Kang tanya apa rencana Soo In untuk pergi ke dermaga Mapo. Soo In ingin jalan secepat mungkin. Yoon Kang menggeleng, kau tidak mungkin bisa kembali hari ini. Sebelum kau kembali, gerbang kota akan ditutup. Yoon Kang tanya apa Soo In bisa naik kuda. Lalu ia menghela nafas, ayo kita pergi bersama.
Soo In langsung menolak, tidak apa-apa. Bagaimana aku bisa pergi denganmu? Itu bisa berbahaya, dia adalah target si pembunuh.
Yoon Kang : Itu sebabnya aku mengajakmu pergi bersama. Jika ia tertembak, apa yang akan kau lakukan? Pasti bahaya kalau pergi sendirian, jadi kita pergi bersama.

Soo In masih ragu. Yoon Kang tanya apa Soo In akan menyerah. Ia minta Soo In tidak terlalu banyak berpikir dan ia hanya ingin membalas kebaikan Soo In. Ayo cepat, kita akan terlambat.

Yoon Kang menemui Jung Hoon, ia ingin meminjam kuda. Jung Hoon mengira Yoon Kang ingin mengajak para gisaeng piknik diluar. Siapa yang kau ajak? Myeong Wol atau So Hyang?
Yoon Kang : Apa maksudmu..lihat disana, aku pergi dengan seorang pria.
Jung Hoon melihat ke arah "pelajar" yang ditunjuk Yoon Kang, ia heran. Kau tidak pergi bersama gisaeng, tapi kau pergi dengan saudara lelaki gisaeng?

Yoon Kang tidak tahan lagi dengan mulut temannya, jelas di otaknya hanya ada para gisaeng. Tapi sebelum pergi, Yoon Kang berbisik pada Jung Hoon, oh dan..aku mendengarnya di gibang, Guru Oh Kyung akan naik kapal di dermaga Mapo jam empat sore ini.
Jung Hoon terkejut. Yoon Kang yakin si penembak juga akan kesana. Sepertinya dia akan meninggalkan Joseon untuk sementara ini.

Jung Hoon : Kau yakin?

Yoon Kang : Percayalah padaku. Aku yakin. Kalau kau ingin mendapat prestasi coba periksa ke dermaga Mapo. Kudengar ada hadiahnya juga.
Jung Hoon langsung semangat. Yoon Kang menarik kuda temannya dan melambai. Jung Hoon langsung teriak minta kuda baru pada anak buahnya.


Yoon Kang menarik kuda ke dekat Soo In, jangat takut. Kuda ini paling tidak dia seratus kali lebih baik daripada manusia.
Soo In mencoba naik ke atas kuda. Yoon Kang menunjukkan tempat pijakan kaki, tapi Soo In kesulitan untuk naik ke punggung kuda. Yoon Kang nyengir, ia memang harus turun tangan membantu Soo In naik. Soo In protes karena Yoon Kang memegang pinggangnya, tapi mereka harus bergegas karena hari sudah mulai sore.

Yoon Kang juga langsung naik di belakang Soo In. Membuat Soo In syok haha Apalagi saat Yoon Kang meraih tali kekang kuda, ia setengah memeluk Soo In dari belakang.
Soo In minta Yoon Kang menyingkirkan tangannya.
 

Yoon Kang tampak polos, astaga..lalu bagaimana aku harus mengendarai kuda? Pegangan yang kuat. Ini akan lebih cepat dari yang kau pikirkan. Yoon Kang langsung memacu kuda mereka.

Ins. Park mendengar rencana Petugas Moon yang sudah minta bantuan 20 penembak dari propinsi. Ins. Park merasa para penembak itu masih jauh lebih lambat dibanding si penembak tepat itu. Kau bisa menembakkan 10 panah pada saat mereka menembakkan sebuah peluru dari senapan biasa.
Petugas Moon tahu itu, tapi itu tetap lebih baik daripada tidak memiliki pasukan penembak sama sekali. Kita harus mengerahkan semuanya dan menangkap semua penembak itu.

Han Jung Hoon mengetuk pintu, Saya Han Jung Hoon dari Kantor Polisi Barat. Mereka mengijinkan Jung Hoon masuk.
Jung Hoon dengan bangga lapor tentang Guru Oh Kyung yang akan naik kapal di dermaga Mapo sore ini.


Sayangnya mata-mata Choi Won Shin juga mendengar berita ini. Dermaga Mapo? Ia langsung lari pergi setelah mencuri dengar percakapan mereka.

Ins. Park dan Moon Il Do langsung bergegas, kita pergi sekarang. Kumpulkan semuanya.
Jung Hoon mengikuti mereka, ia berusaha mendapatkan pujian. Kita harus mencatat kalau saya yang melaporkan ini...
Tapi Petugas Moon langsung mengusir Jung Hoon wkkk kasihan.

Choi Won Shin masuk ke ruang bawah tanah dan membuka tempat penyimpanan senjata. Ia menyiapkan senjata api dan ganti baju. Choi Won Shin ternyata seorang penembak.


Yoon Kang-Soo In terus berkuda melintasi padang bunga. Yoon Kang menghentikan kudanya di tengah padang dan memutuskan untuk istirahat sebentar.

Yoon Kang turun dengan mudah. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Soo In turun. Tentu saja Soo In menolaknya. Ya sudah, Yoon Kang berdiri saja menunggu Soo In turun sendiri.
 

Soo In seperti yang sudah diduga, kesulitan turun dari kuda. Yoon Kang geli dan langsung menolong Soo In lagi. Soo In melotot kesal, tapi Yoon Kang langsung berkata, tidak apa meskipun kau tidak berterima kasih padaku.

Keduanya duduk di tengah padang. Yoon Kang membaca buku karya Hyeon Am. Ia langsung protes, bagaimana dia bisa berkata "Persamaan untuk semuanya" di setiap halaman?
Soo In : Apa salahnya dengan itu?

Yoon Kang masih memegang adat Joseon-Confusius-nya, urutan dari pelajar (gol. Jungin) -petani-seniman-pedagang (gol. Sangmin) itu jelas. Dan adat antara bangsawan dan budak (Yangban-Nobi) itu kuat, jika kau terus membaca buku pemberontakan ini, kau akan dicap sebagai penghianat.
Soo In melotot kesal, ia merebut buku Hyeon Am. Kembalikan padaku. Kau tidak berhak membaca ini.

Yoon Kang heran kenapa Guru Hyeon Am memberikan tugas ini pada Soo In. Dia pasti memiliki banyak murid lain kan?
Soo In : Itu karena Guru sangat menyayangiku.
Yoon Kang : Apa dia tidak punya murid lain yang bisa menunggang kuda? (heh!)

Soo In melotot marah. Yoon Kang nyengir dan mengangkat tangannya, aku bercanda!


Yoon Kang ketawa geli. Soo In marah, ia langsung berdiri. Ia minta Yoon Kang pulang saja. Aku bisa pergi sendiri dari sini.
Soo In bisa pergi ke Mapo sendirian. Soo In segera berdiri dan ingin naik ke punggung kuda sendiri.

Yoon Kang mengingatkan Soo In, hentikan. Ini bukan sesuatu yang bisa kau pelajari sekali lihat. Soo In berusaha keras naik ke punggung kuda dan berhasil. Soo In menyuruh Yoon Kang pergi, lalu ingin menjalankan kuda sendiri.

Ternyata Yoon Kang benar, kuda itu bergerak dan Soo In jatuh terjengkang ke bawah.

But no worry, Yoon Kang selalu siap menangkap Soo In wehehe..Yoon Kang tersenyum manis, ia minta Soo In tidak khawatir dan janji akan mengajari Soo In naik kuda setahap demi setahap kalau mereka sudah pulang nanti.
Soo In hanya bisa menahan marah dan malu.

Ins. Park dan anak buahnya juga sudah tiba di dermaga Mapo. Ins. Park bahkan sudah menyebar anak buahnya menyamar menjadi orang2 biasa di sekitar dermaga.
Ins. Park belum melihat Oh Kyung. Tapi kapal ini adalah kapal terakhir yang akan keluar Joseon.

Yoon Kang-Soo In juga berdiri di satu tempat menunggu Oh Kyung. Yoon Kang mengeluh kenapa Oh Kyung lama sekali. Soo In menegurnya, jaga bicaramu. Dia orang yang sangat dekat dengan guruku. Yoon Kang heran, memang dia salah apa.
Yoon Kang melihat seorang pria memancing di tengah laut. Ia komen, enak sekali hidupnya.


Soo In melihat Oh Kyung. Ia langsung lari mendekat, Guru! Yoon Kang mengejar Soo In.
Ins. Park dan Moon Il Do juga melihatnya, itu Oh Kyung!

Soo In mendekat. Guru! Oh Kyung tampak lega, oh, kau datang.
Soo In mencemaskan Oh Kyung. Oh Kyung berkata ia beruntung karena bisa tiba disini. Mana bukunya? Soo In mengeluarkan buku pencerahan Joseon dan memberikan pada Oh Kyung.

Oh Kyung berterima kasih dan janji akan menjaganya sampai ia pulang nanti.

Yoon Kang sebenarnya juga ingin mendekat tapi ia melihat ayahnya. Yoon Kang langsung memutar badan dan menyembunyikan diri. Kenapa dia disini..
Ins. Park melihat Yoon Kang, tapi ia tidak tahu kalau itu putranya.


Yoon Kang melihat pria pemancing di tengah laut itu berdiri, melemparkan jubahnya dan mengeluarkan senjata api. Orang itu mengarah ke Oh Kyung. Yoon Kang teriak, senjata api!

Choi Won Shin membidik dan pelurunya melesat tepat mengenai jantung Oh Kyung. Oh Kyung langsung rebah tak bernyawa di dermaga. Soo In syok, guru Oh Kyung..!

Ins. Park dan Petugas Moon langsung memberi perintah untuk membidik Choi Won Shin. Choi langsung sembunyi di balik papan kayu.

Soo In mencoba menyadarkan Oh Kyung. Guru, guru Oh Kyung! Bangunlah!

Yoon Kang langsung menarik Soo In. Ini bahaya, ayo pergi! Sekarang! Soo In sempat mengambil buku Pencerahan Joseon sebelum lari bersama Yoon Kang. Ins. Park dan Choi Won Shin melihat keduanya.
Choi Won Shin menembak mati kuda Yoon Kang. Ins. Park dan anak buahnya terus menembakkan panah. Choi Won Shin memutuskan terjun ke laut untuk menghindari tembakan para polisi. Ins. Park menghentikan tembakan mereka.

Yoon Kang lari sambil menarik Soo In. Soo In masih menoleh ke arah dermaga, Guru Oh Kyung tertembak...guru..
Yoon Kang menyadarkan Soo In, kita juga menjadi target. Yoon Kang menunjuk kuda mereka, dia membunuh kudanya. Dia memastikan kalau kita tidak akan pergi jauh.

Soo In masih bingung, kenapa kita jadi target? Yoon Kang yakin itu karena buku karya guru Hyeon Am. Yoon Kang melihat si penembak keluar dari air, ia langsung mengajak Soo In lari. Ayo!


Hari semakin malam. Yoon Kang-Soo In lari sampai ke tengah hutan. Keduanya melepas baju luar mereka agar tidak menyulitkan gerakan mereka.

Yoon Kang menanyakan pistol Soo In, cepat keluarkan. Soo In tidak membawanya. Ia takut menembak.

Yoon Kang : Apa..itu kan memang untuk menembak!
Soo In : Aku hampir membunuh orang! Lalu kenapa kau tidak membawa pedangmu?
Yoon Kang : Itu karena kau mematahkannya!
Soo In : Apa kau cuma punya sebuah pedang?
Yoon Kang : Apa aku ini penjual pedang? Punya beberapa pedang cadangan? Sudahlah, kita pergi saja.
Yoon Kang mengambil tas di tangan Soo In, berikan padaku. Keduanya cepat2 pergi.


Choi Won Shin ternyata pintar melacak jejak mereka dan semakin dekat ke arah mereka.

Soo In kelelahan, ia berhenti sebentar. Yoon Kang panik, agashi, kita harus bergegas. Dia hampir tiba. Kita bisamati nanti. Soo In tidak bisa berjalan lagi.
Yoon Kang jongkok dan minta Soo In naik ke punggungnya. Soo In menolak dan memaksakan diri jalan wkk.

Ins. Park dan rombongan juga menemukan barang2 Yoon Kang-Soo In, mereka langsung mengikuti jejak keduanya.

Yoon Kang menemukan rumah kosong, ia memeriksa sekitar dan mengajak Soo In istirahat disitu. Soo In duduk dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Soo In mengamati benda itu.
Yoon Kang tertarik dan mendekat, kau lihat apa?

Ternyata Soo In melihat kompas. Aku ingin tahu di arah mana kita. Ini memberi kita petunjuk.
Yoon Kang tertarik, bagaimana di tengah hutan gelap seperti ini...Soo In menunjuk jarum kompas, jarum ini selalu menunjuk arah Utara. Kapanpun dan dimanapun.

Yoon Kang bercanda, ini benar2 keras kepala. (maksudnya jarum yang selalu menunjuk Utara) Soo In awalnya bingung. Tapi ia mulai mengenal gaya bercanda Yoon Kang dan keduanya tersenyum. Yoon Kang tampak kagum dengan kepintaran Soo In.

Soo In minta maaf karena membuat Yoon Kang terperangkap di gunung karena dirinya. Yoon Kang menghibur Soo In, tidak apa-apa, aku tidak bisa membawamu minta bantuan polisi. Begitu kita kesana, mereka akan tanya siapa dirimu. Kalau ayahmu tahu, dia akan menyalahkanku. Jangan khawatir, itu tidak akan terjadi.
Yoon Kang usul untuk menginap di tempat ini semalam dan kembali ke Seoul paginya.

Soo In langsung panik, menginap disini? Yoon Kang menjelaskan, kita tidak punya pilihan. Penembak itu mungkin masih di gunung. Siapa yang lebih dulu bergerak lebih berada dalam bahaya kalau malam hari. Orang yang membuat suara lebih dulu ada dalam bahaya.
Soo In hanya bisa menunduk, ia mengeluh dalam hati karena terpaksa menginap bersama Yoon Kang diluar.

Ins. Park menerima laporan dari Moon Il Do, kita tidak bisa menemukan orang itu. Tidak mungkin menemukannya dengan cara ini. Jejaknya bisa kemana saja.
Ins. Park memerintah anak buahnya mencari tempat untuk menginap di hutan.

Choi Won Shin ada di dekat mereka dan mendengar rencana itu.


Yoon Kang tertidur di depan rumah. Sementara Soo In gelisah dan belum bisa tidur. Soo In justru melihat Choi Won Shin.
Soo In membangunkan Yoon Kang. Yoon Kang terbangun dengan terkejut.

Soo In segera membungkam mulut Yoon Kang agar tidak bersuara.


Choi Won Shin mendengar bunyi dari rumah kosong dan jalan ke arah rumah itu.  Ia tidak menemukan siapapun dan jalan ke arah dalam.
Kamera bergerak ke celah kecil di bawah lantai rumah. Ternyata Yoon Kang-Soo In bersembunyi di bawah lantai.

Yoon Kang melihat Soo In gemetar ketakutan. Ia mengulurkan tangan dan merangkul Soo In untuk menenangkannya. Choi Won Shin masih berdiri di tengah rumah itu, diam dan mendengarkan. Orang ini benar2 tidak menyerah.

Tiba-tiba Yoon Kang membeku, ia melihat ke satu titik. Soo In menoleh dan syok, ada tikus! Yoon Kang langsung membekap mulut Soo In agar tidak menjerit.
Choi Won Shin mendengar suara di bawah lantai dan mulai menembak ke bawah lantai. Untung tidak mengenai Yoon Kang-Soo In, hanya beberapa ekor tikus yang lari menyelamatkan diri. Ini cukup membuat Choi Won Shin puas dan jalan pergi dari rumah itu.


Kediaman keluarga Jung ribut. Ini karena Agashi mereka belum pulang sampai malam. Ibu Soo In panik sekali, pergi kemana dia sampai malam belum pulang juga?
Jan Yi ketakutan, ia sama sekali tidak tahu. Saat ia kembali setelah membersihkan tungku, Nona nya sudah pergi.

Tuan Jung memutuskan untuk pergi keluar mencari putrinya. Ia minta Yeon Ha memanggil kakaknya, aku harus pergi bersamanya.
Yeon Ha : Kakak belum pulang. Dia suka berkumpul bersama teman-temannya. (kalau saja mereka tahu hehehe)
Tuan Jung menghela nafas dan jalan pergi.


Yoon Kang mengajak Soo In pindah lokasi persembunyian. Soo In tanya apa Yoon Kang merasa tempat ini aman. Yoon Kang merasa aman karena si penembak pasti sudah melewati lokasi ini.
Soo In heran, kenapa mereka tidak bisa tinggal di rumah itu saja. Penembak itu juga pasti sudah melewati tempat itu.

Yoon Kang : Terlalu banyak tikus disana. Kau akan menjerit lagi.

Soo In tersenyum tipis, tapi ia terdiam lagi. Soo In minta maaf, aku hanya...sangat ketakutan. Tadi adalah pertama kalinya aku melihat seseorang kehilangan nyawanya di depanku. Dia pergi ke dunia lain hanya dalam sekejap. Hanya dalam hitungan detik.

Yoon Kang tampak kesal, kenapa kau sampai terlibat masalah kekerasan seperti ini? Aku ingin menyalahkan Guru Hyeon Am. Kenapa dia harus...
Soo In : Tolong jangan berkata seperti itu! Bagiku dia...dia...

Soo In tidak bisa melanjutkan, ia menangis sedih. Yoon Kang tertegun. Perlahan ia mengulurkan tangan ingin memeluk Soo In lagi, tapi Yoon Kang berhenti di tengah jalan dan menurunkan tangannya lagi.
Yoon Kang membiarkan Soo In menangis terisak-isak.

Paginya, Soo In terbangun di pelukan Yoon Kang. Soo In panik, apalagi saat Yoon Kang mulai terbangun. Soo In pura-pura masih tidur wkk

Yoon Kang terbangun dan syok waktu melihat Soo In tertidur di lengannya. Yoon Kang perlahan menarik tangannya sambil menahan kepala SOo In agar tidak terantuk batu.
Lalu Yoon Kang duduk bersandar di bawah pohon sambil menenangkan diri. Yoon Kang membangunkan Soo In. Kau harus bangun sekarang. Hei, pelajar!

Soo In pura2 baru bangun tidur, sudah pagi ya? Yoon Kang membenarkan dan mengajak Soo In pergi.

Keduanya cuci muka di sebuah mata air. Yoon Kang memandangi Soo In dan memujinya, kau cantik.
Soo In : Apa?
Yoon Kang : Kau cantik. Mirip seperti gadis cantik.

Soo In cemberut, jangan menggodaku! Aku punya alasan mengenakan baju pria.
Yoon Kang serius, aku tidak menggodamu. Aku bersungguh-sungguh. Soo In tertegun.

Yoon Kang tersenyum lalu berdiri, tapi wajah cerianya berubah waktu melihat ke hilir sungai.

Si penembak masih ada disana. Orang itu juga mencuci mukanya. Yoon Kang memberi kode pada Soo In untuk pergi. Soo In melihat orang itu dan langsung lari. Choi Won Shin menoleh dan melihat Yoon Kang.
Yoon Kang langsung lari bersama Soo In.

Choi Won Shin mengejar mereka. Keduanya lari terus ke atas gunung dan terdesak di pinggir tebing.

Choi Won Shin muncul. Ia mengarahkan senjata api pada mereka. Serahkan buku itu padaku.

Yoon Kang membujuk Soo In untuk menyerahkan bukunya. Berikan saja padanya. Dia bisa membunuhmu. Soo In memegang tasnya, ia tampak ragu. Yoon Kang mendesak Soo In, agashi!


Soo In mengalah dan memberikan tasnya pada Yoon Kang.

Yoon Kang mengambil buku itu dan melemparkannya ke arah Choi Won Shin. Ambil saja. Kami tidak membutuhkan buku itu.
Choi Won Shin mengambil buku itu dan menyimpannya.


Choi Won Shin tidak pergi, melainkan tetap mengarahkan senapannya ke arah Yoon Kang dan Soo In. Ia siap menarik pelatuknya.

Yoon Kang hanya bisa berdiri di depan Soo In untuk melindunginya.

JG [1-1], [1-2]