Thursday, November 9, 2017

Midnight Runners - Part 2



Ki Joon dan Yeol masuk ke gang tempat tinggal Yun Jung. Mereka mengetuk sebuah pintu dan seorang pria berambut kuning membuka pintu sebagian.
Yeol memberi salam, aku diberi tahu kalau Yun Jung tinggal disini. 

Pria rambut kuning tampak waspada, diam-diam ia membawa pisau lipat. Kau siapa? Joon muncul, kami dari Univ. Kepolisian. Kami melihat Yun Jung diculik.
Joon mengintip ke dalam dan melihat kaos kaki anak, apa ada orang lain disana? Pria itu terdiam, lalu berkata akan membuka pintunya. Ia menutup pintu tapi tidak membuka gerendel malah menguncinya dan melarikan diri lewat jendela.

Joon dan Yeol sadar kalau sudah ditipu. Mereka menggedor pintu. Seorang remaja putri membukakan pintu dan menunjuk jendela, dia lari lewat sana.
Joon mengejar lewat jendela dan Yeol mengejar lewat depan. Keduanya bertemu di depan gedung dan sepakat berpencar untuk mencari pria bernama Gun Young itu.


Yeol sampai di sebuah basement parkir mobil dan ia merasa curiga. Benar saja, Gun Young sembunyi dan menyerang Yeol dengan pisau.
Yeol menahan serangan dengan teori dari Prof. Yang. Bahkan ia juga mengarahkan tangan ke arah Gun Young, hiyah..! Ajaibnya, Gun Young langsung terjatuh, seperti tercekik, wuah...hebat. Berarti serangannya dengan tenaga dalam.
Yeol sampai syok sendiri, astaga! ..astaga. Joon lari mendekat, ia juga terkejut, apa kau yang melakukan itu? Yeol mengiyakan.
Joon tampak kagum, jackpot! Yeol masih syok, tekniknya bisa dipraktekkan!  Ia menyuruh Joon juga melakukan  interogasi sesuai yang diajarkan.


Mereka menekan punggung Gun Young, kenapa kau lari? Gun Young beralasan, ia lari karena dikejar.
Joon : Kau pasti melakukan kesalahan, sehingga melarikan diri.
Yeol mengambil ponsel Gun Young, berapa passwordnya? Joon minta Yeol lebih kasar lagi ha ha.. Akhirnya setelah pemaksaan, mereka mendapat passw Gun Young, 1111

Yeol membaca pesan-pesan Gun Young, dia baru saja mendapat transfer satu juta Won. Yeol murka, kau menjual Yun Jung, ya kan?
Gun Young tampak ketakutan, aku tidak melakukan apa-apa.  Joon menekannya dan Gun Young mengaku, aku hanya memberitahukan nama Yun Jung pada mereka.

Yeol : Pada siapa? Pada Gun Ho?
Gun Young : Dia bilang dia akan membeli anak-anak yang melarikan diri.

Joon memaksanya mengatakan lokasi Gun Ho. Kebab kambing, di Daerim-dong.
Gun Young mengaku memiliki kartu nama Gun Ho di dompetnya. Yeol mengambil dompet Gun Young, uangnya banyak sekali.

Joon : Apa yang akan mereka lakukan pada Yun Jung?
Gun Young tidak tahu. Ia membutuhkan uang. Joon marah, kau tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi kau tetap menjualnya? Dasar brengsek! Tidak peduli semiskin apa dirimu, tapi apa kau tidak punya malu?
Yeol menemukan alamat Gun Ho. Mereka meninggalkan Gun Young di parkiran itu dalam keadaan terikat lakban di salah satu tiang ha ha ..(jadi itu alasan Ki Joon beli lakban di 7/11)

Keduanya memutuskan kembali ke kontrakan Gun Young untuk menemui anak-anak yang tinggal disana. Akan berbahaya bagi mereka tinggal disana malam ini.

Joon dan Yeol oppa menemui anak-anak itu, kalian pasti lapar. Yeol ingin masuk ke dalam dan bertanya soal Yun Jung. Kapan kalian bertemu Yun Jung?

Mereka bertemu Yun Jung setahun lalu di penampungan anak-anak pelarian. Yun Jung melarikan diri dari rumah karena ayah tirinya selalu memukulinya. Bahkan katanya, kadang ia dipukuli sampai pingsan.

Joon dan Yeol tertegun. Salah seorang anak tanya dimana Yun Jung eonni. Yeol dengan polos menjawab kalau ada yang memukul dan menculik Yun Jung.
Anak-anak itu langsung menangis cemas, bagaimana ini? Joon menegur Yeol, kenapa bicara seperti itu. Yeol merasa mereka harus tahu.
Ki Joon menenangkan mereka, Yun Jung tidak apa-apa, kami akan menemukannya, jadi jangan khawatir. Anak di depan Joon menggenggam tangannya, kami tidak bisa hidup tanpa Yun Jung. Anak itu berharap mereka bisa menemukan Yun Jung.
Joon tertegun, lalu menggenggam tangan anak itu, anak-anak, kami akan menemukan Yun Jung, apapun yang terjadi. Jangan menangis. (wow..apa ini janji pertama Joon sebagai calon Polisi?)

Yeol memberikan sejumlah uang pada mereka, ia minta mereka mencari tempat yang hangat untuk tidur. Kalau kami menemukan Yun Jung, kami akan menghubungi kalian.

Keduanya pergi ke Daerim-dong, mencari pria bernama Gun Ho.

Yeol mengingat teori, agar polisi bisa bekerja, maka harus ada yang melaporkan kejahatan atau ada perintah dari atasan. Joon membenarkan. 

Yeol : Tapi tidak akan ada yang lapor kalau seorang pelarian diculik. Keluarga tidak akan tahu kalau dia hilang karena dia memang sudah melarikan diri. Teman di pelarian takut pada polisi, jadi mereka tidak akan lapor.
Mereka sudah memperhitungkan semuanya, target, lokasi dan lain-lain. Mereka pintar.


Joon : Apa yang akan terjadi dengan korban penculikan?
Yeol : Perdagangan manusia.
Ki Joon melirik jamnya, tinggal 4 jam lagi, ia minta sopir mempercepat mobilnya.

Sementara itu, para penculik menyuntik paksa Yun Jung dengan obat bius. Mereka juga memalsukan ID Yun Jung.

Ki Joon dan Yeol tiba di Daerim-dong. Mereka bengong karena banyak toko dan cafe dengan papan nama berbahasa Cina. Banyak preman lagi. Joon komen, apa ini masih Korea?
Sopir taksi tampak cemas, hanya orang Korea keturunan Cina yang tinggal disini, dan banyak insiden penusukan pada malam hari. Ada banyak preman dan bahkan polisi juga tidak mau menyentuhnya. Kalian seharusnya tidak kesini kalau hanya jalan-jalan.

Joon dan Yeol turun dari taksi, mereka masuk ke rest Cina. Hanya ada beberaa orang main kartu di sudut. Keduanya duduk dan ditawari makanan. 
Joon minta ponsel Gun Young dari Yeol dan mencoba telp orang bernama Gun Ho. 

Salah seorang yang main kartu mengangkat telp. Joon segera mematikan ponsel Gun Young. Ia berbisik pada Yeol, dia orang yang kita cari.
Gun Ho heran karena telpnya mati, ia telp balik. Ponsel Gun Young berbunyi. Ki Joon panik dan berusaha mematikan ponsel. Keduanya tegang dan pucat.


Gun Ho menoleh, ia curiga melihat keduanya dan mendekati mereka. Yeol panik, ah tempat ini mahal, apa kita pergi saja? Joon setuju. wkk
Preman-preman itu mendekat, siapa kalian? Dimana Gun Young? Dimana Gun Young?! Kenapa kalian memiliki ponsel Gun Young? Mereka mulai memukuli Joon dan Yeol. Siapa kalian?


Awalnya mereka diam saja dibully para preman, tapi sedetik kemudian mereka balas menyerang. Perkelahiannya cukup sengit dan dengan cepat berhasil melumpuhkan Gun Ho dkk.
Joon+Yeol memaksa Gun Ho bicara, dimana Yun Jung? 

Tanpa sepengetahuan mereka, penjaga restoran mengirim pesan ke gank mereka. 


Gun Ho tetap tidak mau bicara, jadi Joon minta Yeol menahan Gun Ho. Ia jalan ke meja dan mengambil tusukan sate dari besi yang masih panas dan menusuk pantat Gun Ho dengan itu. 


Gun Ho menyerah dan membawa mereka ke tempat anak-anak disembunyikan. Sementara di tempat lain, ada laporan kalau Gun Ho dibawa orang. Semua preman langsung pergi mencari Gun Ho. Wah gawat..

Mereka jalan ke arah tempat Yun Jung. Yeol melihat mobil van hijau dengan plat 8338. Ketiganya masuk ke bangunan kumuh. Yeol naik ke lantai atas, ada banyak kamar dan tempatnya gelap. Benar-benar nightmare.
Yeol mengintip dari bawah celah pintu dan nyaris pingsan saat ada anak yang tiba-tiba muncul, Ahjussi..tolong aku. Dan bukan hanya anak itu, terdengar tangisan dan gedoran dari balik pintu-pintu itu, tolong aku! Keluarkan aku dari sini!
Joon mendengar tangisan mereka dari bawah, ia membentak Gun Ho, tempat apa ini? Kalian mau apa?
Gun Ho : Kami mengambil sel telur. Kami menyuntik para gadis itu dan mengambil sel telur mereka.
Ki Joon tertegun.

Yeol muncul dan meminta Joon ke atas. Gun Ho menyeringai, jangan khawatir, meskipun kami sudah mendapatkan sel telur mereka, kau masih bisa tidur dengan mereka.
Ki Joon murka, dasar biadab! dan menghantam Gun Ho sampai pingsan. Joon bergegas lari ke lantai atas.
Joon membantu Yeol mendobrak salah satu pintu. Pintu terbuka dan mereka masuk. Ada seorang gadis remaja di dalam, ia demam tinggi. Yeol melihat darah dan membuka selimutnya. Mereka terkejut karena gadis itu juga pendarahan. Oh sialan..apa yang harus kita lakukan?

Ki Joon menggendong gadis itu, kita bawa dia ke RS dulu, nanti kita datang dengan polisi. Yeol setuju, tidak ada pilihan lain.
Sayangnya mereka dihadang rombongan preman. Yeol mengambil sesuatu untuk menghalau mereka sementara Joon tidak bisa membantu karena menggendong gadis itu.
Yeol teriak, Ki Joon, pergi! Ki Joon pergi dan janji akan segera kembali.


Yeol menghadapi para preman sendirian. Awalnya tidak ada yang berani mendekat, tapi pemimpin mereka datang dan melumpuhkan Yeol. Mereka menghajar Hee Yeol beramai-ramai.
Ki Joon meletakkan gadis itu di sudut, diam disini. Joon bergegas membantu Yeol. Yeol luka-luka dan diseret pergi. Pemimpin preman itu tanya, siapa kau?
Ki Joon : Polisi!
Preman : Mana lencanamu?
Ki Joon tidak bisa menunjukkan lencananya. Preman itu mendengus, kau seharusnya tidak pura-pura jadi polisi. Ia langsung menyerang Joon. Joon bukan lawan preman itu, ia langsung tersungkur dan dipukuli habis-habisan. Ki Joon pingsan.
Ki Joon dan Hee Yeol digantung di langit-langit, telanjang dada. Hee Yeol sadar terlebih dulu dan syok karena melihat tanda di perutnya. Sepertinya mereka akan dioperasi dan diambil organ tubuhnya.
Yeol berusaha membangunkan Ki Joon. Joon masih belum sadar. Yeol menggunakan segala macam cara, akhirnya ia meludahi Joon. Kind of gross but it works.
Ki Joon akhirnya bangun, Hee yeol...ada yang menetes di wajahku. Yeol bohong dan berkata itu darah. Kurasa mereka akan mengeluarkan organ di sini. Lakukan sesuatu.


Joon mengangkat tubuhnya dan berusaha memutuskan tali. Berhasil tapi tubuhnya terbanting keras di lantai. Joon terpaksa teriak, ini sakit sekali. Joon membantu Hee Yeol melepaskan diri.
Keduanya mengenakan baju, tapi tidak menemukan jaket, dompet dan ponsel mereka. Sudahlah, kita pergi dulu dari sini.
Joon dan Yeol membuka pintu dan terkesiap, ada tumpukan preman tidur di depan ruangan mereka. Astaga...keduanya menahan nafas dan berusaha kabur melewati para preman itu.
Mereka melangkah perlahan, tapi tetap saja sial, alarm jam Ki Joon bunyi dan membangunkan preman2 itu.
Joon dan Yeol langsung lari secepat mungkin. Keduanya berusaha kabur dari kejaran preman. Benar-benar chaos.
Daerah itu benar-benar daerah rawan, tidak ada penduduk yang berani menolong keduanya. Kepala preman mengejar keduanya dengan mobil.

Ki Joon dan Yeol hampir kehabisan tenaga, untungnya mereka melihat pos polisi dan lari kesana. Para preman menghentikan pengejaran dan bergegas memindahkan para gadis yang diculik.
Polisi yang bertugas terkejut melihat keduanya. Kondisi mereka memang kacau balau. Joon lapor sambil terengah-engah, ada banyak gadis yang disekap di gedung kosong. Mereka tidak tahu tepatnya tapi jaraknya hanya sekitar 5 menit lari. Ia mengajak polisi itu kesana.
Petugas minta kartu identitas mereka.

Joon : Mereka mengambil dompet dan ponsel kami.
Petugas tetap minta kartu identitas mereka, ini adalah bagian dari proses. Yeol mencoba beragumen, apa tidak bisa melihat nomor ID kami saja? Tapi petugas itu menolak karena tetap harus melihat kartu identitas.
Joon : Jika kita tidak pergi sekarang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada gadis-gadis itu. Kita harus pergi.
Petugas : Kita harus mengikuti prosesnya.
Joon jadi kesal, apa proses lebih penting dari nyawa manusia?


Petugas itu jadi marah, Hei! Karena proses, kami bisa menyelamatkan orang.
Yeol menarik Joon, sudahlah. Ia minta maaf pada petugas. Tapi Joon terlanjur emosi, ia memaki polisi. Yeol menarik Ki Joon dan mengajaknya pergi.
Ki Joon tidak mau dan justru adu mulut dengan polisi itu. Polisi mengarahkan taser dan melumpuhkan keduanya.
Paginya, Prof Yang mendapat laporan tentang keduanya dan bergegas ke pos polisi itu.
Ki Joon dan Yeol diborgol. Keduanya menunduk saat melihat Prof Yang. Kenapa mereka diborgol?


Petugas menjelaskan, mereka tidak punya kartu identitas dan membuat keributan di kantor polisi.
Prof. Yang : Mereka mahasiswa Univ Kepolisian, lepaskan mereka.
Polisi : Tolong tunjukkan identitas anda. wkkk prosedur..

Prof Yang : Aku Prof Yang Sung il dari Univ. Kepolisian. 
Polisi itu langsung menghormat dan membebaskan keduanya.

Ki Joon dan Hee Yeol langsung lapor, Pak..ada banyak gadis disekap di sebuah gedung kosong.

Yeol memberikan petunjuk yang ia temukan, label obat suntik Menopur, ada yang mengambil sel telur mereka.
Prof Yang membaca label obat dan tanya dimana lokasinya.


Mereka pergi ke lokasi. Di jalan, Prof Yang menjelaskan, tahun 2007, aku menangkap penjual sel telur dan melihat obat ovulasi ini untuk pertama kalinya.

Wanita yang sehat biasanya memproduksi satu sel telur, tapi dengan obat ini, dia bisa memproduksi lebih dari 20 sel telur. Penjual sel telur menghubungkan pasangan tidak subur dan donatur sel telur untuk uang.
Dari cerita kalian, kukira ada organisasi kriminal yang menculik dan menyekap para murid SMU wanita dan secara berkala mengambil sel telur mereka seperti peternakan sel telur.

Mereka tiba di gedung kosong itu dan tentu saja gedung itu sudah kosong. Joon dan Yeol membawa Prof. Yang masuk ke kamar gadis yang pendarahan, tidak ada siapapun disana. Mereka hanya menemukan bekas darah sebagai bukti.
Joon : Mereka dikurung disini.
Yeol : Dia pendarahan dan demam tinggi.

Prof. Yang melihat kondisi kamar itu dan berkata kalau kasus seperti ini bukan kasus yang bisa ditangani polisi patroli biasa. Ia akan minta bantuan RIU (Regional Investigation Unit). Joon dengan polos tanya apa mereka akan memulai penyelidikan hari ini.
Prof. Yang : Tidak secepat itu, mereka memiliki jadwal mereka sendiri. Penyelidikan internal saja akan memakan waktu 2 minggu.


Yeol terkejut, 2 minggu? Tapi kata anda yang paling krusial dalam kasus penculikan adalah waktu.
Prof. Yang membenarkan, itu benar. Tapi ada nyawa lain yang juga harus diselamatkan. Setiap nyawa itu penting.

Yeol : Apa ada unit yang bisa mulai lebih awal?
Prof. Yang : Ada unit bernama unit penyelidikan berbasis intelijen.  SIU (Special Investigation Unit) dan RIU yang biasanya membawahi mereka. Tapi SIU lebih sibuk dari RIU saat ini.

Joon : Apa kita bisa mencari mereka sendiri?
Yeol setuju, mereka pasti belum bisa membawa para gadis itu pergi jauh. Prof. Yang mengerti perasaan keduanya, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kembalilah ke sekolah.


Joon berseru, Prof Yang! Ia tampak stres. Joon setengah menahan tangisnya, mereka lebih muda dari kami. Mereka diculik dan disekap.
Prof Yang membentak keduanya, anak-anak! Kalian bukan petugas polisi. Kalian masih mahasiswa.

Joon putus asa : Meskipun demikian, kami menyaksikan kejahatan dan memiliki bukti. Kenapa kami tidak bisa melakukan apapun?
Prof. Yang : Jangan merasa sok pintar di depanku. Biarkan orang dewasa mengurusnya. Mengerti? 

Yeol : Prof Yang, saya tahu nomor polisi mobil van penculik itu. Van starex tua 37GU8338. Saya tahu Bapak bisa mencari data nomor polisi hanya dengan sekali telp. Saya mohon Prof, hanya sekali ini saja.
Joon juga memohon. 

Prof Yang menghela nafas dan telp seseorang, ia minta bantuan melacak nomor polisi itu. Sayangnya, nomor polisi itu memang palsu. Mereka harus memeriksa CCTV secara manual dan penyelidik harus mengajukan permintaan resmi pada pusat CCTV. RIU akan bisa membantu menyelidiki kasus ini dalam sebulan.
Yeol dan Joon lemas, satu..bulan? Bagaimana kami bisa menunggu selama sebulan?


Prof. Yang sedikit kesal : Lalu apakah mereka harus meninggalkan semua kasus yang diselidiki dan menyelidiki kasus kita?
Yeol : Bukan itu maksud kami..

Prof. Yang menghela nafas, aku sudah selesai bicara. Sekarang kalian kembali ke sekolah dan belajarlah dengan keras. Jika kalian terlibat dengan hal ini lagi, kalian akan dikeluarkan. Mengerti?
Joon menunduk dan Yeol kelihatan pasrah, keduanya menjawab pelan, baik Pak. 
Prof. Yang : Jawab yang keras dan jelas!
Keduanya : Baik Pak!
Ki Joon dan Heo Yeol kembali ke kampus dengan wajah muram. Keduanya mandi dan mencoba menenangkan diri. Pikiran mereka masih terganggu dengan kasus penculikan itu, apa mereka akan baik-baik saja?
Yeol mematikan kran air, paling tidak..kita masih punya waktu untuk menyelamatkan mereka.


Jae Ho masuk ke kamar mandi dan menagih jaketnya, tapi tertegun saat melihat kondisi tubuh kedua rekannya yang  penuh luka. Astaga...apa yang terjadi dengan kalian?
Joon : Terjadi sesuatu. Aku akan mengganti jaketmu. Maaf.

Jae Ho jadi tidak enak, sudahlah lupakan. Kalian sudah ke RS?  
Joon : Kami baru saja kembali.
Hee Yeol tiba-tiba berseru, hei! ayahmu masih di kepolisian kan?
Jae Ho membenarkan, pastinya. Kepala Polisi sangat menyukai ayahku. 
Joon : Kalau begitu dia mungkin memiliki teman di pusat CCTV Gangnam kan?

Jae Ho tampak ragu, kita juga tahu seseorang yang bertugas disana. Joon dan Yeol heran, siapa?
Jae Ho : Aku terlalu takut untuk mengatakannya.
Joon mendesaknya, katakan saja. Jae Ho masih ragu, ah tidak bisa. Hee Yeol mendesaknya, katakan !! Keduanya mendesak Jae Ho.
Jae Ho : Medusa!
Medusa yang dimaksud Jae Ho adalah Chief Lee Joo Hee. Chief Lee galak sekali, ia bahkan memarahi petugas senior yang ketahuan main game di ponsel saat jam kerja. Petugas itu hanya bisa minta maaf sambil membungkuk.
Ponsel Chief Lee berdering. Ternyata Yeol yang telp. Tapi Yeol tidak berani bicara dan memaksa Joon bicara haha
Joon panik, ah selamat sore, senior. Hormat, ya saya kadet Park Ki Joon angkatan kelas 2017.

Diluar dugaan, Medusa tampak senang menerima telp dari Ki Joon, oh.. sudah lama tidak bertemu.
Ki Joon menanyakan kabar Chief Lee. Keduanya basa basi sebentar, lalu Chief Lee tanya apa yang diinginkan Ki Joon.

Ki Joon : Teman saya menjadi korban tabrak lari di Gangnam. Polisi berkata nomor kendaraan pelakunya tidak terdaftar. 
Chief Lee : Wah..kami harus secara manual memeriksa semua rekaman CCTV untuk menemukan bukti. Itu akan memakan waktu berhari-hari.
Joon : Ya, saya mengerti. Tapi ini sangat penting. Saya mohon, sekali ini saja.

Chief Lee : Baiklah, nomor plat kendaraan, tahun pembuatan dan modelnya. Waktu dan lokasi kejadian, tempat terakhir terlihat. Kirimkan semua datanya padaku. 
Joon langsung mengiyakan.
Chief Lee : Aku akan menemukan mobil itu. Kau tangkap pengemudinya. Agar tidak ada orang lain yang menjadi korban. Mengerti?
Joon langsung berterima kasih. Terima kasih..terima kasih Bu! Hormat! wkk

Yeol dan Joon langsung semangat, ayo kita harus siap-siap. Kita membutuhkan senjata. Wee..nekad juga anak-anak ini.
Ki Joon dan Yeol pura-pura disuruh Prof.Yang dan meminjam sejumlah perlengkapan polisi, seperti tongkat, borgol, taser, pelindung badan. Petugas tidak curiga dan minta barang-barang ini dikembalikan hari Rabu.
Joon dan Yeol berlatih menembak.
Para penculik mengecek kondisi seorang anak remaja. Kondisinya parah sekali dan tidak akan bisa diambil sel telurnya. Mereka memutuskan untuk mengambil organ tubuhnya saja. 

Gun Ho mengangkat anak itu dan membawanya pergi. Remaja itu memohon, jangan bunuh aku. 
Yun Jung berusaha mencegah, kemana kalian membawanya? Tolong selamatkan dia. Preman itu mendekat dan menendang Yun Jung. Setelah preman itu pergi, seorang anak memeluk Yun Jung, eonni..kau tidak apa-apa? oh geez..this is hard to watch.


Ki Joon dan Hee Yeol latihan bela diri dan olah raga dengan keras. Mereka makan daging sebagai tambahan energi. Berlatih lagi. 
Prof. Yang memberikan kuliah, "Penyelidikan berbasis intelijen dimulai tanpa menerima laporan kejahatan. Polisi pertama-tama mengenali kejahatan dan memulai penyelidikan."

Tapi ia sedikit terhenti saat melihat tatapan mata Ki Joon dan Hee Yeol yang sangat menusuk. Mereka tahu sama tahu kalau semua itu hanya teori, sedangkan praktek di lapangan, tidak sesederhana itu. Prof. Yang hanya menghela nafas dan melanjutkan kuliahnya wkk

Keduanya mengkonsumsi minuman berenergi dan latihan berat lagi. Makan daging panggang. Latihan ..latihan, dan latihan lagi. 
Joon sedang latihan saat Medusa telp. Chief Lee menegurnya, kenapa lama sekali baru dijawab?
Joon langsung memberi hormat, siap Bu!

Chief Lee : Mobil yang kalian cari adalah 37GU8338, benar kan? 

Joon membenarkan dan Chief Lee memberikan lokasinya, pada tanggal 13 dan 27 Nov jam 5 sore, mobil itu belok kiri di perempatan Kyodae ke arah Seoul Arts Center. Oya ada satu info lagi yang menarik, dalam dua kesempatan itu selalu ada mobil Starex di belakang van itu. Ada logo klinik kesuburan H, mungkin ada hubungannya. Kalian selidiki saja.

Ki Joon : Ya Bu, terima kasih, Bu!
Setelah menelepon Ki Joon, Medusa tersenyum tipis. Hee... (Medusa naksir Ki Joon? atau kagum dengan karakternya wkk)
Yeol dan Joon mencari informasi tentang klinik itu di internet. Yeol merasa klinik itu adalah tempat mereka menjual sel telur para gadis.
Klinik itu tutup setiap hari Minggu ke-2 dan ke-4 tiap bulannya. Hari Minggu ke-2 berarti 2 hari lagi. Joon menghela nafas, apa kita bisa melakukannya?
Yeol nyengir, Joon heran, kenapa kau tersenyum ? Yeol tersenyum lebar, kau takut? Joon tertawa, diam kau. Keduanya tertawa.
Keduanya serius lagi, gadis-gadis itu..ayo kita selamatkan mereka.
Yeol : Dan tetap hidup setelah melakukannya.
Klinik H
Dokter menemui pasangan yang mencari donor sel telur. Dokter itu menunjukkan foto Yun Jung. Yun Jung-ssi adalah mahasiswa Sastra Inggris yang mendonorkan sel telur untuk biaya kuliah. (Bohong banget)
Dokter : Saya bertemu dengannya sendiri. Dia sehat dan ramah. Dia juga tinggi (jadi agar keturunan anaknya bagus)
Pasangan itu tampak tertarik. Si istri memuji wajah Yun Jung yang cantik.

Dokter : Biaya In Vitro Fertilization / Bayi tabung dengan sel telur Yun Jung-ssi adalah 80 juta Won! (gila ini dokter, itu hampir 1 M)
Pasangan itu tidak keberatan, apapun demi bayi kami. Dokter janji akan memberikan bayi paling cantik untuk mereka.

Para gadis dimasukkan ke dalam mobil van. Mereka menjerit ketakutan.

Ki Joon dan Hee Yeol naik bis ke arah Seoul. Sementara para gadis dibawa ke klinik dengan mobil van.
Ki Joon dan Yeol melihat mobil van 8338 masuk ke parkiran bawah tanah klinik.
Para gadis diturunkan dari mobil dan dokter memberikan 20 juta Won pada preman itu. Jadi si dokter untung 60 jt won! itu baru satu sel telur lo.

Ki Joon dan Hee Yeol ready to act, mengenakan seragam ringkas hitam dan semua perlengkapannya.

Perawat menyuntikkan obat bius pada gadis-gadis itu. Mereka membawa Yun Jung ke ruang operasi. 


Joon dan Yeol jalan ke basement langsung menemui Gun Ho dkk.  Gun Ho memanggil teman2 lain. Tapi kali ini Joon dan Yeol sudah jauh lebih siap. Keduanya maju menyongsong preman2 itu.

Perkelahian sengit pecah. Kalah dalam jumlah tapi mereka berdua sangat tangguh. Meskipun terdesak, Yeol tetap melawan keras. Sepertinya tangan Yeol luka parah. Joon juga mati-matian melawan, ia melumpuhkan beberapa orang dengan senapan listrik.

Keduanya berhasil mengalahkan para preman meskipun babak belur lagi. Tangan Hee Yeol luka parah. Joon terkejut dan memegangnya, membuat Yeol teriak kesakitan. Itu retak berarti.
Hee Yeol lebih panik melihat taser Joon yang rusak. Apa? ah habislah kita. Joon mengajak Yeol segera keatas sebelum preman-preman itu sadar.

Dokter siap mengambil sel telur Yun Jung di ruang operasi. Joon dan Yeol naik lift. Keduanya keluar dan hanya mendapati ahjumma cleaning service.

Joon dan Yeol dengan sopan tanya dimana ruang operasi. Ahjumma itu menjawab, lantai 8. Keduanya membungkuk, terima kasih. Yeol senyum manis lagi wkk 


Lift terbuka dan keduanya dihadang pemimpin preman yang jago berkelahi itu. Astaga..mereka harus bertarung lagi.
Joon ditendang dan Yeol dipukuli di dalam lift. Joon menarik telinga preman itu. Keduanya berusaha menjatuhkan pria itu.
Sementara itu, Dokter mengamati sel telur Yun Jung. Banyak sekali telurnya.


Joon dan Yeol susah payah melawan kepala preman. Pria itu tangguh sekali. 

Hee Yeol berbisik, kita borgol saja dia. Joon usul, dipukul saja dulu dengan tongkat. Preman itu murka karena kepalanya berdarah. Mereka bertarung lagi  Joon mendorong pria sampai memecahkan kaca. Ia berusaha memborgolnya tapi  gagal.  Pria itu juga melukai Yeol. Joon murka dan membantingnya dengan keras. 
Ki Joon dan Hee Yeol sepakat menyerang bersama dan kali ini berhasil melumpuhkan preman itu.  
Mereka bergegas ke Ruang Operasi, tapi beberapa saat kemudian kembali lagi untuk mengambil perlengkapan polisi yang berceceran, mereka masih harus mengembalikan semuanya ke bagian perlengkapan wkk.


Ki Joon membuka kamar operasi, berhenti! Dokter terkejut, siapa kalian? Ki Joon tidak mau repot menjawab, ia langsung melumpuhkan dokter. 
Yun Jung ada dalam pengaruh anestesi. Ki Joon tanya dimana para gadis lainnya. 



Ki Joon menggendong Yun Jung di punggungnya. Ia dan Yeol menemukan para gadis lainnya. Semua dalam kondisi tidak sadar atas pengaruh anestesi. 

Ki Joon menghela nafas, Hee Yeol...kita harus menelepon Prof. Yang

Hee Yeol terkejut, telp Prof. Yang? Kita akan dikeluarkan.
Joon tahu itu, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Hee Yeol tersenyum, ia pasrah. Baiklah, kita lakukan saja.

Polisi menyerbu klinik itu.  
Prof. Yang jalan bersama Ki Joon dan Hee Yeol ke arah ruang rapat. Ia berhenti di depan pintu dan tanya, kalian tidak menyesal meskipun kalian dikeluarkan, benar kan?
Ki Joon dan Yeol menghela nafas. Ki Joon menjawab, ia tetap percaya kalau ia sudah melakukan hal yang benar.

Yeol juga sama, Tapi Prof, saya masih ingin mengikuti pelajaran di kelas.

Prof Yang : Kenapa?
Hee Yeol : Saya mengira kami mempelajari hal yang tidak berguna di sekolah. Tapi itu tidak benar. Saya masih ingin belajar lebih banyak lagi. 
Prof. Yang tanya pendapat Ki Joon. Ki Joon juga tetap ingin mengikuti kuliah. 
Ki Joon : Saya...ingin menjadi polisi.


Ketiganya masuk ke dalam ruang rapat. Para petinggi Univ. Kepolisian terbelah dua, yang pro berkata tindakan keduanya bisa dibenarkan, mereka berjasa menyelamatkan 20 orang korban penculikan. Tapi yang kontra berkata mereka tidak bisa memberi penghargaan pada orang yang melakukan kekerasan. Mereka sudah melakukan kejahatan.

Prof wanita tidak setuju, kau sudah gila menyebut siswa kita penjahat. Mereka bukan siswa biasa, mereka itu calon polisi masa depan. Dua pihak berdebat sengit.

Presdir mengetuk palu melerai semuanya. Prof. Yang, bagaimana menurutmu?


Prof. Yang : Bicara soal memberikan kesan buruk, jika Park Ki Joon dan Kang Hee Yeol mengabaikan para korban penculikan itu dan tetap berada di kampus, saya rasa itu akan menjadi kesan yang jauh lebih buruk. Kita mengajarkan mereka untuk menjadi yang pertama membantu masyarakat sipil yang ada dalam bahaya. Tapi jika mereka mengabaikan para korban agar mereka tidak dihukum, saya rasa itu lebih tidak terhormat, dan mereka harus dikeluarkan.

Secara pribadi, saya iri pada mereka berdua. Kita dulu memiliki semangat seperti itu. Kita tidak takut dihukum jika itu soal menangkap penjahat. Saya rasa kita sudah berhasil mendidik mereka. Mereka tidak seperti anak-anak yang egois itu. Mereka lari sepanjang malam demi orang lain. Saya merasa bahagia karena berhasil mendidik mereka dengan baik.

Presdir menghela nafas, jadi apa yang akan kau lakukan pada mereka?

Pintu rapat terbuka, rapat selesai. Ki Joon dan Hee Yeol berdiri dan menerima saja semua gerutuan para Profesor.
Prof. Yang menemui keduanya, Park Ki Joon, Kang Hee Yeol. Kalian seharusnya dikeluarkan. Tapi Presdir mengampuni kalian dan kalian harus mengulang setahun.
Ki Joon dan Yeol berpandangan. Prof. Yang tanya, kalian tidak suka?

Yeol : Saya menyukainya Pak. Terima kasih, Pak.
Prof. Yang menambahkan : Dan kalian dihukum 500 jam kerja bakti. Kalian akan tinggal setahun lagi, jadi akan ada banyak waktu. Kalian tidak suka?

Keduanya menjawab, kami menyukainya Pak!
Prof. Yang : Sepertinya kalian tidak tulus.
Ki Joon dan Yeol : Kami menyukainya, Pak!


Prof. Yang memberi aba-aba siap dan dia memberi hormat pada keduanya. Joon dan Yeol tertegun, Prof. Yang tersenyum, ia menurunkan tangannya dan jalan pergi.

Ki Joon dan Hee Yeol bergegas mengikuti Prof. Yang. Mereka tukar pandang dan tersenyum lebar. Keduanya memberi hormat pada Prof. Yang sambil berseru : Terima kasih, Pak!


Beberapa waktu kemudian.

Ki Joon dan Hee Yeol sedang sibuk menyapu daun di halaman kampus. Joon tanya, Hee Yeol, berapa lama lagi sisa jam hukuman kita?

Hee Yeol : 473 Jam (wkkk dari 500, jadi hukumannya masih laaammaa) ..dan 20 menit.
Ki Joon mengeluh. Ia tidak tahu ada seorang gadis yang jalan mendekatinya. Yeol melihatnya. Ki Joon justru mengajak Yeol ke warnet setelah jam kerja bakti mereka selesai. Kita main tembak-tembakan. Ki Joon heran, apa yang kau lihat? Yeol menunjuk ke belakang.


Ki Joon berbalik dan tertegun. Yun Jung berdiri di seberang. Ia tampak lebih baik. Yun Jung tersenyum sambil menahan tangisnya. 
Ki Joon dengan kikuk mengangkat tangannya, halo! Yun Jung menghapus air matanya dan tersenyum. Yun Jung jalan ke arah Ki Joon dan memeluknya.
Yun Jung menangis, terima kasih.
Yeol merasa terharu, ia gengsi dan menyalahkan angin haha..

Ki Joon menepuk punggung Yun Jung, ia tersenyum..ya sama-sama.

Hee Yeol tidak mau kalah. Ia menjatuhkan sapu dan ikut memeluk Yun Jung. Kau selamat. Hee Yeol menghapus air matanya.

Yeol melepaskan pelukannya, kau baik-baik saja? Yun Jung mengiyakan. Ki Joon menarik Yun Jung, coba kulihat apa kau baik-baik saja. Ia memeluk Yun Jung lagi haha...ini mah modus wkk

Ki Joon dan Hee Yeol meninggalkan tugas kerja bakti mereka dan mengajak Yun Jung berkeliling melihat-lihat kampus.
"Kau kelihatan baik-baik saja. Aku Kang Hee Yeol, aku Park Ki Joon."


The End

Part [1]

Notes,
Paruh kedua film Midnight Runners ini temanya sedikit berat dan sensitif. Kasus human trafficking adalah kasus serius yang menjadi mimpi buruk di semua negara. Film adalah gambaran apa yang ada di dunia nyata dan yang di dunia nyata bisa jadi jauh lebih mengerikan. Ini mungkin cuma ujung dari gunung es saja. Film cuma a wake up call dan semoga para penguasa berani mengatasi masalah human trafficking ini.


At least, di Film ini masih ada anak-anak muda yang peduli dan berani melawan kejahatan. Good Job..Park Seo Jun and Kang Ha Neul-ssi. 
Semoga Film ini dijadikan drama hehe...mereka berdua cocok juga jadi partner dalam drama Polisi, just add Kim Ji Won ^^
Thank's for reading

1 comment: