Showing posts with label General knowledge. Show all posts
Showing posts with label General knowledge. Show all posts

Wednesday, August 28, 2013

Ad Genius Lee Je Seok

Lee Je Seok adalah seorang Advertiser jenius dari Korea yang kisah hidupnya diangkat dalam drama Ad Genius Lee Tae Baek. Aku tidak akan membahas dramanya, karena bisa lihat sendiri di B-Channel/CT Channel. Inti dramanya, Lee Tae Baek adalah seorang advertiser berbakat dari Korea, berusia diawal 30-an tahun tapi belum juga bisa mendapatkan pekerjaan di kantor agensi iklan di Seoul. Kantor iklan Seoul beralasan, Tae Baek hanya seorang advertiser dari kota kecil di Korea yang tidak cukup bagus untuk membuat iklan di Seoul. Untuk bertahan hidup, Tae Baek bekerja sebagai pemasang iklan billboard di atas gedung tinggi di Seoul.

Tae Baek mendapatkan banyak kesulitan dalam hidup, ia juga ditinggal pergi oleh pacarnya, ide-idenya dicuri begitu saja tanpa ada kredit sama sekali untuk Tae Baek. Tae Baek juga masih harus bertanggung jawab untuk pendidikan adik perempuannya dan sebagainya.

Lee Je Seok life

Mirip seperti dramanya, kehidupan asli Lee Je Seok juga tidak jauh berbeda. Khususnya masalah karir di bidang advertising. Kalau masalah asmara, mungkin lebih didramatisir. Lee Je Seok lulus dengan predikat honors dari Universitas Keimyung th 2005. Dengan IPK tinggi, Lee Je Seok merasa percaya diri dan yakin ia bisa mendapat pekerjaan di agen iklan besar. Tapi saat Lee mulai memasukkan lamaran kerja di perusahaan iklan lokal, dia bahkan tidak masuk ke daftar interview.
Lee Je Seok berusaha mengikuti berbagai macam kompetisi iklan lokal untuk memperbaiki resume-nya, tapi ia tidak pernah memenangkan kompetisi. Lee Je Seok merasa dirinya seperti seorang pecundang dan berpikir, ini karena dia adalah lulusan universitas di Daegu dan bukannya Seoul.



Th 2006, Lee Je Seok mendaftar ke New York City's School of Visual Arts (SVA) untuk memperluas cakrawalanya. Tapi saat itu juga seorang pria setengah baya mengkritik karyanya. Je Seok memiliki perusahaan percetakan iklan kecil di Daegu, dimana Je Seok biasa membuat spanduk atau leaflet iklan untuk toko-toko lokal. Lee Je Seok bangga dengan hasil karyanya sampai seorang pria setengah baya itu mempermalukannya.

"Sulit untuk masuk ke Seoul dari Daegu tapi mudah sekali kalau masuk ke Seoul dari New York." Kesuksesan yang ia raih di New York dengan mudah memberinya tiket emas untuk sukses di Korea.

Beberapa iklan karya Lee Je Seok untuk Hyundai Motors juga ditayangkan dalam awal drama Lee Tae Baek :


Lee Je Seok a.k.a Jeski
Lahir : Daegu, 1 Oktober 1982
Pendidikan : Sekarang sedang mengambil Master di Yale University (MFA, Master of Fine Arts)
School of Visual Arts NY (BFA with honors)

Pernah kerja di : J.W.T New York,
BBDO New York. Draft FCB New York.

Awards :
Grand prix winner (outdoor) from New York festivals in 2009
Red Dot Award (German) Communication design best of the best in 2009
Gold medal from Clio in 2009
Gold award from One Show in the college competition in 2007

Lee Je Seok sudah menikah dengan kekasihnya, Juli 2012. (Tidak pernah ditinggal pergi kekasihnya seperti dalam drama. Haha)

Jeski akhirnya kembali ke Korea dan membuka perusahaan iklan-nya sendiri : Jeski Social Campaign, th 2009. Perusahaan ini fokus pada pembuatan iklan PSA (Public Ad Campaign) daripada iklan komersil.
Misi Jeski Social Campaign adalah riset dan studi daripada mencari untung. Jadi Lee Je Seok menghabiskan 70 persen dari energinya untuk melakukan pekerjaan sosial daripada proyek komersil. 


Filosofi Lee Je Seok ;
Menurut Lee, orang seperti dirinya bisa mengubah dunia ke arah lebih bai karena iklan bisa mengubah cara berpikir orang.
"Ad campaigs can't make you taller but they can make you think that you're not short"
Sepanjang hidupnya, ia mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan : Kenapa aku hidup dan apa yang akan membuat hidupku lebih berarti.

Jeski akhirnya memutuskan untuk bekerja membantu orang-orang kurang beruntung dengan bakat genius-nya. Dia sangat pintar dan cukup berbakat untuk membuat karya yang bisa menghasilkan penghargaan dan ia ingin membawa perubahan menggembirakan pada dunia lewat karya-karyanya.

Jeski lebih suka membuat orang miskin bahagia daripada membuat orang yang sudah bahagia sedikit lebih bahagia. Itulah mengapa 70 persen klien Jeski berasal dari Organisasi nirlaba, seperti Palang Merah, Korea Disaster Relief, World Vision, Political Campaign dan Salvation Army (Bala Keselamatan).

Jeski quotes : "I want to make other people do good deeds." "Follow your own worthy rules rather than rules which others follow." "To make creative advertisements and look at everything with a different viewpoint."

Lee Je Seok adalah orang Korea pertama yang mendapatkan penghargaan prestisius, termasuk Clios.

Beberapa karya kreatif Lee Je Seok/Jeski :

 Pemberian kecil dari kita, besar artinya untuk dia

Ini salah satu social ad favoritku
 Makanan, Bukan Missil
Rakyat Korut kelaparan sampai hampir mati.
Menurutmu, kemana uang bantuan makanan itu pergi?

Polusi membunuh kita
Iklan ini akan muncul di ep 14 Ad Genius Lee Tae Baek

 Bantulah anak Afrika mendapatkan air minum.

 Selamatkan setiap pohon, seolah itu adalah pohon yang terakhir.

For some, it's Mt. Everest
Help handicaps build more facilities
Mendaki tangga untuk beberapa orang, bagaikan mendaki gunung Everest. Jeski menggugah masyarakat untuk membantu mendirikan lebih banyak lagi fasilitas untuk penyandang cacat.

Aku suka pelaku iklan seperti Jeski, yang tidak hanya mengejar uang dan keuntungan tapi juga memiliki hati untuk sesamanya. Iklan-iklan yang kreatif, cerdas dan menyentuh. Iklan yang tidak membodohi masyarakat. 

Source : jeski.org

Monday, October 15, 2012

Kematian Raja Gongmin - Sebuah Misteri Pembunuhan


Deskripsi pembunuhan dan penyelidikan kematian Raja Gongmin bisa ditemukan dalam Goryeosa vol ke 131, Buku ke-44 Biografi, Bagian ke-5 Kisah Hidup Penghianat dan dalam buku Kisah Hidup Hong Ryun.
(Sumber Of Tales and Enigmas by Kang Min Soo halaman 156)

Pada hari ke 21 Bulan ke -9 kalender bulan dalam tahun ke 23 pemerintahan Raja Gongmin (1374), di istana Raja di Songdo, ibukota Goryeo.

Beberapa pria memasuki kamar pribadi Raja di tengah malam buta dan membantai Raja dengan pedang. Saat itu (tidak jelas apakah selama pembunuhan atau setelah pembunuhan), paling tidak ada 3 orang yang berteriak, "ada musuh yang masuk!" tapi pengawal istana tidak bereaksi karena satu alasan.

Pelayan istana meskipun sudah mendengar (dari siapa?) kalau terjadi musibah mengerikan menolak keluar dari kamar mereka.


Setelah para pembunuh melarikan diri, seorang kasim bernama Yi Gangdal akhirnya masuk ke kamar Raja dan melihat kalau kamar itu penuh dengan darah. Dia mengatakan pada yang lain kalau Raja tidak sehat dan mengunci pintu. Kasim Yi kemudian mengikuti perintah Raja (Tidak dijelaskan perintah Raja siapa. Tidak mungkin perintah Gongmin karena dalam catatan ditulis kalau serangan pedang pertama membuat sebagian otak Raja Gongmin melayang, jadi Raja sudah meninggal saat ditemukan dan apa perintah ini diberikan sebelum Raja akan dibunuh? Jadi Raja tahu kalau dia akan dibunuh? tidak jelas disini.) dan dia mengumpulkan para Menteri tertinggi, Gyeong Buheung, Yi Inim, dan An Sagi, lalu mengatakan pada mereka apa yang sudah terjadi.

Ketiga Menteri itu setuju merahasiakan kejadian itu untuk sementara ini agar mereka bisa menangkap penjahatnya secepat mungkin.

Setelah mereka bertanya pada semua staf Kerajaan, mereka memecahkan kasus itu karena satu kesalahan yang dilakukan oleh pembunuh itu. Seorang Kasim bernama Choe Mansaeng, pelayan pribadi Raja, kedapatan mengenakan baju dengan noda darah (Dia tidak ganti baju setelah membunuh!). Saat dia diinterogasi, Choe Mansaeng mengatakan cerita yang terdengar menjijikkan. Bagaimana dia dan lima orang lainnya merencanakan kejahatan ini. Dia menyebut nama-nama rekannya, yaitu Hong Ryun, Han An, Gwon Jin, Hong Gwan, dan O Seon, semuanya adalah anggota elit Jajewi (Noble Youth Guards/Hwarang-nya Goryeo) yang menjadi teman dekat Raja selama dua tahun terakhir ini.


(Kang Min Soo : Deskripsi tentang Jajewi, bisa ditemukan dalam Vol 43 Goryeosa, Buku ke-6 Raja Gongmin, hari pertama bulan ke-10 tahun bulan pada tahun ke-21 pemerintahan Raja Gongmin (1372))

Tujuan dibentuknya Jajewi, yang dilembagai oleh Raja sendiri, adalah untuk memilih anak-anak lelaki yang paling berbakat dari keluarga bangsawan untuk dididik oleh Raja untuk menjadi menteri-menteri setia berikutnya. Tapi dalam catatan itu juga ditulis mengenai kisah yang sungguh mengganggu tentang tujuan lain dibentuknya Jajewi.

Istri Raja yang pertama yang paling disayanginya, Putri Mongolia yang luar biasa No Guk, meninggal tahun 1365 di tengah proses melahirkan anak mereka. (Kemungkinan besar anak itu juga meninggal.) Raja menjadi sangat sedih setelah kematian Ratu yang telah menyelamatkan nyawanya 2 tahun sebelumnya, saat pemberontakan Kim Yong. Saat Raja menjadi benar-benar depresi, dia meninggalkan sebagian urusan negara pada Perdana Menteri yang dipilihnya, seorang Biksu Buddha misterius, Shin Don.

Raja lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menangis di depan makam No Guk dan bicara sendiri pada lukisan No Guk yang ia lukis sendiri. Meskipun Raja memiliki dua selir lain dan mengambil dua orang selir lagi setelah kematian No Guk, Raja jarang mengunjungi mereka dan menderita impotensi.

Dalam catatan pada hari pertama bulan ke-10 tahun bulan (1372), tertulis kalau Raja akhirnya menjadi gila. Tampaknya anggota Jajewi tidak dipilih hanya karena kepandaian mereka, tapi karena kegagahan dan kemudaan mereka untuk tujuan mesum. Pada malam hari, Raja akan menjadi wanita sebelum memanggil pelayan-pelayan wanita masuk ke dalam kamarnya. Raja kemudian meninggalkan kamarnya dan meminta para pria muda itu untuk masuk dan melakukan hal bejat dengan pelayan wanita itu sementara Raja melihat dari kamar sebelah. Saat Raja sudah mulai terangsang, dia akan memanggil Hong Ryun dan yang lain ke kamarnya dan melakukan hubungan seksual dengan mereka.

Catatan itu juga mencatat, karena Raja tidak memiliki keturunan, dia memerintah para pria untuk tidur dengan selir-selirnya agar mendapatkan anak laki-laki yang bisa dianggap anak oleh Raja.

Selir Jeong, Hae, dan Sin menolak melakukan itu dan mengancam bunuh diri jika mereka disentuh, Raja sendiri membawa beberapa orang Jajewi termasuk Hong Ryun dan Han An, masuk ke kamar Selir Ik dan memerintahnya tidur dengan para Jajewi itu. Selir Ik menolak awalnya, tapi Raja mengancamnya dengan pedang. Selir Ik ketakutan dan mematuhi keinginan Raja.
Setelah itu, para pria ini sering masuk ke kamar Selir Ik saat malam hari dengan alasan mengikuti perintah Raja untuk menghamili Selir Ik.

Tertulis dalam buku Kisah hidup Hong Ryun, dua tahun kemudian, pada malam terjadinya pembunuhan, Kasim Choe Mansaeng menemani Raja ke toilet saat Kasim Choe lapor kalau dia baru saja dari kediaman Selir Ik dan mendapat informasi kalau Selir Ik telah hamil 5 bulan. Raja senang dengan kabar ini dan tanya dengan siapa Selir Ik tidur. Kasim Choe berkata dengan Hong Ryun.
Raja berkata sekarang ia harus membunuh Hong Ryun dan semua anggota Jajewi untuk merahasiakan semuanya. Lalu Raja menambahkan pernyataan ini , "Karena kau juga mengetahui semua ini," katanya pada Kasim Choe, "Kau juga tidak akan bisa lolos dari kematian."
Choe Mansaeng, karena takut akan dibunuh, bertemu dengan yang lain dan mengatakan apa yang dikatakan Raja.
Mereka menunggu sampai Raja tertidur, sepertinya dalam kondisi mabuk, sebelum pergi ke kamar Raja dan membunuhnya. Dan Choe Mansaeng yang pertama mengayunkan serangan mematikan.

Saat ke-5 Jajewi itu ditangkap dan diinterogasi, 3 dari mereka mengakui kejahatan mereka, tapi Han An dan O Seon tetap mengaku tidak bersalah. Harus dicatat kalau tujuan dari interogasi saat itu adalah untuk menyatakan pengakuan dan bukan menyatakan kesalahan. Karena mereka yang tidak mau bekerja sama akan dipaksa untuk kerjasama dengan berbagai macam siksaan, seperti dicambuk, mengikat mata kaki mereka dan menekan-nya dengan tongkat tajam, meletakkan benda berat di pangkuan mereka, dan mengecap punggung mereka dengan plat besi panas, jadi sebagian besar orang yang diinterogasi, bersalah atau tidak, akan mengaku.

Hukuman mereka sangat kejam. Di akhir hari itu, baik Hong Ryun maupun Choe Mansaeng, ditarik tubuhnya sampai hancur, sementara ke-4 pria lainnya dihukum gantung. Hukum juga menetapkan kalau untuk membunuh keluarga mereka sampai generasi ke-3, jadi semua ayah mereka dipenjara dan anak-anak mereka digantung. Kekayaan dan properti mereka disita dan istri-istri mereka dijadikan budak.

Saudara dan para paman dari kriminal semuanya dicambuk sebelum dikirim ke pengasingan.

King Gongmin - Queen No Guk tomb, Gaesong North Korea
After King Gongmin Death
Setelah kematian Raja Gongmin dan Raja U naik takhta pada bulan ke-9 tahun bulan, th 1374, Menteri Yi Inim, bersama penasehat dan pengawalnya, menjadi sangat berpengaruh di Kerajaan Goryeo. Bersama sekutu-sekutunya, Ji Yun, Im Gyeonmi, Yeom Heung, dan Choe Yeong, Kepala Militer Goryeo,  Yi Inim segera menyingkirkan semua musuhnya di dewan istana dengan mengeksekusi, membuang dan pengunduran diri paksa, dan membalik kebijakan Raja Gongmin, termasuk keputusannya untuk pro-Ming dan anti-Yuan.

Di awal th 1377, ada konflik antara Yi Inim dengan sekutunya, Ji Yun yang sudah mendapatkan posisi tinggi pada bulan ke-12 tahun sebelumnya.
Saat Ji Yun gagal mendapatkan dukungan dari anggota Dewan Istana, Ji Yun ingin mencoba satu usaha untuk melindungi dirinya yaitu dengan pergi langsung menghadap Raja di Balairung Istana.

Ketika Ji Yun melihat Raja U yang masih berusia 13 tahun itu ditemani oleh Yi Inim dan Jendral Choe Yeong (kelak akan menjadi Ayah mertua Wang U/Raja U), mereka terlibat adu argumen dan saling teriak.

Di tengah adu argumen itu, Ji Yun menuduh Yi Inim punya andil dalam pembunuhan Raja Gongmin karena Yi Inim dan Hong Ryun ada hubungan keluarga secara hukum (Mertua Hong Ryun juga bermarga Yi, kemungkinan satu keluarga).
Ji Yun akhirnya diseret keluar istana dan ditahan. Dia dieksekusi beberapa bulan kemudian.

Kang Min Soo thought :
Jika pembunuhan Raja Gongmin dianggap sebagai taktik politik, yang diatur oleh Yi Inim yang menutupi jejaknya dengan menjadi penyelidik untuk kasus yang dia lakukan sendiri dan dengan cepat menyingkirkan penjahatnya yang bertindak sesuai perintahnya, itu pasti akan membuat kisah pembunuhan dalam Goryeosa patut dipertanyakan.

Apa mungkin Jajewi itu adalah organisasi yang luar biasa yang diciptakan oleh seorang Raja yang berpandangan maju dan semua cerita dari kemerosotan moral Raja serta perintah2nya pada para pria untuk menodai selir2nya sendiri, hanya karangan sarjana Confusius awal dinasti Joseon yang ingin menggambarkan Raja terakhir Goryeo sebagai Raja yang merosot di akhir pemerintahannya.

Bisa dikatakan pembunuhan ini masih misteri dan tidak terjawab siapa sebenarnya yang ada di belakangnya.
Kang Min Soo mengutip Voltaire ;
History after all nothing but a pack of tricks we play on the dead

 

Notes :
Aku menemukan bukti tertulis kalau Choe Young memang benar ayah mertua Wang Wu/ King U - Raja ke 32 Goryeo (jadi merinding.)
Dari Poetry and Music of the Classic Age, page 176 - diterjemahkan oleh Tae Hung Ha - Yonsei University Press, 1960
Just FYI saja :)



Sources :
http://world.kbs.co.kr/english/program/program_koreanstory_detail.htm?No=29583
http://books.google.co.id/books?id=1cPvTUpEc08C&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false
http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Gongmin_of_Goryeo

Saturday, October 13, 2012

Choe Yeong statue

Credit : http://www.flickr.com/photos/93127755@N00/5153461425/in/photostream/

Akhirnya menemukan patung Choe Yeong Jang Gun. Mungkin patung di Museum Seoul ini yang dilihat Eun Soo. Kelihatan jelas dari matanya, Choe Yeong memang orang yang jujur dan tegas.Dipikir-pikir...ada miripnya juga bentuk tulangnya dengan yang dibawah ini wkkk...

Bentuk mulutnya mirip juga ya ama patungnya kkk..

Sunday, October 7, 2012

The Qi Siblings of Goryeo

Keluarga Qi atau Ki adalah keluarga bangsawan Goryeo terkemuka. Dua yang terkenal adalah :
1. Ki Cheol
2. Ki Ja O

1.Ki Cheol
Nama Mongolnya, Bayan Bukha. Lahir di Haengju - Goryeo
Memiliki kekuasaan besar di Goryeo. Apalagi sejak adik perempuannya, Ki Ja O diangkat menjadi istri kedua Raja Yuan terakhir.

Ki Cheol akan dihukum mati tahun 1356, berarti benar kata Eun Soo saat menjawab pertanyaan Ki Cheol tentang hari kematiannya yang dijawab sekitar 4 atau 5 tahun lagi. Karena Eun Soo tidak tahu pasti itu tahun berapa.
(Kalau itu th 1351 berarti 5 th lagi Ki Cheol akan meninggal.)

2. Ki Ja O atau Ratu Ki/Qi Empress
Nama Mongolianya : Öljei Khutugh (? - 1369/70)
Lahir di Haengju - Goryeo.
Salah satu Ratu dari Raja Toghun Temür Khan atau Ukhaantu Khan dari Dinasti Yuan. Toghun Temur adalah Raja terakhir dinasti Yuan, dia juga Raja yang sama yang disinggung dalam kisah Yi Tien Tu Lung Ci/To Liong To karya Chin Yung.

Ratu Ki adalah Ratu yang ambisius, dia menempatkan Kasim Goryeo Bak Bukhwa sebagai mata-matanya dan ingin memaksa Raja Yuan untuk menyerahkan takhta pada anak yang ia lahirkan, Ayurshiridar.
Raja Yuan tahu rencana Ratu Ki dan dia tidak terlalu menyukainya. Raja Yuan jadi menjauh dari Ratu Ki.

Toghun Temür Khan - Ayah Ratu Nogook
Sementara itu di Goryeo, Kakak Ratu Ki, Ki Cheol mencoba mengancam posisi Raja Gongmin. Raja Gongmin akhirnya membasmi keluarga Ki karena pemberontakan pada tahun 1356.
Ratu Ki marah dan memilih Tash Temur atau P. Deok Heung sebagai Raja baru Goryeo dan mengirim pasukan ke Goryeo.
Pasukan Mongol dikalahkan oleh pasukan Goryeo di sungai Yalu. Oleh siapa lagi..pasti Choi Young.


I need a reason to upload his picture again ^_^
Saat Dinasti Yuan mulai jatuh karena perlawanan Ming-kauw/kelak Dinasti Ming - Cina. Ratu Ki lari ke Yingchang. Setelah Raja Yuan meninggal, anak Ratu Ki akhirnya menggantikan ayahnya dan Ratu Ki jadi ibu suri.

Tapi kemudian Ratu Ki menghilang. Kemungkinan besar dia ditangkap oleh pasukan Ming Cina saat keluarga Raja Yuan melarikan diri. Ada mitos yang menyebutkan kalau Ratu Ki sedang hamil saat ditangkap pasukan Ming. Dia kemungkinan besar dinikahi oleh Hongwu atau Zhu Yuanzhang/Raja pertama dinasti Ming. (Tapi cerita tentang Ratu Ki yang dinikahi Hongwu ini mitos di Cina, yang aslinya tidak tahu.)

3. Ki Won
Hanya muncul dalam drama Faith, dia adik lelaki Ki Cheol. Tapi tidak jelas juga berapa sebenarnya jumlah saudara kandung Ki Cheol.
Ki Won digambarkan sebagai orang yang hanya melakukan perintah dan keinginan kakaknya, Ki Cheol. Dia terbunuh saat pasukan istana menyerang kediaman Ki.

Sources :

Qi Empress/wiki
Toghun Temur/wiki

Tuesday, August 28, 2012

General Choi Young - Guardian of Goryeo Dynasty


Introduction :

Choi Young, lahir th 1316 di Cheorwon, Propinsi Gangwon sebagai putra dari pejabat sipil. Sejak kecil, Choi Young telah memiliki tubuh yang kekar dan kekuatan yang luar biasa.
Meskipun dilahirkan dalam keluarga pejabat sipil, Choi Young suka membaca buku strategi militer dan menguasai seni bela diri.

Choi Young memulai karirnya sebagai petugas militer dengan menekan bajak laut Jepang di yang sekarang disebut propinsi Chungcheong. Bajak laut Jepang sudah merampok pantai Korea selama hampir 40 th pada abad ke-14.
Dengan mengalahkan bajak laut ini, Choi Young mampu menjadi Jenderal.

Meskipun dilahirkan dari keluarga berada, Choi Young sejak awal memiliki sifat sederhana. Cara hidupnya digambarkan sebagai cara hidup pejuang. Choi Young tidak terlalu mempedulikan baju yang dipakai atau makanannya. Dia bahkan menolak kain-kain halus dan kesenangan lain meskipun ia menjadi terkenal dan bisa dengan mudah menikmati semuanya.

Choi Young tidak menyukai orang yang menginginkan barang2 mahal dan ia menganggap kesederhanaan sebagai suatu kebaikan.

Motto Choi Young yang diwariskan oleh ayahnya, "Jangan menjadi silau akan emas/kekayaan."

Choi Young Jang-gun (Source : sojuandi)

Military Career :
Th 1352, di usianya yang ke-36, Choi Young menjadi pahlawan nasional karena berhasil menghancurkan pemberontakan Jo Il Shin yang mengepung istana dan membunuh banyak pejabat.

Th 1355, membantu Yuan mengatasi pemberontakan Turban Merah. Karena Goryeo sangat bergantung pada Yuan, maka Goryeo wajib membantu Yuan. Jend. Choi Young dikirim ke Yuan untuk membantu memberantas pemberontakan. Dia berhasil memenangkan hampir 30 pertempuran yang berbeda. Keberhasilan ini membuatnya semakin terkenal dan dipuja di Goryeo.
Choi Young pulang ke Goryeo dan menghadap Raja Gongmin. Ia melaporkan masalah internal dinasti Yuan. Raja Gongmin jadi punya ide dan merasa ini waktu yang tepat untuk mengklaim kembali daerah-daerah di Utara yang sebelumnya dikuasai Yuan.

Choi Young sekali lagi berperang untuk mendapatkan kota2 di Barat Sungai Yalu demi Raja Gongmin dan Goryeo.

Choi Young sempat menjadi Walikota Pyongyang dan usahanya untuk meningkatkan produksi pangan dan memberantas kelaparan membuatnya semakin terkenal dan disebut sebagai Pahlawan Nasional.

King Gongmin - Queen Nogook/Nogook Daejang Gongju

Th 1363, Choi Young semakin cemerlang saat seorang Menteri berkuasa bernama Kim Yon-an mencoba menggulingkan pemerintahan. Choi Young mengumpulkan kekuatan-nya dan mengalahkan 10ribu pasukan Yuan yang menyerang Goryeo untuk membantu Kim Yon-an.

Penghianatan yang dialami Choi Young
Raja Gongmin merasa bahwa nyawanya akan diselamatkan oleh pendeta Budha. Raja mengangkat seorang biksu bernama Shin Don menempati posisi yang strategis di kabinetnya dan membiarkan biksu itu memiliki pengaruh besar.

Awalnya, Shin Don benar2 menunjukkan perhatian pada kehidupan rakyat yang ditentang oleh para Menteri. Tapi dengan dukungan Raja, Shin Don justru semakin kejam dan korup. Choi Young yang selalu menentang korupsi, menjadi satu-satunya orang di negara itu yang mencurigai Shin Don.
Shin Don merancang tuduhan palsu untuk Choi Young. Sehingga Choi Young dibuang selama 6 tahun. Choi Young hampir saja dieksekusi.

Setelah Shin Don mati, Choi Young dikembalikan lagi ke posisi semula dan langsung diminta menyiapkan armada untuk bertempur dengan bajak laut Jepang dan membasmi sisa kekuatan Yuan di Pulau Jeju.
Pasukan Choi Young, meskipun terlibat pertempuran seru dengan Pasukan Yuan, berhasil membebaskan Pulau Jeju.

Th 1376, Saat Jend. Choi Young sudah berusia 60th, Bajak Laut Wokou merebut Kota Gongju.
Choi Young dan anak buahnya Yi Seonggye menggunakan bubuk mesiu yang diperoleh ilmuwan Cina Choi Mu Seon dari pedagang untuk mengalahkan bajak laut dan mendapatkan kembali Gongju.

Yi Seonggye - King Taejo of Joseon

Akhir Hidup Choi Young (1316-1388)

Dinasti Ming di Cina berhasil mengalahkan Yuan dan menguasai Manchuria juga sebagian dari Timur Laut Goryeo.

Th 1388, Jend Yi Seonggye diperintah untuk menggunakan pasukannya untuk mengusir pasukan Ming keluar dari semenanjung Goryeo dan menguasai Liaodong. Tapi, Jend Yi yang menikmati dukungan dari para pejabat tinggi dan popularitas sebagai Jenderal, memutuskan untuk kembali ke Ibukota, Gaesong dan memicu kudeta.
Insiden ini sangat terkenal dan menjadi tanda pertama dari perubahan suatu Dinasti.
Saat Yi Seonggye kembali ke ibukota. Jend Choi Young sudah menyiapkan pasukan untuk bertempur di istana, tapi kalah dengan pasukan Yi.

Jend. Choi Young kalah dan dibuang ke Goyang. Dia kemudian dipenggal atas nama pemerintahan yang dipegang Yi Seonggye.

Jend. Choi Young tampak tenang seperti biasa saat menghadapi hukuman penggal. Tapi semua toko di ibukota tutup sepanjang hari dan bahkan anak-anak juga para wanita menangis untuk Choi Young.
Choi Young Tomb 
Lokasi : Naeyu-dong (Deogyang-gu Goyang-si)

Sebelum dieksekusi, Choi Young berkata : "Rumput tidak akan pernah tumbuh di atas kuburanku."
Kematiannya adalah kematian yang tidak adil. Dan sejarah membuktikan bahwa memang tidak ada rumput yang tumbuh di atas kuburannya, ini terkenal dengan sebutan Jeokbun yang artinya kuburan merah, karena tanah yang berwarna merah.

Baru pada th 1979, rumput mulai tumbuh di atas kuburan Jend. Choi Young.

Jend. Choi Young telah mempertaruhkan nyawanya beberapa kali demi Goryeo dan kesetiaan itu akhirnya meminta nyawanya.

Sementara Jend Yi Seonggye mendirikan Dinasti baru. Yaitu Dinasti Joseon. Yi Seonggye adalah Raja pertama Joseon. Raja Taejo.
Dinasti Goryeo akhirnya menghilang dalam sejarah.

Peninggalan Choi Young
Hidup Choi Young dan juga dinasti Goryeo telah berakhir, tapi sang Jenderal terus hidup dalam hati dan ingatan masyarakat.
Choi Young terkenal sebagai seorang pria yang berintegritas yang mengikuti nasihat ayahnya untuk tidak tergiur oleh emas.

Rakyat mengagumi Choi Young karena kejujuran dan kegagahannya. Dan menyebutnya sebagai Penyelamat Negara.
Visi Choi Young terus berlanjut sampai sekarang, dan terus hidup sebagai kekuatan yang mendorong Militer Korea.

Kuil Choi Young
Lokasi : Desa Daeseori, Jeju. 155 Daeseo-ri Chuja-myeon, Jeju.
Telp : 064-710-6656

Kuil Jend. Choi Young terletak di atas tebing barat laut Pulau Chujado SD Daeseo.

Kuil itu punya tanda : Kuil Choi Young, Batas Terlarang.
Ada tanda dengan ukiran : Monumen Terlarang. Ditempatkan di bagian depan, tapi banyak hurufnya yang sudah tidak jelas lagi.

Di altar tertulis : Jenderal Besar Choi Young

Latar belakang pendirian Kuil
Dalam th ke-23 pemerintahan Raja Gongmin - Goryeo (1374). Tamra meminta Jend Choi Young untuk menangkap semua pengungsi Yuan di P. Jeju.
Saat Jend Choi Young berlayar ke Jeju, ia harus berhenti di P. Chujado karena angin keras. Dari tanggal 24 -28 Agustus 1374.
Choi Young juga berhenti di pulau itu dalam perjalanannya pulang, dari 23 September - 10 Oktober setelah menangkap semua pengungsi.

Choi Young tidak berpangku tangan saat menunggu angin berhenti. Choi Young mengajar penduduk Pulau Chujado cara membuat jaring untuk menangkap ikan. Jaring ala Choi Young benar2 membantu kehidupan penduduk Chujado.
Penduduk P. Chujado mendirikan kuil ini sebagai bentuk terima kasih pada choi Young. Mereka juga berdoa setiap hari Raya Budha dan setiap Desember dari kalender bulan.

Selain itu, kuil ini didirikan karena Jend Choi Young juga sering melindungi pulau ini dari serangan Jepang di akhir dinasti Goryeo.

Kuil yang kita lihat sekarang dibangun kembali th 1974. Bangunannya memiliki 3 unit di depan dan 2 unit di samping.

Gerakan Choe Yeong dalam Taekwondo
Choe Yeong /45 gerakan dalam Taekwondo dinamakan berdasar nama Jend Choi Young, Jend besar Dinasti Goryeo abad 14.
Choi Young mendapat penghormatan besar karena kesetiaan, patriotisme, dan kerendahan hatinya. Dia dieksekusi oleh anak buahnya, Jend Yi Seonggye, yang kelak akan menjadi Raja pertama Dinasti Joseon.

Kapal Perang dengan nama Choi Young :

South Korean navy's Choi Young KDX-II destroyer (Source)





Related link : Faith
Sources :
http://en.wikipedia.org/wiki/Choe_Yeong
Choi Young Shrine
Jimsinkorea
KBS-Choi Young
King Gongmin
King Taejo

Sunday, May 13, 2012

Stories about King Sejo

1. Pohon Pinus Raja Sejo

Sebuah pohon pinus, berdiri dengan anggun sekitar 2 (dua) kilometer di arah jalan masuk kuil Beopjusa, Gunung Songnisan. Itu bukan pohon pinus biasa, tapi pohon pinus yang sudah berusia 600 th lebih dengan tinggi sekitar 14,5 m dan lingkar 4,77 m.
Hebatnya lagi, pohon pinus ini PNS dengan gelar Jeongipumsong atau setara Menteri Kerajaan tingkat dua. Haiyah...aku bingung siapa yang akan menerima gajinya ya haha..

Ceritanya gini, Dalam th ke-10 pemerintahan Raja Sejo (Suyang Dae Gun) th 1464, Raja ingin mengunjungi Kuil Beopjusa. Tandu Sejo melewati pohon pinus itu, lalu kesangkut salah satu cabang pinus yang menggantung ke bawah.
Raja Sejo berkata "Tandunya tidak bisa bergerak", tiba-tiba pohon pinus itu mengangkat cabangnya dan tandu Raja bisa lewat dengan selamat.

Satu cerita lagi, Raja Sejo menghindari hujan dan berteduh di bawah pohon pinus itu.
Karena dua insiden ini, Raja akhirnya menganugerahkan gelar Jeongipumsong untuk pohon pinus itu untuk memuji kesetiaan si pohon.

Lukisan Raja Sejo di Songnisan

Tapi menurutku itu karena Raja Sejo sangat mengharapkan pengakuan anak buahnya. Seperti dalam drama, Sejo ingin sekali mendapatkan pengakuan dari para Sarjana seperti Seong Sam Mun, Pak Paeng Nyeon, Lee Gae, dll tapi mereka sama sekali tidak sudi. Seung Yoo juga meludahi Raja Sejo dan tidak sudi mengakuinya sebagai Raja.
Jadi, saat melihat ada pohon yang sepertinya menghormatinya, Sejo langsung tersentuh hatinya dan memberikan jabatan Menteri pada pohon itu. (Kalau manusia tidak mau mengakuinya, pohonpun jadi haha..)

Data Pribadi Pohon Pinus :
Klasifikasi : Sebagai Monumen Alam No. 103
Nama Properti : Pohon Pinus Jeongipum dari Songni
Jenis : Pohon Besar Tua
Jumlah : 1 batang pohon
Tanggal pengukuhan : 12 Maret 1962
Alamat : 17-3, Sangpan-ri, Naesongni-myeon, Boeun-gun, Chunchoengbuk-do. Korsel.
Pemilik : Kuil Beopjusa (berarti gajinya ke kuil)
Manager : Boeun-gun

www.foreston.go.kr/english/culture/old_17.html

2. King Sejo and Munsubosal

Alkisah, Raja Sejo sedang berdoa di Sangwon-sa, Odaesan. Dia tertarik dengan mata air Odaecheon yang jernih. Raja Sejo memutuskan untuk mandi dan menggantung jubahnya di satu tempat.
Saat Raja Sejo sedang mandi sendirian, seorang biksu muda lewat dan tanya apa Raja ingin digosok punggungnya. Raja menerima tawaran biksu muda itu.

Setelah itu, Raja pesan "Dimanapun kau pergi, jangan bilang siapapun kalau kau membasuh tubuh agung Raja."

Biksu muda itu tersenyum dan menjawab, "Dimanapun kau pergi, jangan bilang siapapun kalau kau bertemu Munsubosal (Orang suci Budha) dari dekat," lalu biksu muda itu lenyap.

Raja Sejo terkejut dan melihat ke sekeliling tapi tidak melihat jejak biksu muda itu. Lalu Raja menyadari kalau penyakitnya (ada yang menulis tumor, ada juga yang menyebut semacam penyakit kulit yang tidak bisa disembuhkan) telah lenyap. Sejo sembuh.

Tergerak karena anugrah itu, Raja Sejo memerintah seorang pelukis untuk membuat lukisan dan ukiran kayu dari biksu muda itu (Munsudongjasang). Sekarang menjadi National Treasure No. 221.

Lokasi kuil Sangwon-sa: Odaesan National Park.
http://www.lifeinkorea.com/Travel2/414

www.flickr.com/photos/nathanstoneham/

3. Munjangdae Legend

Satu hari, seorang anak lelaki bernama Wolkwang-taeja (Putra Mahkota Sinar Bulan) mendatangi Raja Sejo yang memerintahnya untuk mendaki Youngbong (Suatu Puncak bernama Young) dan berdoa disana.
Raja Sejo mematuhinya dan mendaki puncak itu bersama anak buahnya. Mereka mengira mereka sudah di Nirwana karena saat di atas, tiba2 mereka dikelilingi oleh awan dan kabut.

Puncak itu sangat curam, sehingga mereka membawa tali dan peralatan agar bisa sampai puncak Young. Setelah sampai atas, mereka menemukan sebuah buku. Buku itu tentang Samgang oryun (Tiga prinsip dasar dalam hubungan antar sesama manusia dan lima aturan hubungan antar manusia)

Raja Sejo sangat terkesan dengan buku itu, lalu mulai membahas isinya dengan rombongan-nya sepanjang hari. Sejak itu, puncak itu diberi nama Munjangdae. Juga disebut Woonjangdae (Woon artinya awan), karena puncak itu selalu dipenuhi awan.

Munjangdae = Sebuah puncak dengan ketinggian 1054 m diatas permukaan laut, berlokasi 6 km dari timur Kuil Beopjusa


4. King Sejo and the cat

Raja Sejo itu banyak musuhnya, itu jelas. Satu hari, Raja mengunjungi Kuil Sangwonsa, Gunung Odaesan untuk berdoa. Tanpa ia ketahui, ada seorang pembunuh yang bersembunyi di dalam kuil, tepatnya di bawah meja di altar patung Budha.

Saat akan masuk ke dalam kuil, seekor kucing menggigit dan mencakar lengan baju Raja. Seperti menghalangi Raja masuk ke dalam. Raja Sejo curiga dan berpikir kalau insiden ini misterius. Ia memerintah pengawal memeriksa lingkungan sekitar kuil dan akhirnya menemukan pembunuh itu.
Nyawa Raja Sejo selamat. Untuk memperingati peristiwa ini, ia memerintah untuk membuat patung kucing dari batu yang duduk di depan Mansujeon Hall. Raja juga segera memerintah renovasi Kuil Sangwonsa th 1466.

Thursday, November 10, 2011

Danjong Cultural Festival

Source : sunxez, King Danjong and Queen Jeongsun

Festival khusus untuk Raja Danjong (Raja ke 6 Joseon). Raja yang mungkin memiliki jalan hidup yang paling tragis sepanjang 500 th sejarah Dinasti Joseon.

Danjong diangkat jadi Raja menggantikan ayahnya saat berusia 12 th. Tapi ia segera diturunkan dari takhta oleh pamannya Suyang Daegun (Raja Sejo) dan dibuang ke Semenanjung Cheongnyeonpo di Yeongwol.
Atas perintah Raja Sejo, ia dipaksa minum racun di kediaman Gwanpungheon dan meninggal dunia dalam usia 17 th.

Raja Sejo ingin membuat kematian Danjong seperti kecelakaan, sehingga ia mengurung Danjong dan memanaskan ondol (pemanas lantai) yang menyebabkan kebakaran di pondok Danjong.

Untuk memperingati ini, Kediaman Yeongwol mengadakan Festival Budaya Danjong setiap tahun sejak th 1967 untuk menenangkan roh Raja Danjong dan anak buah setianya.
Festival ini diadakan di makam Raja Danjong - Jangneung Royal Tomb, Rumah Gwanpungheon dan tepi sungai Donggang.

Dari ke-27 Raja Dinasti Joseon. Raja Danjong adalah satu-satunya Raja yang tidak diberikan upacara khusus kerajaan saat pemakamannya.

Gukjang, atau upacara pemakaman kenegaraan diadakan pertama kali pada th 2007. Sekitar 550 th setelah kematiannya.

Upacara ini dimulai dari Rumah Gwangpungheon, iring-iringan pemakaman meninggalkan Deokpo-ri, melewati Jembatan Donggangdaegyo ke Jangneung Royal Tomb. Ritual di Kuil Changjeolsa dan upacara terakhir di Jangneung Royal Tomb.

Festival ini diadakan setiap : Akhir April s/d Awal Mei. Untuk th ini sudah selesai, tgl 29 April s/d 5 Mei 2011.

Alamat : Gangwon-do Yeongwol-gun Yeongwol-eup.
Info : +82-33-370-2226~7


Source : sunxez Festival Danjong ke-44




Source : sunxez

Source : DCF
Related link : PM

Tuesday, November 16, 2010

Han Jung Nok - The Memoirs of Lady Hyegyong - an Overview

Note :
Mungkin terharu karena Jeongjo harus membakar Geum Deung Ji Sa dan tidak bisa memenuhi wasiat ayahnya. Raja sebaik itu harus berkorban karena tekanan politik, mungkin juga kagum dengan visi dan mimpi Jeongjo, sehingga aku cari dokumen tentang Memoirs of Lady Hyegyong (Ibu Jeongjo) dan mempelajarinya.

Mungkin juga karena ingin tahu orang seperti apa Sado Seja itu, apa benar dia "gila"? Postingan ini sebenarnya adalah catatan pribadiku. Jadi sorry kalau isinya banyak :)

The Memoirs of Lady Hyegyong
The Autobiographical Writings of a Crown Princess of Eighteenth-Century Korea
(JaHyun Kim Habous)

329 hlm, April 1996
USD 26.95

Hanjung nok, yang sering diterjemahkan sebagai "Catatan yang dibuat dalam penderitaan", terdiri dari serangkaian otobiografi yang ditulis oleh Lady Hong, janda Putera Mahkota Sado, yang dihukum mati tahun 1762, oleh ayahnya sendiri, Raja Yeongjo. Dengan cara dikubur hidup-hidup dalam penyimpanan beras selama 9 hari.

Memoir ini diawali dengan masa kecil bahagia Lady Hong, sayangnya masa bahagia itu sangat singkat. Pada usia 9 tahun, tiba-tiba dan tanpa diduga, masa kecilnya berakhir ketika dia dipilih sebagai pendamping Putera Mahkota.

Bagi orang tuanya dan anggota keluarganya, pemilihan ini adalah kehormatan yang sangat besar, tapi bagi seorang anak usia 9 tahun ini bukan lain dari sebuah malapetaka, yang membuatnya terperanjat dan berduka cita. Dia terlalu muda untuk benar2 menghargai apa arti pemilihan ini baginya dan bagi keluarganya, dia putus asa dengan apa yang tiba-tiba terjadi dan menimpanya.

Kebingungan dan kepedihan-nya sangat jelas terasakan meskipun sudah setengah abad berlalu, ketika dia mengingat kembali setelah pemilihan yang menentukan itu :

Ketika aku tiba di rumah, tanduku dibawa masuk melewati ruang tamu, dan ayahku datang untuk membantuku keluar, mengenakan busana resmi. Ayah dan Ibu terlihat sangat bingung, dan juga sangat berbeda, sehingga aku menangis dan memeluk mereka berdua.
Ibu juga mengenakan busana resmi untuk upacara, dan menutupi meja dengan kain merah. Ibu bertindak sangat teratur, membungkuk empat kali saat menerima surat dari Ratu, dan dua kali saat menerima surat Lady Sonhui (Ibu Putera Mahkota).

Setelah itu, orang tuaku memanggilku dengan panggilan berbeda, menggunakan bahasa resmi untuk bercakap-cakap denganku. Para tetua di keluarga juga memperlakukanku dengan penuh hormat, membuatku malu. Ayahku, gelisah dan ketakutan, terus saja memperingatkan dan memberikan instruksi padaku mengenai banyak hal, seperti aku sudah melakukan suatu kejahatan, dan aku berharap aku bisa menyembunyikan diriku. Hatiku hancur karena aku mungkin harus meninggalkan orang tuaku dan tidak tertarik dengan apapun.

"Ketika hari pernikahan semakin mendekat, aku menangis terus karena aku akan meninggalkan orang tuaku," tulis Lady Hong, setengah abad lebih kemudian (kalau tidak salah setelah 60 tahun)

Hidup yang stabil dan bahagia

Sepuluh tahun pertama kehidupan-nya di istana relatif stabil dan bahagia. Sangat disayang oleh Raja Yeongjo, Ayah Mertua Raja-nya, dan Ladu Sonhui, Ibu Putera Mahkota.

Lady Hong mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan istana dengan cepat dan sukses. Dan ketika ia melahirkan seorang anak lelaki (Jeongjo) calon penerus takhta, maka kesuksesan-nya sebagai pendamping Putera Mahkota tampak meyakinkan.

Di saat bersamaan, keluarganya juga makmur. Ayahnya, setelah lulus Ujian Sipil Tingkat Lanjut, langsung ditunjuk untuk menduduki posisi penting di pemerintahan. Tahun-tahun pertama ini sepertinya adalah saat2 paling membahagiakan baginya, kemudian datanglah tahun2 penuh penderitaan yang panjang di istana. Karena hidupnya akan segera dihadapkan dengan tragedi yang mengambil nyawa suaminya, Putera Mahkota.


Sado Seja

Lady Hong mencatat kalau awal mula Putera Mahkota mulai memiliki masalah dengan ayahnya adalah begitu dia lahir. Lady Hong menelusuri kembali, itu dimulai saat Raja Yeongjo memutuskan untuk menempatkan bayi mereka di istana tersendiri yang cukup jauh dari istana Raja. Menurut Lady Hong, jarak yang jauh akan membuat hubungan emosional juga semakin menjauh. Ini membuat hubungan ayah dan anak tidak baik :

"Penampilan fisik (Putra mahkota kecil, Sado) luar biasa, karakternya juga berbakti, ramah dan cerdas. Jadi, dia bisa menjadi orang yang paling berbudi luhur, jika orang tuanya bisa berdekatan dengannya dan mengajarnya, mencintainya, dan membimbingnya di saat bersamaan. Tapi justru, orang tuanya tinggal jauh darinya, sehingga kesalahan kecil itu jadi besar dan dengan berjalan-nya waktu, akhirnya terjadi pertentangan."

Putera Mahkota tumbuh dengan sedikit sekali bimbingan atau perhatian dari orang tua. Dikelilingi oleh banyak pelayan wanita yang mengijinkannya melakukan apapun keinginan-nya, membuat Putera Mahkota tidak disiplin, yang semakin tidak menyenangkan Raja. Lady Hong menjelaskan :

"...meskipun sulit menunjuk siapa sumber dari semakin bertentangan-nya antara Raja dan Putera Mahkota, tapi Putera Mahkota mulai merasa takut dengan ayahnya, sementara ayahnya mulai mencurigai kalau puteranya tidak tumbuh sesuai dengan harapan-nya dan ekspektasinya. Lebih lagi, karakter antara ayah dan anak benar-benar berbeda. Raja Yeongjo cerdas dan penuh kebaikan, sangat menguasai banyak hal, dan sigap bertindak, sementara Putera Mahkota segan dalam berbicara dan ragu-ragu dalam bertindak. Meskipun ia memiliki pemikiran yang mulia dan berbudi, dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan paling biasa. Dia selalu lambat menjawab, dan kalau itu Raja yang bertanya padanya, dia semakin tidak bisa menjawab, meskipun dia sebenarnya memiliki pendapatnya sendiri mengenai masalah itu. Dia selalu bertanya-tanya bagaimana menjawabnya, yang membuat kecewa Raja."

Tidak Ada Perhatian Untuk Anaknya

Tidak adanya perhatian antara ayah dan anak semakin membuat buruk keadaan. Sang ayah, kurang mengerti dan memperhatikan anaknya, menjadi tidak bahagia dengan anaknya.
Sang anak, semakin ketakutan dan semakin sakit hati dengan kekerasan ayahnya pada dirinya. Ini semakin memburuk sehingga setiap kali mereka bertemu, kemarahan Raja pada anaknya mendominasi kasih sayang Raja untuk Putera Mahkota.

Putera Mahkota, selalu ketakutan melihat Raja dan bertindak sangat hati-hati, seolah-olah anggota dewan adalah cobaan berat yang harus ia hadapi. Ini semua menjadi penghalang besar antara keduanya. Lady hong mengingat mulailah "kesakitan" Putera Mahkota muncul karena ketakutan-nya akan Ah Ba Mama dan kegagalan Putera Mahkota untuk mendapatkan kasih sayang Raja. Lady Hong menulis :

"Putera Mahkota selalu berbakti pada orang tuanya, tapi tidak pernah bisa mengungkapkan perasaan-nya secara terbuka. Raja tidak pernah mengerti anaknya dan selalu memperlihatkan ketidak-sukaan dalam kata-kata dan tindakan-nya, dan tidak bisa memaafkan anaknya. Ini membuat Putera Mahkota menjadi semakin ketakutan pada ayahnya, sampai akhirnya dia jatuh sakit. Di saat-saat ini, dia akan menyalurkan emosinya pada para kasim dan juga dayang-dayang, atau bahkan, seringkali, pada diriku."

(Note : Kalau istilah kejiwaan sekarang mungkin anak itu tergolong introvert, tapi berkembang jadi abusive)

Sepertinya penyakit ini - sejenis kegilaan yang menguasai Putera Mahkota dalam waktu tertentu - yang membuatnya menjadi "phobia pakaian" (Note : kalau tidak salah Sado lebih suka mengenakan pakaian berkabung) dan juga melakukan pembunuhan dan pemerkosaan pada dayang dan pelayan bersamaan dengan kebrutalan-nya melawan keluarganya sendiri dan dirinya sendiri.


King Yeongjo (Left) and King Jeongjo (Right)

Kerenggangan Ayah dan Anak

Sekitar bagian tengah memoir ada ilustrasi yang menunjukkan perkembangan tragedi antara Ah Ba Mama dan puteranya. Raja Yeongjo, yang marah dengan pembunuhan yang dilakukan Putera Mahkota, mengunjunginya tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan untuk melihat masalah ini sendiri. Yeongjo tanya apa laporan kejahatan-nya itu benar. Tanpa ingin berusaha menyembunyikan-nya, Putera Mahkota dengan bebas mengakui kesalahan-nya, dan mencoba menjelaskan kelakuan-nya dengan berkata :

"Ini mengurangi kemarahan terpendam saya, Yang Mulia, membunuh orang atau binatang di saat saya merasa menderita atau dalam tekanan."
"Raja bertanya, mengapa demikian?"
"Karena saya terluka, jawab Putera Mahkota"
"Mengapa kau terluka? Tanya Raja"
"Saya terluka karena Anda tidak mencintai saya dan juga, saya ketakutan pada anda karena anda terus saja memarahi saya, Yang Mulia."
...Raja tampaknya mulai merasakan perasaan belas kasihan untuk anaknya. Raja menenangkan diri dan berkata, aku akan mengubahnya di masa mendatang."


"I am hurt because you do not love me and also, alas, I am terrified of you because you constantly rebuke me, Sire."


Satu insiden paling tidak terlupakan dalam memoir itu, yang juga menunjukkan kecerdasan luar biasa Lady Hong, terjadi sesaat setelah kematian tragis Putera Mahkota.

Meskipun kemarahan Raja Yeongjo pada anaknya terus berlanjut bahkan setelah kematian anaknya yang penuh siksaan, perhatian dan rasa cemasnya pada cucunya (yang sekarang jadi pewarisnya - calon Raja Jeongjo) menjadi meningkat karena tragedi ini.

Lady Hong, tahu benar akan posisi anaknya, melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk memastikan Raja tetap menyayangi puteranya. Lady Hong minta Raja membawa anaknya dan bertanggung jawab akan pendidikannya sebagai pewaris takhta, meskipun ini berarti dia harus berpisah dengan puteranya yang masih berusia 10 tahun.

Saat kritis terjadi sekitar setengah tahun setelah kematian Putera Mahkota, ketika Lady Hong menghadap Raja dan cucunya. Ketika Lady Hong akan pergi meninggalkan mereka, anaknya menangis tidak terkendali, tidak bisa menahan kesedihannya dipisahkan dari ibunya.
Melihat kesedihan cucunya, Raja Yeongjo mungkin sedikit kesal atau juga cemburu, berkata kalau sebaiknya cucunya tetap tinggal bersamanya. Lady Hong segera merasakan potensi ketidak sukaan Raja dan akan mengancam posisi puteranya, maka Lady Hong bisa melakukan hal yang terbaik, meskipun ini menghancurkan hatinya. Mengingat kejadian itu, dia menulis :

"Memikirkan kalau Raja mungkin akan merasa tersinggung, karena dengan semua kasih sayangnya pada cucunya, anak itu menolak semuanya karena merindukan ibunya, aku berkata, Jika dia harus pergi dengan saya, dia akan merindukan Yang Mulia, jika dia pergi dengan Yang Mulia, dia akan merindukan saya. Jadi tolong ambil saja dia, karena dia juga akan merasakan hal yang seperti ini kalau jauh dari Yang Mulia."

Kesedihan Ibu


Yang membuatnya sedih bukan karena penderitaan-nya sendiri tapi anaknya yang berusia 10 tahun tidak bahagia karena dipisahkan darinya, khususnya karena dia melihat anaknya "menangis sedih karena ibunya tidak menyayanginya dan memaksanya untuk pergi." Dia benar2 kuat. Menekan perasaan-nya sendiri, dia berhasil mempertahankan ego Raja dan memastikan posisi putranya. Raja, senang dengan jawaban Lady Hong dan pergi membawa putranya.

Meskipun fokus utama Han Jung Nok adalah tragedi Putera Mahkota Sado dan Lady Hong, tapi dalam memoir itu juga mencatat tragedi yang lebih besar lagi.

Di bagian kedua memoirnya, dia mencatat tragedi yang menghancurkan dirinya dan keluarganya setelah kematian Putera Mahkota Sado, seperti ayahnya yang dicabut jabatan-nya dan juga eksekusi tidak adil atas paman dan kakak-nya oleh anak dan cucu-nya sendiri (Raja Jeongjo dan Sunjo).

Tentu saja, ini lebih menyakitkan daripada apapun, karena dia menyalahkan dirinya atas kematian mereka. Selama itu, dia berusaha membersihkan nama ayahnya yang dituduh berkonspirasi membunuh Putera Mahkota Sado dan bahkan dituduh menyediakan tempat penyimpanan beras dimana Putera Mahkota dikubur hidup-hidup sampai meninggal dunia.

Dalam catatan-nya, dia menegaskan kalau ayahnya, sebaliknya sudah melakukan segala cara untuk melindungi Putera Mahkota, dirinya sendiri, dan cucunya. Ayahnya bahkan mempertaruhkan diri dan selalu bermuka manis di depan Raja setelah kematian Putera Mahkota Sado, dan kemudian ini digunakan sebagai bukti oleh musuhnya kalau ayahnya sudah bekerja sama dengan Raja untuk mengeksekusi Putera Mahkota.

Menangis kepada Surga

Di bagian akhir memoir-nya tertulis ketika dia dalam usia 60-an dan 70-an tahun, Lady Hong menangis terus menerus pada surga, mempertanyakan mengapa dia dan keluarganya harus menderita begitu banyak dan juga sangat tidak adil.

Di tahun 1805, di usia 70 tahun, dia kembali ke ingatan-nya satu kali lagi, untuk memberikan catatan-nya sendiri pada kejadian tahun 1762 agar Raja Sunjo, cucunya, ketika dewasa nanti, bisa melakukan keadilan untuk keluarganya dari pihak nenek.

Dia menulis kalau hidupnya sudah menjadi "satu serial bencana yang panjang, dan seperti benang katun yang dipintal dengan indah" dan setiap kata dari memoir itu benar-benar direndam dalam darah dan air matanya.

Hanjung nok is a work of unforgettable vividness, drama, and insight, making it perhaps one of the greatest memoirs composed in han'gul.

a review by Prof. Kichung Kim, English Dept, of San jose State University.



Another Review - by Ed Park



A page from Hanjung nok by Princess Hyegyong
(Seoul, Posungmunhwa, 1978).

Penyimpanan beras, bukan tempat yang bagus untuk mati, 4 kaki kubik, diikat dengan tambang dan ditutup dengan rumput/jerami. Tanpa makanan dan udara. Dan jika itu suamimu yang diletakkan di dalamnya, bisa dimengerti kalau 4 dekade kemudian kau mengatakan penyimpanan itu sebagai "benda itu."

Tahun 1762, Raja Yeongjo memerintah anaknya sendiri Putera Mahkota Sado memanjat masuk ke penyimpanan beras dan masa kegelapan ini dicatat oleh Lady Hyegyong, janda Sado.

Bertahun-tahun, Sado memperlihatkan tingkah laku yang aneh, mungkin yang paling aneh adalah kesulitan-nya dalam berpakaian, suatu masalah yang kadang kala berakhir dengan pembunuhan pelayan yang melayaninya. Dia menghias kediaman-nya seperti ruang pemakaman, dan baju yang ia kenakan setelah berusaha keras, adalah kain katun tanpa warna dengan ikat pinggang, mirip dengan jubah berkabung Korea.

Penyakit Sado (menurut Lady Hyegyong) telah "menyebar dalam dirinya seperti air membasahi kertas," sampai diketahui oleh ayahnya. Yang menimbulkan kemarahan bukan hanya dalam negara tapi juga melanggar ajaran Konfusius tentang berbakti, yang membuatnya menghadapi penyimpanan beras. (Sesuai tradisi, anggota keluarga Raja tidak bisa dieksekusi dengan menumpahkan darah, seperti ditikam atau dipenggal.) Delapan hari kemudian, mungkin selama hujan badai petir (Sado sangat takut petir, phobia kronis), Sado meninggal dunia.

Bagian yang membuat memoir ini sangat mencekam adalah ancaman penghapusan, yang hadir sejak awal. Seperti nama asli/lahir Lady Hyegyong sama sekali tidak diketahui, dihapus oleh tradisi dari catatan keluarga karena dia dipilih sebagai istri Sado.

Ayahnya adalah pelajar yang diangkat menjadi pejabat tinggi begitu dia pindah ke istana. Ayahnya memberi nasihat untuk menyimpan surat2 resmi tentang kelahirannya di rumah. Meskipun ini sangat menyakitkan hati ayahnya. Di usia 60 tahun, atas permintaan seorang keponakan, dia memberanikan diri dan memulai kisah ini, kata pembukanya adalah : "Lalu keluargaku mengumpulkan semua surat-suratku dan sedikit demi sedikit, menghapus semua yang tertulis."

Lady Hyegyong menulis apa yang ia lakukan sepertinya bagaikan mujizat kecil. Dia menulis terus dan bukannya tanpa penyesalan, sebenarnya sebagai istri yang setia, seharusnya dia mengikuti kematian suaminya dengan bunuh diri. Tapi dia memilih untuk tetap hidup demi putranya, Jeongjo. "Pertahankan dirimu." kata ayahnya. "Amankan Pewaris Takhta." Rasa keibuan dan juga tanggung jawab membuatnya setuju, dengan konsekuensi publik yang harus ia hadapi.

Menurut Lady Hyegyong, akar yang membuat insiden imo (1762) adalah keputusan Raja Yeongjo kalau putranya akan "diadopsi" oleh kakak Sado yang sudah lama meninggal. Keputusan menjauhkan pewaris dari rasa bersalah ayahnya, tapi memicu lebih banyak lagi penderitaan.

Ketika Jeongjo jadi Raja th 1776, dia merasa menyesal tidak bisa (atas perintah Yeongjo) memberikan penghargaan penuh pada ayah kandungnya.

Menurut Lady Hyegyong, Jeongjo berniat memperbaiki ini tahun 1804, setelah memberikan takhtanya pada anaknya (Raja Sunjo), tapi sayangnya Jeongjo meninggal dunia tahun 1801.

Lady Hyegyong membawa dimensi kemanusiaan atas kematian sensasionalnya. "Orang melihat kalau karakter aslinya adalah baik," dia menulis, menceritakan kisah di istana atas masa kecil Sado dan saat-saat yang jelas di tengah penyakitnya dimana rasa baktinya masih tetap ada. Misalnya, air mata Sado yang tidak terbendung saat kematian Ratu (yang bukan ibu kandungnya). Tapi ketika ayahnya ada, dan terlihat, Sado diliputi ketakutan dan air matanya berhenti, membuat Yeongjo merasa muak karena menganggap Sado tidak menghormati Ratu.

Lady Hyegyong menyalahkan roh jahat, pelayan-pelayan yang buruk, ketertarikan pada permainan bela diri dan okultisme atas kekacauan mental Sado.

Lady Hyegyong merasa akar dari penyakit ini adalah pemindahan Sado dari kediaman orang tuanya ke kediaman Raja sebelumnya, dimana para pelayan-nya masih setia dengan ingatan akan Raja sebelumnya.
Alasan pemindahan ini adalah karena Yeongjo (putra Raja dan selir) naik takhta setelah pemerintahan singkat kakak-nya yang lebih berhak, Raja Gyeongjong dan menghadapi tuduhan kalau ia berkonspirasi yang menghantui Yeongjo. Memindahkan Sado ke kediaman Gyeongjong yang lama mungkin adalah cara Yeongjo untuk memperlihatkan bhaktinya dan ketidak-bersalahan-nya.

Terlalu cepat dan menyedihkan, hubungan antara Sado dan Yeongjo menjadi tegang, sampai mereka "seperti berperilaku satu sama lain hampir selalu tidak sesuai dengan keinginan-nya," ketika Yeongjo memberikan gelar resmi padanya (di usia 14 th), tekanan dari tugas administratif semakin membebani kondisi mentalnya. Yeongjo orang yang sangat kompeten, Raja yang hebat luar biasa, dia membuat pendekatan yang berani untuk menyelesaikan masalah partai di dewan. Tapi dia juga sangat percaya takhyul.

Lady Hyegyong mencatat kalau Yeongjo menyalahkan anaknya sendiri atas cuaca buruk, dan seringkali membersihkan telinganya sendiri setelah bicara dengan Sado, untuk mengusir sial. Tidak mengherankan, dengan mulai aktifnya Sado di pemerintahan, Yeongjo hanya memberikan "urusan suram dan tidak menguntungkan" padanya, seperti kasus-kasus kriminal.

Dia menceritakan hari saat Sado sekarat dengan ketepatan seorang novelis cerita detektif, sebagian untuk mengatur agar catatan apa adanya (begitu liarnya rumor di seputar insiden imo sampai, Lady Hyegyong mengatakan, "dalam beberapa tahun tidak ada seorangpun yang bisa mengatakan apa sebenarnya kejahatan-nya").

"Dalam saat-saat keruntuhanku," dia menulis, "Aku ingat hanya satu kata dari sepuluh ribu." Ini adalah kesedihan dari perintah luar biasa yang menyuruh.

Tapi mungkin akhirnya, ada keadilan juga, sampai sekarang kita masih bisa membaca kata-kata-nya yang mencatat semua penderitaan-nya.


The Palace


Geum Deung Ji Sa/ Jin Teng Zhi Ci

review by Song Won seop

GDJS adalah dokumen rahasia yang disimpan di sebuah kotak, dengan tujuan dibacakan isinya pada saatnya.

Dalam novel "The Eternal Empire" karya Lee In Hwa, GDJS adalah surat yang ditulis oleh Raja Yeongjo. Raja Yeongjo menyesal karena membiarkan anaknya, Putera Mahkota Sado dibunuh.


Dalam buku, Raja Jeongjo, anak Sado-seja, mencoba menghukum pihak konservatif garis keras, Noron byeokpa, yang menyebabkan kematian ayahnya, dengan mencoba menemukan dokumen rahasia yang lenyap bertahun-tahun, tapi akhirnya tidak berhasil menghukum mereka. Tapi sebagai hasilnya, rencana besarnya untuk melakukan serangkaian perombakan politik menemui kegagalan.

Dalam sejarah aslinya, GDJS bukanlah "dokumen rahasia."

28 Mei 1793, tahun ke-17 pemerintahan Jeongjo. Perdana Menteri Che Jegong, yang berasal dari partai lain, mendukung Raja untuk membuka kembali penyelidikan tentang insiden yang mendorong Sado-seja pada kematiannya.

Permintaan yang berlawanan dengan pemerintahan Raja Yeongjo. "Setiap orang yang mempertanyakan kematian Sado-seja akan dianggap sebagai penghianat," kata Yeongjo.

Dewan istana gempar. Jeongjo memanggil para anggota dewan dan memberikan penjelasan resmi pada mereka.

Intinya, Jeongjo berkata kalau Che Jegong menerima pernyataan tertulis dari mendiang Raja Yeongjo dan menyimpannya diam-diam. Dalam surat itu, Raja Yeongjo mengungkapkan penyesalan-nya atas kematian Sado-seja dan dengan spesifik menulis nama-nama mereka yang bertanggung jawab atas kematian Putera Mahkota.

Tidak seperti di novelnya, Raja Jeongjo tidak memicu kebencian karena dokumen rahasia itu. Melainkan, dia menggunakan-nya untuk membujuk partai oposisi "untuk bekerjasama dalam urusan negara karena dia tidak punya niat untuk mengungkit kembali masa lalu."

Lalu Raja menggunakan kerja sama mereka untuk mengimplementasikan perubahan besar2an dalam pajak dan kemiliteran untuk meningkatkan kehidupan rakyat.

Bukan kebetulan kalau Raja Jeongjo dihargai sebagai satu dari penguasa terbesar sepanjang Dinasti Joseon.

Sources and related links

Political leadership...Korea-google books