Year 2014 : The Year of God Opening Doors for Miracles

Friday, October 26, 2012

Choi Young's Diary - part 2

Aku memutuskan untuk membawa Imja pergi. Hanya itu satu-satunya jalan agar dia bisa tetap hidup. Imja harus segera kembali ke langit, disana dia bisa mendapatkan obat untuk racun itu. Kalau Imja tetap disini, pihak Yuan juga pasti akan membawanya ke negara mereka. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Imja kalau dia dibawa ke Yuan.


Jadi aku mengatakan pada Imja kalau kami harus pergi sebelum keputusan Raja dikeluarkan. Tapi aku harus menghadap Raja dulu untuk minta ijin. Jika tidak diijinkan, aku mungkin akan mengundurkan diri dari kemiliteran. Rasanya berat sekali membiarkan Imja pergi lebih dulu, tapi paling tidak ada Dae Man yang menjaganya. Untuk sementara dia akan baik2 saja.


Ratu berkata Raja mencariku sepanjang hari sejak kemarin, tapi aku tidak mengerti kenapa tidak diijinkan masuk mengikuti pertemuan dengan Utusan Yuan itu. Katanya hanya yang diundang yang boleh ikut. Aku semakin tidak mengerti kenapa Raja juga tidak bersedia kutemui setelah pertemuan.
Jadi, aku memutuskan pergi saja. Membenahi barang2ku dan memberikan pesan pada Choong Suk bagaimana menghadapi musuh. Aku mencemaskan Raja tapi aku ingat itu bukan urusanku lagi, jadi aku pergi.

Dari Bibi aku baru tahu kalau ternyata Raja dan Ratu sudah tahu niatku untuk membawa pergi Imja bahkan Yang Mulia memintaku untuk pergi jauh dengan Imja.



Tapi Bibi ingin aku tetap disini dan meminta anak buahku mengantar Imja. Aku bisa kehilangan segalanya kata Bibi. Tapi bagiku, apa yang kumiliki saat ini, karir, jabatan militer, semuanya tidak ada artinya. Aku bahkan tidak merasa hidup selama 7 tahun ini. Bagiku, bisa bersama Imja selama 20 hari jauh lebih berarti dari segalanya.
Bibi memperingatkanku, Yuan ingin mengeksekusi Imja di depan umum. Aku pasti akan melindungi Imja, tapi apa yang akan terjadi pada Raja kalau Imja menghilang. Tapi aku tidak mau tahu. Aku akan pergi.



Aku melepas ikat kepalaku dan menjemput Imja. Kami memulai perjalanan kami yang panjang, tapi bagiku ini seperti mengawali hidupku dari awal. Semuanya jadi menyenangkan karena ada Imja disampingku.


Perjalanan kami tidak mudah, Ki Cheol mencari kami dengan hadiah besar. Banyak pemburu hadiah mengejar kami.
Malam itu, Imja berkata ia tahu aku mencemaskan Raja. Aku memang tanpa sadar selalu melihat ke arah Istana Raja, mungkin sebagian hatiku masih ada disana. Tapi aku menjelaskan pada Imja, dengan kondisiku saat ini, aku tidak mungkin kembali melindungi Raja. Saat ini, aku begitu ingin hidup. Aku merasa tidak bisa menggunakan pedangku untuk membunuh. Aku tidak ingin melihat kematian, aku hanya ingin merasakan kehidupan. 


Kemarin dan hari ini adalah hari dimana aku menjadi diriku sendiri, melakukan apa yang kuinginkan bukan melakukan keinginan orang lain.

Tapi tidak lama, aku harus membunuh lagi. Kali ini dua pembunuh bayaran yang mengincar kami.

Sepanjang jalan, Imja mengajarkan macam-macam pelajaran dari langit padaku. Menurutku aneh dan sama sekali tidak jantan. Apa itu, Aja! Aja! aneh sekali. Imja tidak menyerah dan mengajariku cara membuat janji dengan cara aneh.
Aku ingin tahu sebenarnya apa yang dipikirkan Imja.




Aku mendengar kabar tentang perang. Negara dalam bahaya. Tapi saat ini Imja lebih penting bagiku. Aku hanya seorang pria yang ingin melindungi wanita yang kucintai. Tidak lebih.


Aku harus mengatasi pemburu yang mengejar kami dan meminta Imja menunggu. Tapi saat aku kembali..Imja tampak aneh. Aku mencemaskannya, apa ada yang mengganggunya dan membuatnya takut? Imja gemetaran, dia hanya minta aku memeluknya.


Imja mengatakan sesuatu yang aneh. Ia ingin kembali karena mencemaskan Raja dan Ratu, jika terjadi sesuatu pada mereka bagaimana perasaanku. Aku tidak mengerti, jelas Raja dan Ratu baik2 saja. Kenapa dia.

Tapi Imja berkeras kembali ke istana. Aku marah, apa sebenarnya yang ia pikirkan. Aku sudah memutuskan mengantarnya dan aku tidak mau mengubah rencana kami.


Imja menunjukkan benda dari langit itu, isinya surat dan katanya Ratu dalam bahaya. Aku memutuskan mencari informasi dan setelah itu baru mengambil keputusan. Aku mencemaskan kondisi Imja. Tapi dia berkata tubuhnya tidak apa-apa dan tidak demam.


Ternyata memang berita perang, tapi tidak ada yang lain jadi kuputuskan untuk mengantar Imja dulu lalu kalau masih ada waktu aku bisa membantu Raja nanti. Meskipun aku tidak dimiliter lagi aku berpikir bisa membantu lewat Suribang atau dengan cara lain.

Tapi Imja marah, ia menuduhku sangat ingin mengirimnya kembali. Aku marah, apa ia tidak tahu betapa sulitnya bagiku melepaskannya?! Imja tidak ingin disalahkan atas semua keraguanku dalam membela Raja. Katanya aku tidak mengerti hatinya.

Aku harus menghentikan perdebatan kami dan menghadapi pembunuh. Orang ini lain dari yang lain, dia memiliki ilmu setara denganku. Aku terluka sedikit. Aku memintanya mundur, aku tidak ingin bertarung saat ini, tapi orang itu tetap ingin bertarung. Akhirnya aku mengalahkannya, tapi memutuskan melepaskan orang itu. Aku tahu dia juga ingin hidup dan tidak ada untungnya bagiku mengambil nyawanya.

Aku kembali pada Imja. Dia marah karena aku terluka. Aku memutuskan menghentikan kemarahannya dan kembali ke arah ibukota untuk mencari informasi. Aku tidak ingin membuang waktu kami hanya dengan bertengkar. Aku juga membuka rahasia kalau nyawa Imja akan terancam jika kami kembali ke ibukota.

Imja tampak pucat tapi dengan berani ia memutuskan untuk menghadapinya. Aku tidak mengerti darimana dia mendapat keberanian seperti itu. Aku janji tidak akan membiarkannya dieksekusi. Imja tahu itu, meskipun Imja pasti ketakutan.


Kami kembali ke Suribang dan mendapat informasi kalau Ratu diculik. Semua curiga Deok Heung-gun pelakunya. Bibi menemuiku dan heran kenapa kami kembali. Aku berkata Imja yang menyuruhku kembali karena mencemaskan Raja dan Ratu. Bibi kagum pada Imja. 


Imja bahkan berkata ia bisa membantu  menemukan Ratu dengan tanya langsung pada Deok Heung-gun, katanya ada sesuatu bernama film di langit untuk mendapatkan informasi. Aku jelas tidak setuju, tapi Imja tidak akan mengalah dan siap berdebat denganku.


Bibi menambah daftar rasa cemasku dengan berkata kalau Ratu mengandung. Tapi reaksi Imja mengherankan, katanya Ratu tidak bisa mengandung sekarang. Aku dan Bibi bingung, kenapa tidak? Ini justru sangat bagus untuk memperkuat posisi Raja. Jika ada Putra Mahkota bukankah ada harapan untuk Goryeo? Tapi ekspresi wajah Imja benar2 tidak kumengerti.


Imja memintaku menemui Raja. Aku mengikuti sarannya.
Saat aku masuk kediaman Ratu untuk menemui Raja, Raja sama sekali tidak berani melihat mataku. Raja benar-benar tampak hancur dan tidak percaya diri. Bukan ini Raja yang kupilih, dia tidak boleh hancur seperti ini. Aku marah dan berusaha menyadarkan Yang Mulia.
Raja bahkan berlutut hanya demi mengambil saputangan Ratu. Aku tidak tahan melihat Raja berlutut, Raja tidak boleh berlutut di depan siapapun.

Aku membantunya dan meminta Raja jangan pernah berlutut lagi. Raja menangis, ia sudah menawarkan Goryeo pada Deok Heung, pada monster yang akan menjual Goryeo pada Yuan. Deok Heung akan membunuh Ratu. Aku akan berusaha menyelamatkan Ratu dengan syarat hati Raja tidak boleh hancur. Karena kalau Raja hancur, aku tidak bisa mendukungnya lagi. Raja akhirnya bisa menguatkan diri dan memberiku perintah.


Imja dengan berani menemui Deok Heung di Wisma Yuan. Aku menunggunya dengan gelisah diluar. Jika Imja keluar lebih lama dari yang diperkirakan, aku mungkin akan menyerbu masuk. Untunglah Imja keluar tepat waktu dan tampak baik-baik saja.


Aku menarik pasukan Istana dan mengikuti anak buah Deok Heung saja, karena menurut Imja secara kejiwaan Deok Heung pasti ketakutan dan akan membuat kesalahan. 


Hari itu sangat menegangkan, Imja harus bertemu Dansaguan dan aku harus segera menemukan Ratu. Tapi aku percaya pada Raja yang pasti akan bisa melindungi Imja seperti Raja juga percaya padaku untuk menemukan Ratu.

Aku menemukan Ratu, tepat di saat kritis. Aku segera membawa Ratu kembali ke Istana.



Kondisi Ratu tidak baik. Tidak lama aku melihat Raja datang bersama Imja dan yang lainnya. Raja tampak lega dan aku lega melihat Imja baik-baik saja. Sayang Yang Mulia harus kehilangan bayi mereka.


Aku hanya bisa menggenggam tangan Imja. Dia sudah tahu kalau ini akan terjadi, tapi tetap saja hati kami sakit karena tragedi ini.

Aku menemui Imja dan mengatakan kalau kami hanya punya dua pilihan. Satu tetap mengikuti rencana semula, yaitu lari atau membunuh mereka yang mengancam kami, tentu saja aku harus keluar dari militer dulu agar Raja tidak terganggu oleh ulahku.


Imja berkata ia punya ide lain. Ia ingin sembunyi di tempat paling aman di Goryeo tapi dia butuh ijin dulu. Aku heran dimana tempat itu. Aku hafal seluruh Gaegyeong dan Istana, begitu pula Bangsawan Deok Seong. Jadi kalau hanya sekitar situ, mana ada tempat yang aman.

Satu hal yang mengusikku. Aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Ahn Jae menemuiku dan cerita soal mendiang Guru yang sudah lelah dan merasa kalau pedangnya semakin berat.
Ahn Jae berkata jika pedang terasa berat artinya itu waktu untuk mengakhiri semuanya. Dia tanya, apa pedangku mulai terasa berat. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku juga ingin tahu, ini karena Imja atau aku memang ingin berhenti. Aku memang ragu menumpahkan darah lagi, melihat Imja yang sangat menghargai kehidupan. Aku juga ingin merasakan kehidupan yang sesungguhnya.

Woodalchi ribut sekali malam itu, aku kesal. Apa mereka tidak bisa membiarkanku istirahat. Ada anggota baru dan katanya ini atas perintah Raja. Lalu apa masalahnya. Mereka tahu aturannya. Dae Man muncul dan berkata orang itu menunggu di dalam kamarku.



Ini keterlaluan. Anak bangsawan mana yang sekurang ajar ini. Aku membuka pintu dan tertegun. Imja berada dalam kamarku. Disinilah tempat paling aman yang ia maksud itu. Ha! Tapi aku suka dengan idenya.

Aku memutuskan untuk mengatakan semua pikiranku. Aku berkata pada Imja, awalnya aku sulit memahami dirinya, tapi aku akhirnya sadar semua yang dilakukan Imja adalah karena mencemaskanku.

Jadi aku menggenggam tangannya dan berkata jika aku berhasil mendapatkan obat penawar racun untuknya dan bisa mengatasi racun itu disini tanpa harus kembali ke langit, aku ingin tahu apa Imja bersedia tinggal disini. Aku akan melindunginya seumur hidupku. Jika aku bisa memilikinya aku akan melindungi Imja selamanya, bukan hanya satu hari, atau beberapa hari tapi seumur hidupnya. Imja bersedia memberi jawaban jika waktunya tiba. Aku merasa lega.


Raja memanggilku dan tanya kapan aku akan kembali ke sisinya. Aku belum bisa menjawabnya dan ingin menyerang Deok Heung dulu. Raja mengerti dan ia memilih membantuku untuk mengatasi Deok Heung secara resmi. 


Aku harus bersiap berangkat untuk mencari Deok Heung, aku ke markas dulu untuk mengatakan ini pada Imja. Imja justru tidak bersembunyi dan main dengan anak-anak. Saat kutegur, dia justru bilang dia menunggu ijin untuk pergi ke Jeon Eui Shi.


Aku memerintah Imja untuk pergi dengan 4 orang. Imja menyanggupi dan memanggilku Daejang. Caranya memanggilku membuatku seperti tersihir dan aku ingin mencium Imja. Kalau saja saat itu Suk tidak tiba-tiba muncul. Astaga...ini gara-gara mereka dengan bebas keluar masuk dalam kamarku. Aku harus segera mengubah aturan dalam markas ini sepertinya.
Aku mencari Deok Heung di kediaman Ki Cheol tapi nihil, tapi ada kereta yang keluar dari rumahnya, itu pasti Deok Heung. Ki Cheol masih ingin bertemu Imja. Aku terus terang padanya, aku tidak akan membiarkan ia melihat Imja lagi. Aku tidak peduli kalau Ki Cheol marah.
Dae Man berhasil menemukan Deok Heung. Bagus! Saat kembali ke istana, aku lapor pada Raja kalau kita sudah mendapatkan penjahat itu, yang berani melukai orang-orang yang paling kami sayangi. Raja tampak puas. Lalu Raja berkata ada serangan di Jeon Eui Shi dan Tabib Jang Bin meninggal.
Aku terkejut, Jang Bin? Raja juga mencemaskan Imja, karena Jang Bin selama ini selalu menjadi teman dekat Imja. Aku juga merasa kehilangan, dia pria yang bisa kuandalkan untuk membantu Imja. Imja pasti sangat terpukul.



Aku bergegas menemui Imja dan Imja tampak sangat syok, ia merasa kehilangan teman baik, guru, dan pendengarnya. 

Aku tahu, sejak awal Jang Bin-lah yang selalu mendengarkan Imja dan semua keluhannya. Bahkan sampai menghembuskan nafas terakhir, Jang Bin masih melindungi obat penawar untuk Imja. benar-benar sahabat sejati.

Imja merasa bersalah dan berkata ia yang membunuh Jang Bin. Jadi, aku memintanya istirahat dan menjelaskan apa arti kata "Aku membunuhnya" dengan pengalamanku sendiri yang sudah benar2 membunuh seorang manusia. Bagaimana rasanya saat aku mengambil nyawa seorang manusia, tidak semudah mengatakannya. Aku selalu ingat wajah orang pertama yang kubunuh. Itu sangat mengerikan. Imja mengerti.

Sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiran Imja di kamarku. Aku senang melihatnya sebelum pergi menjalani hari itu. Semoga selamanya bisa seperti ini.


Aku menemui Deok Heung untuk mencari penawar, tapi monster itu masih berani mengadakan negosiasi denganku. Ia ingin mendapatkan Imja kembali. Aku sangat marah sampai tidak bisa menjawabnya dan minta Deol Bae yang mencari obatnya. Aku memutuskan keluar agar tidak tergoda untuk membunuh Deok Heung. Ini rencana Raja untuk membiarkan Deok Heung hidup.


Benar saja, Dansaguan datang meminta Deok Heung. Ia ternyata tahu namaku. Aku membiarkannya pergi. Dansaguan juga tidak menjelaskan kenapa dia ingin membunuh Imja. Dia akan mengatakannya sendiri pada Imja.
Aku ingin tahu bagaimana Dansaguan bisa tahu namaku. Dansaguan berkata ia mendengar Raja bisa menjadi harimau karena memiliki aku sebagai cakarnya. Mereka ingin menyingkirkanku agar bisa mengubah Raja menjadi anak kucing. Apa-apaan ini.



Aku menghadap Raja dan lapor sudah melakukan semua perintahnya. Aku memperingatkan Raja bahwa Kedutaan Yuan pasti akan menyerang Raja, jadi aku meminta kendali pasukan untuk menyerang Kedutaan Yuan. Raja tidak setuju. Raja ingin mendapat persetujuan dari Menteri dan ia butuh waktu. Raja memintaku bersabar.


Akhirnya aku marah. Deok Heung sudah melakukan kejahatan pada Ratu dan kami sudah menangkapnya, lalu Raja ingin menjadikan Deok Heung sebagai umpan untuk mendapatkan justifikasi dari Para Menteri untuk menghancurkan Deok Heung dan Ki Cheol tanpa harus menumpahkan darah. Aku pusing, politik membuatku lelah.  Jadi aku minta Raja segera mendapatkannya. Apapun persetujuan yang dibutuhkan Raja, aku memutuskan melakukan perintah untuk menangkap anak buah Ki Cheol yang membunuh Jang Bin.


Tiba-tiba pedangku terjatuh. Aku terkejut, ini belum pernah terjadi. Suk juga bingung dan Raja tampak cemas. Aku segera mengambil pedang dan pergi. Tapi ada apa dengan tanganku?
Saat menangkap anak buah Ki Cheol, tanganku gemetaran lagi, benar-benar tidak terkendali. Ada apa ini. Aku memijat tanganku sambil berpikir, tadi saat di depan Raja tangan kiri, sekarang kanan. Apa efek serangan inti es Ki Cheol masih berpengaruh, tapi sepertinya sudah tidak apa-apa. Kalau saja Jang Bin masih hidup. Aku tidak bisa membuat Imja cemas.

Aku menemui Bibi Manbo dan minta obat untuk Imja, meskipun tidak ada yang cocok tapi paling tidak bisa menahan sakitnya.


Aku segera pulang ke markas dan melihat Imja membagikan teh herbal pada Woodalchiku. Aku mencobanya dan ternyata memang segar. Aku hanya merasa senang bisa melihat Imja dan kembali padanya.

Malamnya, aku tertangkap basah menjatuhkan sisir. Dua kali. Imja langsung curiga dan merasa ada yang tidak beres dengan lenganku. Ia mengetesnya dan merasa aneh karena tanganku baik2 saja.

Aku berkata itu mungkin karena kurang tidur. Aku istirahat dan minta Imja tidur di sampingku sambil menggenggam tanganku. Rasanya damai sekali dan aku sungguh berharap kami bisa seperti ini selamanya.


Raja mendapat undangan untuk datang ke Kedutaan Yuan menghadiri pemeriksaan terhadap Deok Heung. Raja menerimanya dan akan pergi ke sana. Aku benar-benar tidak mengerti, ini jelas jebakan. Ahn Jae juga setuju dengan pendapatku. Tapi Raja ingin mencoba menggerakkan hati Para Menteri dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai umpan.

Aku melaksanakan perintah Raja, untuk mengawalnya masuk Jung Dong Heng Sung. Sementara pasukan Ahn Jae bersiap untuk menyerbu kalau ada perintah. Aku fokus untuk memastikan Raja bisa masuk dan keluar Kedutaan Yuan dengan selamat. Itu saja untuk saat ini.

Imja membantuku mengikat baju perangku. Rasanya berat sekali meninggalkan Imja, tapi kami tidak mengucapkan selamat tinggal. Karena aku yakin kami pasti akan bertemu lagi.


Kami tiba di Jung Dong Heng Sung. Aku melihat sekitar, pasukan bayaran mereka banyak sekali. Sementara Woodalchi hanya belasan orang. Raja sadar kalau hari ini mungkin akan sangat buruk hasilnya. Aku bisa memperkirakannya.


Sesuai perkiraanku, mereka memang ingin membunuh Raja. Bahkan Yuan sudah memilih Deok Heung-gun sebagai Raja baru Goryeo. Apa aku harus menyembah Deok Heung? Mungkin lebih baik aku mati. Ini resiko yang kuambil saat aku menetapkan hati untuk memilih Rajaku sendiri. Jika aku masih seperti dulu, mungkin tanpa perasaan aku akan berlutut di depan Deok Heung. Karena siapapun Rajanya tidak terlalu berarti untukku.

Mereka sudah mulai menyerang, tapi Raja menolak kembali ke Istana. Aku harus menahan diri untuk tidak memaki Raja. Aku melampiaskan kemarahan dengan membantai tentara bayaran. Ki Cheol juga ada tapi entah mengapa dia tidak berniat melawanku dan jalan pergi. Terserah.
Aku dan Woodalchi berusaha membuka jalan untuk segera meninggalkan Jung Dong Heng Sung. Raja menolak, dia tetap ingin tinggal di kedutaan ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi di Istana, tapi jika Para Menteri itu memang berniat menolong Raja, mereka sudah mengerahkan pasukan Istana sejak tadi.


Raja justru jalan semakin masuk ke dalam Kedutaan. Aku membantai pasukan musuh, bukan lawan seimbang, keahlian mereka sangat rendah..darah mereka tercurah sia-sia. 

Saat itu tangan kananku kambuh lagi, gemetaran tidak terkendali. Aku memindahkan pedang ke tangan kiri. Aku bisa merasakan musuh berdatangan lagi dan Deol Bae datang menghalau mereka. Aku sempat membunuh beberapa lagi.
Aku mencoba mengembalikan pedang ke tangan kananku, karena gerakannya lebih cepat tapi tanganku seperti tidak merespon, aku tidak bisa mengendalikan telapak tanganku dan pedangku jatuh begitu saja. Aku segera memungutnya dengan tangan kiri lalu menemui Raja. Aku yakin kekuatan tanganku akan kembali sebentar lagi.


Aku menghadap Raja dan mengingatkannya, cukup satu perintah darinya, pasukan istana berjumlah 900 orang yang ada diluar akan bergerak masuk dan kami akan segera pulang. Raja tetap tidak setuju, ia menunggu perintah dari Istana, dari Para Menterinya. Raja perlu persetujuan mereka untuk berperang, Raja bahkan merasa dia adalah salah satu dari rakyat itu. Aku mengerti maksud Raja, hanya saja aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dengan kondisiku yang seperti ini. Kalau terjadi sesuatu, aku tidak bisa menjamin keselamatan Yang Mulia.


Aku memutuskan, aku sendiri bersama Choong Suk, Deok Man dan Deol Bae kami ber-4 akan menghadang musuh. Normalnya, mereka bukan lawan kami. Sisa Woodalchi melindungi Raja. Pertarungan ini akan sangat lama.


Aku keluar dan melihat mayat2 mereka. Sayang sekali, mereka pasti punya orang yang mereka cintai di rumah.  Tapi mereka tidak bisa pulang hari ini. Aku berpikir, sampai berapa lama kami harus seperti ini.


Pasukan bayaran itu datang lagi, jumlah mereka banyak. Mereka hanya menyongsong kematian saja. Aku tiba-tiba merasa muak dengan semua ini. Apa aku akan terus seperti ini, mempertaruhkan nyawaku dan mencabut nyawa mereka yang tidak ada hubungannya dengan pertarungan para penguasa?


Apa aku harus terus menjalankan perintah yang bertentangan dengan pikiranku. Kapan para politikus itu akan membuat keputusan dan berapa banyak darah yang harus ditumpahkan hari ini. Pedangku mulai bernoda darah. Ini tidak biasanya.


Rasanya berabad-abad sampai Ahn Jae berdiri di depanku dan bertanya tentang Raja. Aku minta Ahn Jae menemui Raja.


Aku memutuskan mencari Deok Heung dan harus menelan kenyataan pahit, penjahat itu berhasil lolos. Ini semua karena para politikus itu terlalu lama mengambil keputusan.
Aku tiba-tiba benci dengan darah orang lain yang menempel di tanganku.


Aku lega saat bisa melihat wajah Imja lagi, tapi aku merasa kesal tanpa alasan. Aku membuang pedangku begitu saja. Imja mengambilnya dan bahkan ingin membantuku membuka baju perang. Aku menolaknya, Imja minta aku tidak memunggunginya.
Aku melarangnya menyentuh baju perangku, banyak darah disana, dan itu bukan darahku. Aku tahu Imja benci bau darah.



 Tapi Imja justru memelukku erat-erat, dia seperti mengerti betapa terlukanya aku hari ini. Terpaksa menunggu, mempertaruhkan nyawaku dan Woodalchi. Menumpahkan darah orang-orang yang seharusnya bisa pulang hari itu.
Aku memejamkan mata di bahu Imja, aku ingin istirahat.



Imja memeriksa tanganku lagi malam itu dan ia heran karena tampak sehat. Imja menduga ada masalah psikologis, apa maksudnya. Sakit ya sakit, sehat ya sehat.


Imja mengambil pedangku untuk melakukan terapi. Aku heran, lalu aku menceritakan tentang pedangku. Pedang peninggalan guruku. Imja tampak bersalah dan berkata ia menikamku dengan pedang ini.
Aku berkata ini juga pedang yang mengambil nyawa guruku. Aku jadi berpikir, apa memang pedang ini harus melukai tuannya.

Imja tanya apa itu alasan kenapa aku tidur terus selama ini. Agar bertemu guruku dalam mimpi. Aku membenarkan, awalnya memang seperti itu, tapi guruku tidak muncul lagi meskipun aku menunggunya. Imja tanya apa aku akan tidur terus kalau tidak bertemu dengannya.

Aku jujur mengaku, aku bahkan tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau tidak bertemu Imja. Aku jalan ke lorong itu tanpa tahu apa yang menungguku dan sepertinya Imja memberiku tujuan. Aku hanya menyesal tidak bisa menangkap orang yang melukainya.
 

Paginya, aku terkejut saat mendengar dari Raja ada penyusup yang menghancurkan obat penawar Imja. Dae Man dilarang mengatakan ini padaku dan Bibi berkata kalau Imja terancam nyawanya, tapi yang dicemaskan Imja justru bagaimana aku akan bertahan hidup setelah dia pergi.
Aku diam saja, menurutku saat ini Imja benar-benar keterlaluan. Beraninya merahasiakan semua ini padaku dan menanggungnya sendiri. 



Aku menemui Dansaguan untuk mencari Deok Heung. Sayang dia sudah berangkat ke Yuan. Dansaguan mengatakan sesuatu yang aneh, dia tahu Imja terkena racun yang tidak ada obatnya. Itu sebabnya Dansaguan tidak repot-repot mengeksekusi Imja, karena Imja akan segera meninggal. Lalu memintaku tidak ada di dekat Imja karena aku bisa meninggal karena Imja. Ia juga memperingatkanku soal Ki Cheol. Bukan hal baru bagiku.

Aku bisa mati karena Imja..? Lalu kenapa? Imja juga bersedia mati demi aku waktu itu, bahkan meskipun tahu akan dieksekusi, Imja tetap ingin membawaku kembali untuk menyelamatkan Raja dan Ratu. Sejak awal aku sangat menanti kematian. Dibanding harus mati demi kekacauan politik, bukankah lebih berarti mati demi Imja?



Saat itulah aku berkata pada Imja, aku sudah melakukan kesalahan. Aku serakah dan melanggar janjiku sendiri. Aku egois dan menginginkan Imja hanya disisiku selamanya, tanpa tahu resikonya. Tanpa memiliki rencana. Aku menarik lagi permintaanku agar Imja tetap disisiku. Aku salah.
Imja kembali ke kamarku dan aku langsung memintanya berkemas, kita akan berangkat besok pagi-pagi sekali. Imja dengan keras kepala menolaknya. Ia ingin berjuang, berusaha membuat obatnya disini, dengan resiko ia bisa meninggal disini. Imja ingin satu hal, yaitu aku tetap disisinya jika saat itu tiba, memeluknya sampai menit terakhirnya, tidak meninggalkannya sendiri apapun yang terjadi.


Aku keluar dan menangis. Bagaimana dia bisa begitu keras kepala.

Aku tidak peduli dan tetap pada rencana semula mengantar Imja pulang ke langit apapun yang terjadi. Imja tetap menolak. Aku marah dan putus asa, aku ingin Imja hidup. Apapun itu asalkan Imja hidup.

Imja berkata ia memang akan hidup kalau kembali ke dunianya, tapi hidup yang bagaikan mati. Hanya rangka tanpa jiwa. Karena Imja akan selalu mengingatku dan memanggil namaku dengan rasa hampa dalam hatinya.


Aku teriak, bagaimana orang sepertiku yang justru membunuh orang pada saat kekasihnya sekarat bisa melindunginya? Aku tidak bisa memintanya tinggal bersamaku. Tanganku tiba-tiba gemetaran lagi, mungkin karena pikiran dan perasaanku kacau sehingga saraf tanganku bereaksi.


Imja meraih tanganku dan memeluknya. Imja menangis.
Aku tidak tahan melihatnya, kami membutuhkan keajaiban, apakah masih ada harapan untuk kami.


CY-Diary [1]

7 comments:

  1. akuuu.. udah nggak sabarr... minggu depan udh mau ending knp nggak ada perkembangannya.... hikss hikss makasihh mbak tirza buar diarinya choi young.. yg teteeuupp bikin miriss..

    ReplyDelete
  2. aduh so sad,.... T.T.T.T.T.T.T.T.T.T.T
    tinggal 2 episode lg, kenapa ni drama ga di perpanjang aj??? sulit di tebak nih endingnya,..
    bakalan happy ending gag ya mba??? muga2 happy ending dech,.

    mba tirza fighting!!!!

    ReplyDelete
  3. Tengkyu mbak Tirza...
    Smua jd sgt mnyenangkn dgn hadirny diary yg mharu biru ini. Skrng aq mgerti knp mbak tirza memutuskn mbuat diary ini.
    Knyataan bahwa Jend. Choi Young mahir bpuisi itu sgt bkesan buat aq. Aq suka puisi walau tak pandai mbuatnya.
    Aq jg bharap ending yg bahagia bg Choi Young n Eun Soo.
    Smoga pr penulis naskah drama ini bs mwujudknny...

    ReplyDelete
  4. Andai bisa diperpanjang dramanya dengan cerita kehidupan mereka dizaman skrg...oh so sweet.....

    ReplyDelete
  5. mbak tirza kasi bocoran donk happy anding gak sih.....???

    ReplyDelete
  6. hmm kakak mau tanya deh choi young's diary kan udh ada . klo bisa buat eun soo diary nya :D aku penasaran sama eun soo :D klo bisa dibuat ya kak hehe aku baru nonton soalnya :p

    makasaih :)

    ReplyDelete